"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."— (QS. Al-Baqarah: 216)
---
Zahra terbangun dengan nafas tak beraturan. Matanya berkaca-kaca. Di keningnya, butir keringat mengalir perlahan.
Ia menatap sekeliling. Masih di kamar sederhana mereka di Denpasar. Bukan di Makkah. Bukan di pelataran Ka'bah. Bukan juga dalam balutan gamis putih sebagai pengantin.
"Itu... hanya mimpi?"
Ia menunduk, memandangi tangannya yang kosong. Tidak ada cincin, tidak ada genggaman dari Rayyan. Hanya jari-jemari biasa milik seorang anak perempuan—yang belum menjadi siapa-siapa.
Zahra memeluk lututnya di tepi ranjang. Sudah berminggu-minggu bayangan Rayyan hadir dalam mimpi. Ia bahkan bisa mengingat jelas akad mereka, thawaf, bahkan ziarah ke Gua Hira. Tapi nyatanya, ia masih di sini. Di dunia nyata. Bersama Ayah dan Ibu—yang belakangan ini makin sering batuk dan mengeluh sakit di dada.
Pagi itu seperti biasa. Zahra ke pasar membawa tas belanja kain, menyusuri gang sempit dekat rumah. Ayahnya, Pak Yusuf Firyal, sempat berpesan sebelum ia keluar.
"Jangan lupa beli jahe dan susu hangat untuk Ibu. Dia batuk terus dari tadi malam."
Zahra tersenyum, meski hatinya khawatir. Ibunya, Hanifa Zahidah, memang sudah beberapa kali masuk rumah sakit karena sesak nafas. Tapi pagi tadi mereka masih bercanda soal mimpi Zahra yang menikah di Makkah.
"Ibu juga mimpi kamu nikah sama siapa itu... Rayyan. Si penceramah muda yang pernah kamu ajak nonton di YouTube," ucap ibunya sambil tertawa kecil.
Zahra menggeleng sambil malu, lalu pergi ke pasar. Tak ada firasat apa pun hari itu. Langit Bali cerah. Angin membawa bau dupa dari pura di ujung jalan. Semuanya tampak biasa... hingga tidak lagi.
Sekitar pukul 09.40, Zahra baru kembali dari pasar, tangan penuh belanjaan. Namun begitu memasuki tikungan terakhir sebelum sampai ke rumah, ia melihat sesuatu yang membuat lututnya goyah.
Ambulans.
Di depan rumahnya. Sirene masih menyala lemah. Dua petugas medis berdiri kaku di luar pagar. Beberapa tetangga menangis sambil menutupi mulut. Salah satu dari mereka—Bu Ningsih, tetangga sebelah—bergegas mendekati Zahra.
"Zahra... nak, kamu sabar ya... barusan Ayah dan Ibumu..."
"Kenapa?" Zahra menjatuhkan tas belanjaannya.
"Mereka berdua... kecelakaan di perempatan Cokro. Tabrakan keras. Mereka meninggal di tempat."
Zahra tak percaya. Langkahnya bergetar. Ia mendekat ke ambulans, lalu melihat dua kantung jenazah di dalamnya.
"Enggak... ini bukan kenyataan... tadi pagi mereka masih hidup... Ibu masih senyum... Ayah masih minta dibelikan jahe..."
Ia jatuh terduduk. Tangannya meraba-raba udara kosong.
Semua seperti mimpi, tapi yang ini... benar-benar nyata.
Siangnya, dua jenazah dimandikan. Wajah keduanya tampak damai. Orang-orang datang melayat, satu per satu menyentuh punggung Zahra, mengucap belasungkawa.
Namun Zahra tidak menjawab. Ia hanya duduk diam, memeluk mushaf yang dulu sering ia pakai untuk mengaji bersama ayahnya. Matanya kosong. Mulutnya kering.
"Ya Allah... bagaimana caranya aku kuat tanpa mereka?"
Tak ada Rayyan di sampingnya. Tak ada siapa pun. Hanya Allah yang benar-benar tersisa.
Malam hari setelah pemakaman, Zahra menyalakan lampu kamar. Ia membuka catatan mimpinya tentang akad di Makkah.
"Aku pikir aku akan menikah. Tapi ternyata Engkau ingin aku kehilangan dulu."
Ia membuka lembar baru, dan menulis:
Catatan Zahra – Hari Duka:
Hari ini, Makkah hilang.
Bukan karena jarak, tapi karena waktu yang belum datang.
Dan hari ini, Ayah dan Ibu pergi.
Bukan karena benci, tapi karena Allah lebih sayang.
Maka Ya Allah... jika aku harus berjalan sendiri untuk waktu yang lama,
Ajari aku cara menguat.
Dan jika Rayyan hanya hadir dalam mimpi,
maka cukup Engkau yang menjadi kenyataanku.
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
UKHTY KUTUB
Teen FictionDi sebuah sudut Bali yang tenang, jauh dari gemerlap wisatawan dan hiruk pikuk kota, berdiri sebuah rumah kayu sederhana dengan atap rumbia yang mulai kusam dimakan waktu. Rumah itu terletak di Desa Pesinggahan, Karangasem-wilayah pinggir laut yang...
