Epilog

3 1 0
                                        

"Kehilangan bukan akhir. Kadang, itu adalah lorong menuju awal yang lebih mulia."

---

Langit Jogja sore itu berwarna tembaga. Di halaman belakang rumah sederhana yang penuh pohon kamboja dan suara burung-burung kecil, dua anak balita berlari sambil tertawa—berkejaran di atas rumput basah seusai hujan.

"Umi! Talitha rebut mainan Thifal lagi!"

"Enggak kok! Ini punya Talitha dari tadi!"

Zahra tersenyum dari balik jendela, meletakkan gelas teh hangat di atas meja. Di tangannya, ada sebuah foto lama yang ditemukan secara tak sengaja di laci warisan milik Ayah dan Ibunya, beberapa bulan setelah pernikahan mereka.

Foto itu memperlihatkan dua anak kecil—seorang perempuan berjilbab merah muda, dan seorang laki-laki dengan peci hitam—berdiri berdampingan saat lomba di sekolah dasar. Di balik foto itu, ada tulisan tangan:
"Untuk masa depan yang telah kami doakan sejak dini – Yusuf Firyal & Hanifa Zahidah."

Zahra menghela napas. Butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami bahwa ternyata... mereka sudah dijodohkan sejak lama. Bahkan sebelum saling mengenal. Tapi mereka berdua tak pernah tahu. Tak pernah diberitahu. Hingga akhirnya semua terungkap setelah kepergian orang tua Zahra.

Kadang, Allah menulis cerita dengan tinta rahasia. Dan kita hanya bisa membaca kalimat-Nya saat waktu sudah siap membukanya.

Dari dapur, Rayyan muncul sambil membawa boneka kecil yang tertinggal.

"Eh, ini siapa yang tinggalin jerapah di tempat sendok, ya?" tanyanya sambil tertawa kecil.

Talitha—gadis kecil yang mirip Zahra—bergegas masuk dan meraih mainannya.
Thifal—si kembar laki-laki yang lebih pendiam—menyusul di belakang sambil membawa sepotong biskuit.

Zahra memandang ketiganya. Hatinya hangat. Dulu, ia pernah merasa kehilangan segalanya. Tapi kini, ia merasa seperti menemukan segalanya—dalam bentuk yang lebih indah dan lebih lapang dari apa pun yang ia harapkan.

"Rayyan..." bisik Zahra saat mereka duduk berdampingan di sofa, "ternyata kita sudah dijodohkan dari dulu."

"Aku tahu," jawab Rayyan sambil merangkul pelan, "dan Allah tetap menjaga jodoh itu... bahkan saat kita berbelok jauh."

Zahra menatap langit senja. Bukan lagi dengan luka, tapi dengan rasa syukur.
Cinta sejati bukan yang datang cepat, tapi yang tetap pulang—meski harus menunggu badai reda.

Dan hari ini, Zahra bukan lagi si gadis yang memeluk mimpi dalam sepi.
Dia adalah seorang istri, seorang ibu, dan seorang hamba yang telah belajar...
Bahwa semua kehilangan adalah undangan untuk pulang kepada-Nya—dan pada orang yang dituliskan untuknya sejak awal.

.

.

.

.

Zahra Najwa Firyal

"Aku pernah merasa sendiri, sampai kusadari bahwa Allah tak pernah pergi. Maka hari ini aku tidak menunggu cinta datang, tapi membiarkan cinta datang saat aku sudah utuh sebagai hamba-Nya."

"Kepergian tak selalu merampas, kadang ia menyiapkan ruang untuk kehadiran yang lebih membahagiakan."

"Cinta yang datang dengan sabar akan bertahan. Tapi cinta yang datang bersama doa... akan menuntun sampai surga."

.

.

.

Rayyan Arshaq Luqman

"Aku tidak menjemputmu dengan janji manis, tapi dengan rencana Allah yang bahkan tak pernah kita duga."

"Aku pernah ingin menyerah karena tak bisa memilihmu, tapi ternyata Allah tetap menuliskanmu meski lewat jalan yang menyakitkan dulu."

"Yang paling kuat bukan cinta yang lantang bersuara, tapi yang tetap diam dalam doa hingga waktunya tiba."

TAMAT

Alhamdulillah akhirnyaa

 saya sangat senang bisa menyelesaikan cerita ini.

terimakasih banyak untuk teman teman yang sudah singgah, dan menemani Zahra dan Rayyan.

Author ada kabar bahagiaaa yaituu....





jeng jeng jeng



Akan hadir cerita terbaru tentang Talitha dan Thifal.... 

Ditunggu yaa ♥️

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

UKHTY KUTUBTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang