Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji?"
— (QS. Al-Ankabut: 2)
.......................................................
Pagi itu Zahra membuka loker sepatu dan menemukan amplop kecil di dalamnya.
Di dalamnya hanya selembar kertas dengan tulisan tangan:
"Orang-orang akan lupa masa lalumu... sampai ada yang mengingatkannya dengan niat buruk."
— seseorang yang tidak suka kamu bahagia.
Tangannya gemetar. Tapi wajahnya tetap datar.
Ini bukan pertama kalinya dia diganggu. Tapi ini berbeda. Kalimat ini... menyiratkan bahwa ada yang tahu—bukan cuma sekadar menebak.
Dia menatap sekitar. Koridor masih sepi. Tapi rasa dingin menjalari tengkuknya.
Zahra melangkah masuk kelas. Tapi hari itu, semua terasa berat.
Di ruang BK, Bu Widya, guru yang dikenal tenang dan bijak, memanggil Zahra siang hari. Wajah beliau terlihat ragu.
"Zahra... maaf, Ibu harus bertanya ini. Ada laporan yang masuk. Katanya kamu mulai berduaan dengan siswa laki-laki. Dan kamu menolak menanggapi saat ditanya."
Zahra menegakkan punggung. "Saya tidak pernah berduaan, Bu. Di aula kami bersama anggota kelompok. Di perpustakaan pun... banyak yang lihat. Saya tidak melanggar adab."
Bu Widya mengangguk pelan. "Ibu percaya kamu. Tapi kamu tahu, sekolah ini penuh sorotan. Ada yang mungkin tidak suka kamu berubah. Atau... kamu mulai terlihat kuat."
Zahra menatap ke jendela. Di luar, langit cerah. Tapi hatinya mendung.
"Kenapa selalu aku yang harus kuat, Bu?" gumamnya.
Di kantin, Rayyan sedang duduk sendiri. Ponselnya di tangan, tapi pikirannya tidak ada di layar. Ia melihat Zahra berjalan cepat melewati kantin, tanpa menoleh.
Afnan datang membawa dua roti. "Kamu lagi kepikiran Zahra ya?"
Rayyan hanya mengangkat alis.
Afnan menghela napas. "Gue denger dia dipanggil BK."
"Apa?"
"Fitnahnya makin kejam, bro. Ada yang sebarin cerita dia 'intim' sama lo. Lo yakin lo udah cukup kuat buat berdiri di samping dia?"
Rayyan terdiam. Ia tahu reputasinya belum tentu bersih. Tapi ia juga tahu—diam seperti dulu bukan pilihan lagi.
Sorenya, saat semua siswa sudah pulang, Zahra duduk sendirian di musala sekolah. Lampu mulai redup. Angin lembut masuk dari jendela kecil.
Ia membuka mushaf dan menemukan kertas kecil terselip. Bukan dari orang asing.
Tulisan tangan itu ia kenal.
"Zahra, aku tahu aku belum pantas jadi bagian dari ketenanganmu. Tapi izinkan aku jadi orang yang kali ini tidak diam saat kamu terluka.
— Rayyan"
Zahra menarik napas panjang.
Entah kenapa, air matanya jatuh pelan-pelan.
Bukan karena lemah. Tapi karena akhirnya... ada yang berdiri bersamanya. Bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk menemani.
Namun hari berikutnya, saat Rayyan hendak masuk kelas, seseorang memanggilnya dari gerbang sekolah.
Seorang pria muda—berwajah teduh tapi dingin. Mengenakan pakaian rapi, dan memegang map berisi dokumen.
"Rayyan Arshaq, ya?"
"Iya. Kamu siapa?"
Pria itu menyodorkan kartu.
Akmal Rizki Yahya
Konsultan pendidikan – yayasan pusat
"Aku ke sini bukan sekadar urusan sekolah. Tapi tentang Zahra Najwa," katanya.
Rayyan mengernyit. "Apa urusannya kamu dengan Zahra?"
Akmal menatap tajam.
"Karena aku adalah masa lalunya. Yang tak seharusnya dilupakan."
•
•
•
•
•
To be continue...
*Jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama*
KAMU SEDANG MEMBACA
UKHTY KUTUB
Fiksi RemajaDi sebuah sudut Bali yang tenang, jauh dari gemerlap wisatawan dan hiruk pikuk kota, berdiri sebuah rumah kayu sederhana dengan atap rumbia yang mulai kusam dimakan waktu. Rumah itu terletak di Desa Pesinggahan, Karangasem-wilayah pinggir laut yang...
