EXTRA CHAPTER - 2

165 16 0
                                        

Rasanya canggung duduk dengan tatapan penuh harap yang dia tahu tidak bisa dipenuhi. Kujou menyesap teh yang dihidangkan. Sedikit mengurangi tekanan yang dia terima. Kujou tidak menyalahkan siapapun untuk itu. Dia juga pernah berada di posisi yang serupa. Bahkan sampai sekarang.

Tenang sedikit, Kujou meletakkan cangkirnya. Dia mengangkat wajahnya. Menghadapi tuan rumah yang sudah mengundangnya. "Memang betul kalau sepertinya aku adalah orang terakhir yang anak itu temui, tapi sayangnya aku tidak punya petunjuk apa-apa,"

"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Iori sambil menahan suaranya.

"Sesuatu yang berat dan... sesuatu yang melegakan?" Kujou terdiam sebentar. Kemudian dia menggeleng pelan. "Aku bilang padanya kalau yang dia lakukan adalah hal yang mengecewakan. Aku kira dia tidak akan melakukannya. Aku menyuruhnya untuk kembali, tapi sepertinya janji masa lalu yang anak itu bicarakan lebih penting dari hubungan saat ini,"

Kujou menyelipkan rambutnya ke telinga. Mengerjapkan matanya sekali. "Kita semua-- mungkin hanya aku juga pernah ada pada masa-masa itu,"

"Tidak ada petunjuk," Banri membuang napas berat.

"Jadi, apa yang akan kalian lakukan? Bertahan atau menghadapi badai besar?" tanya Kujou tenang.

Mata Kujou memicing ke arah Iori. Menanti jawaban dari orang yang paling dia tunggu. Dahi Iori terlipat. Mengetuk jari telunjuknya pada meja. Banyak hal yang harus dia pikirkan. Hanya saja, ada satu jawaban yang selalu dia pikirkan. "Aku tidak ingin menyerah padanya,"

Kujou mendengus geli mendengarnya. "Aku juga tidak pernah menyerah pada Zero, tapi sampai sekarang aku tidak bisa bertemu dengannya, meski ternyata Zero lebih dekat dari yang aku kira,"

"Bukankah itu karena Kujou-san tidak mengenalnya?" kata Iori sinis.Tsumugi menatap gugup ke arah Iori. "Iori-san..,"

Mata Kujou berkedut. Mulutnya menjadi pahit. Dia menarik napas kasar. "Jadi, kau merasa mengenal anak itu? Lalu kenapa dia pergi sekarang?"

"Tolong jangan bertengkar," lerai Tsumugi panik.

Iori menyandarkan punggungnya ke kursi. Melipat tangan dengan wajah tertekuk. Melihat diamnya Iori, Kujou tersenyum miring. "Kau masih naif dengan otak cerdasmu,"

"Nanase-san berbeda," gumam Iori pelan. Dia menyentuh dahinya yang mulai panas.

"Kau pikir Zero tidak?" Kujou mendengus jengkel. "Aku pernah berpikiran naif sepertimu. Ternyata sampai sekarang dia menolakku,"

Kujou membuang napas panjang. Kembali menormalkan wajah dan suaranya. "Kau benar, anak itu berbeda. Tidak hanya terhubung dengan penonton, anak itu juga terhubung dengan kalian. Meski aku tidak bisa mengatakan itu hal baik atau hal buruk,"

Mata Kujou mengamati wajah Iori yang kaku. "Aku sudah bisa melihat efeknya. Lebih besar dari yang kita kira, huh?"

Iori membuang wajahnya. Otaknya tidak bisa bekerja. Penolakan terhadap kenyataan membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Kujou berdiri setelah merapikan jasnya. "Aku menantikan pilihan kalian,"

Kujou membungkuk memberi salam pada Otoharu. "Terima kasih sudah mau meluangkan waktumu," kata Otoharu sambil menganguk sopan.

"Sangat disayangkan aku tidak bisa membantu,"

Kujou berjalan ke arah pintu. Saat tangannya menyentuh gagang pintu dia berhenti. Berbalik melihat ke arah Tsumugi dan Iori. "Sepertinya terhubung dengan banyak orang memberi harapan dan keputusasaan yang sama besarnya,"

"Kujou-san?" Tsumugi menatapnya bingung.

"Harus aku akui kalau aku percaya pada anak itu. Aku juga percaya pada hubungan yang dia buat. Termasuk kalian," Kujou menunduk sekali sebelum akhirnya keluar.

Another Note [IDOLiSH7 Fanfiction: RESTART POiNTER] ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang