Sepuluh: Kembali

15 3 0
                                        

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
— (QS. Al-Insyirah: 6)

Happy reading!

- - -

Pagi itu kampus Universitas Syiah Kuala diselimuti kabut tipis. Udara Aceh membawa semilir yang khas—tenang, sejuk, dan sedikit menggetarkan dada.

Zahra mengenakan almamater hijau laut. Tas ransel kecil di punggungnya. Hari ini ia menghadiri seminar terbuka untuk mahasiswa baru tentang "Peran Generasi Muda dalam Dakwah Digital".

Gedung pertemuan sudah hampir penuh saat ia tiba. Ia duduk di baris tengah, membuka buku catatannya, dan mengambil pulpen.

Ia tak tahu... hari ini, angin masa lalu sedang mendekat.
Tanpa aba-aba. Tanpa rencana.

"Bismillah, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
suara lantang dari depan membuat Zahra berhenti menulis.
Suara itu... tidak asing. Dalam, tenang, dan pernah ia dengar dalam satu fase yang sulit untuk diulang.

Ia menoleh.
Dari podium, berdiri seorang pemuda yang kini tampak lebih dewasa. Postur tinggi, senyum ringan, dengan name tag di dadanya:

Rayyan Arshaq – Pemateri Tamu, Alumni Pesantren Tarbiyyah Nusantara, Mahasiswa Aktif UIN Ar-Raniry

Zahra terdiam. Dunia seolah hening sesaat. Jantungnya berdetak pelan namun berat.

"Kita bertemu lagi... bukan di taman sekolah, tapi di tempat di mana kita sama-sama sedang tumbuh."

Rayyan bicara dengan gaya yang tenang, membawa materi tentang menjaga hati di era digital, memaksimalkan media sosial untuk syiar Islam, dan menjaga integritas diri.
Bukan kata-kata cinta. Bukan puisi rindu.

Tapi setiap kalimatnya terasa seperti sapaan yang dulu belum sempat dikatakan.

Zahra tidak fokus pada wajahnya. Tapi pada makna tiap ucapannya.
Dia tidak lagi "Rayyan yang dulu". Tapi seseorang yang telah melewati badai yang sama... dan masih bertahan di jalan yang lurus.

Selesai acara, Zahra berjalan keluar lebih dulu. Tapi panitia meminta semua peserta menandatangani daftar kehadiran.

Di lorong itu, mereka bertemu.

Rayyan hanya menatap. Tak ada kata yang terucap.
Zahra menunduk sopan.

"Assalamu'alaikum," ucap Rayyan pelan.
"Wa'alaikumussalam," jawab Zahra, masih menunduk.

Hening. Tapi tidak canggung.
Mereka berdiri bukan sebagai dua orang yang pernah saling mengobati.
Tapi sebagai dua orang yang kini telah dewasa. Telah selesai dengan egonya.

"Semoga betah kuliah di Aceh," ucap Rayyan singkat.
"InsyaAllah," jawab Zahra.

Lalu keduanya melangkah... berlawanan arah. Tapi tidak membawa luka.

Malam itu, Zahra duduk di taman asrama. Ia menulis:

_"Aku tidak lagi ingin dimiliki.
Aku hanya ingin berjalan berdampingan dalam perjuangan,
jika Allah menghendaki.

Dan jika tidak, aku tetap bahagia...
karena telah bertemu seseorang yang mengajarkanku cara bertahan dengan cara yang lembut."_




To be continue

Halo haii 🙌😉

*Jadikan Al-Qur'an bacaan utama*

UKHTY KUTUBTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang