"Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah, kecuali yang paling baik di antara mereka adalah yang paling lembut terhadap saudaranya."
— (HR. Bukhari)
/-/-/-/-/-/-/-/-/-/-/-/-/-/-/-/-/-/
Langit siang itu mendung. Udara lembap. Angin laut dari arah timur membawa rintik hujan kecil yang menempel di kaca jendela kelas. Zahra duduk di pojok kelas, matanya menatap buku, tapi pikirannya jauh.
Sejak percakapan singkat kemarin, hati Zahra tak tenang. Kalimat yang ia ucapkan kepada Rayyan terus terngiang.
"Kamu cuma diam. Dan diammu lebih menyakitkan."
Zahra menggenggam pena erat. Tangannya sedikit gemetar.
Ia membenci dirinya yang mulai goyah.
Di luar kelas, Rayyan berjalan menuju aula. Hari itu ada latihan presentasi kelompok. Takdir kembali mempermainkannya—ia satu kelompok dengan Zahra.
"Kita bikin tugas ini cepat aja, biar selesai," kata Zahra datar saat mereka duduk berhadapan. Di antara mereka ada Afnan dan dua siswa lain.
Rayyan mengangguk. "Aku setuju."
"Topik kita tentang keadilan sosial dalam Islam," Afnan membuka diskusi.
"Saran aku, kita mulai dari kisah nyata. Lebih menyentuh."
Zahra langsung menjawab, "Jangan pakai kisah orang. Tak semua luka cocok dijadikan pembuka presentasi."
Rayyan menoleh. Zahra sedang menatap lurus ke arah Afnan, tapi jelas itu sindiran halus untuknya.
Afnan kikuk. "Iya... iya deh. Kita cari ayat dan hadis aja."
Diskusi berlanjut dingin. Namun di tengah suasana tegang itu, Zahra menutup bukunya dan berdiri cepat.
"Aku izin ke perpustakaan sebentar."
Rayyan spontan berdiri. "Aku ikut."
Zahra menoleh dengan tajam. "Enggak usah. Aku bisa sendiri."
Rayyan menunduk. Tapi tetap melangkah mengikuti dari kejauhan.
Di perpustakaan, Zahra mencari buku tafsir. Tangannya menyisir rak satu per satu. Tapi satu buku tersangkut tinggi di atas.
Rayyan datang diam-diam, mengambilkannya dengan tenang. "Ini?"
Zahra menoleh, terkejut. Tapi tak langsung mengambil buku itu. Ia hanya menatap.
"Aku cuma mau bantu," kata Rayyan pelan.
Zahra akhirnya mengambil buku itu. Tapi sebelum pergi, ia berkata:
"Aku bukan orang yang mudah percaya, Rayyan. Dulu kau diam saat aku dipermalukan. Dan sekarang kau datang seolah tahu luka yang bahkan belum sembuh."
Rayyan mengangguk, menahan napas.
"Aku enggak tahu semuanya. Tapi aku tahu satu hal... aku nggak mau diam lagi."
Zahra hendak menjawab, tapi suara petir memecah keheningan. Hujan turun deras di luar. Seketika, listrik di perpustakaan padam.
Lampu redup. Suasana mencekam. Beberapa siswa menjerit pelan.
Petugas memanggil, "Anak-anak, tolong tetap di tempat dulu. Angin kencang, jangan keluar ruangan."
Zahra duduk di pojok ruangan. Tangannya memeluk buku tafsir yang tadi. Matanya menatap kosong.
Rayyan duduk beberapa meter darinya. Ia menatap hujan, lalu bicara pelan:
"Waktu SD... aku masih ingat, kamu yang paling tenang waktu semua orang panik waktu banjir datang ke sekolah.
Kamu duduk di tangga, baca Qur'an. Aku ingat itu... Zahra."
Zahra tersentak pelan. Itu... bagian kecil dari masa lalu yang ia pikir tak ada yang simpan.
Hatinya bergetar.
Dinding itu... retak. Meski belum runtuh.
Ia tak menjawab. Tapi ia tidak lagi berdiri dan pergi.
Dan bagi Rayyan, itu sudah cukup.
Petir kembali menyambar. Tapi Zahra tetap di tempatnya.
Dalam hati, ia berkata:
"Ya Allah... jika memang ini bagian dari penyembuhan, maka kuatkan aku untuk menerima kehadiran yang pernah membuatku patah."
•
•
•
•
Bersambung...
*Jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama*
KAMU SEDANG MEMBACA
UKHTY KUTUB
Teen FictionDi sebuah sudut Bali yang tenang, jauh dari gemerlap wisatawan dan hiruk pikuk kota, berdiri sebuah rumah kayu sederhana dengan atap rumbia yang mulai kusam dimakan waktu. Rumah itu terletak di Desa Pesinggahan, Karangasem-wilayah pinggir laut yang...
