Tujuh : Antara Luka dan Jawaban

17 6 0
                                        

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman."
— (QS. Ali Imran: 139)

----------------------------------------------------------------

Zahra duduk di sisi taman sekolah sore itu. Matanya kosong. Langit mendung tapi tak kunjung hujan. Semuanya terasa menggantung, seperti hatinya yang tak tahu harus percaya pada siapa.

Ia baru saja menerima kabar dari Bu Widya bahwa seseorang dari yayasan pusat ingin bicara dengannya.
Namanya Akmal Rizki Yahya.

Zahra mematung saat nama itu disebut.
Bukan hanya karena ia mengenal Akmal—
Tapi karena Akmal adalah orang pertama yang pernah membelanya... dan juga orang pertama yang menghilang tanpa kabar.

Flashback lima tahun lalu—
Zahra duduk di musala pesantren lamanya. Suara cemoohan masih terdengar di luar pintu. Ia dituduh mengambil uang infak.

Saat semua orang menghindar, Akmal—kakak kelas OSIS—datang, menatap semua dengan tenang.

"Kalau kalian merasa lebih baik dengan menghina, mungkin kalian lebih butuh infak daripada Zahra."

Sejak saat itu, Zahra menaruh respek. Tapi...
Beberapa bulan setelah pembelaan itu, Akmal tiba-tiba keluar dari pesantren. Zahra tak pernah tahu alasan, tak pernah diberi penjelasan.

Dan sekarang... dia kembali?

Di ruangan BK, Akmal berdiri tenang. Wajahnya teduh, tapi sorot matanya dalam.

"Zahra, aku minta waktu lima menit. Untuk menjelaskan semuanya."

Zahra menatapnya lurus. "Lima menit untuk apa? Menjawab luka lima tahun?"

Akmal menunduk. "Aku tahu aku salah. Tapi aku kembali bukan untuk membuka luka. Aku kembali karena aku ingin menebus... apa yang dulu aku tinggalkan."

Zahra tak menjawab. Suasana hening. Lalu Akmal berkata pelan:

"Rayyan anak baik. Tapi dia belum tahu siapa kamu sebenarnya, Zahra. Sementara aku... aku tahu, dan aku tetap memilih berdiri di sampingmu."

Zahra terdiam. Kalimat itu menggores dua sisi hatinya.
Rayyan... atau Akmal?
Masa lalu yang menghilang, atau masa kini yang pelan-pelan mendekat?

Sementara itu, Rayyan berdiri di luar ruangan. Ia mendengar suara samar dari balik pintu. Tapi tidak masuk.
Dia menunduk.
Hatinya bergejolak.

"Aku bukan datang untuk merebut. Tapi kenapa aku merasa kehilangan?"

Sore itu Zahra pulang dengan langkah berat. Ia tak berbicara pada siapa pun. Di kamarnya, ia membuka buku hariannya:

"Rayyan membawa ketulusan. Tapi Akmal membawa jawaban.
Dan aku... berdiri di antara luka yang belum benar-benar sembuh."

Zahra lalu membuka Al-Qur'an. Matanya jatuh pada ayat yang seolah menjawab:

"Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang sabar." (QS. Ali Imran: 142)

Zahra menutup mushafnya.
Mungkin belum saatnya memilih.
Mungkin saat ini... yang bisa ia lakukan hanya berdoa dan bersabar.





To be continue...

*Jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama*

UKHTY KUTUBCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang