Dua : Rayyan dan Luka yang Terbuka

32 8 0
                                        

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri."
— (QS. Al-Hasyr: 19)

_'-'-'-'-'-'-'-'-'-'-'-'-'-'-'_

Rayyan Arshaq Luqman tidak pernah benar-benar menyukai pagi.
Baginya, pagi adalah pengingat bahwa hidup harus dimulai kembali, sementara ia masih ingin tenggelam dalam gelap malam yang menyembunyikan semua rasa.

Tapi sejak dua bulan lalu, sejak ia "dibuang" ke Bali oleh ayahnya—pagi tak bisa lagi ia hindari.

"Sekolah itu tempat paling aman untuk anak yang mulai kacau. Sekalian belajar agama," kata Ayahnya sebelum mereka naik pesawat.

Rayyan diam saja saat itu. Ia tidak peduli.
Selama hidupnya, ia sudah pindah sekolah tiga kali, dan tak satu pun tempat yang bisa membuatnya benar-benar merasa... hidup.

Tapi pagi ini berbeda.

Baru saja melangkah masuk ke koridor sekolah Islam yang terlihat terlalu rapi untuk seleranya, ia melihat seorang gadis berjilbab abu-abu menunduk lalu berbalik arah dengan cepat. Sekilas. Tapi cukup membuat dadanya menegang.

Wajah itu.
Sorot mata itu.

Seolah waktu berhenti sesaat.

Rayyan mengerjap. Ia mencoba menebak, tapi pikirannya terlalu kabur. Banyak hal yang sudah ia lupakan. Atau sengaja dikubur.

Salah satunya adalah... masa SMP-nya.

Kelas berlangsung seperti biasa. Guru Bahasa Arab masuk, semua siswa berdiri memberi salam. Rayyan duduk di bangku belakang, malas-malasan. Tapi kali ini, pandangannya tak bisa fokus ke papan tulis. Ia justru memperhatikan bangku dekat jendela, dua baris di depannya.

Gadis itu.
Zahra.
Sekarang ia tahu namanya.

Nama yang disebut guru saat absen. Nama yang ditanggapi Zahra dengan anggukan kecil tanpa suara.

Rayyan menghela napas panjang.
Dia bukan tipe yang percaya takdir. Tapi pertemuan pagi itu terasa seperti tamparan. Atau mungkin... peringatan.

Tadi malam, ia sempat bermimpi.
Ia berdiri di tepi pantai, memegang sebuah kertas yang terbakar pelan-pelan. Lalu ada suara dari kejauhan yang berkata, "Apa yang kau buang, akan kembali saat kau tak siap menerimanya."

Rayyan pikir itu cuma bunga tidur.
Tapi sekarang, Zahra benar-benar ada di hadapannya.

Saat istirahat, Rayyan pergi ke atap sekolah—tempat sepi yang jarang dijamah siswa. Dari sana, ia bisa melihat laut di kejauhan. Ombaknya tenang, langitnya sedikit mendung.

Ia duduk di tembok pembatas, membuka buku sakunya, menulis sesuatu yang jarang ia lakukan.

Hari ini aku melihat seseorang. Atau mungkin bayangan dari kesalahan yang belum kubayar.

Rayyan menatap langit.
Matanya kosong. Tapi pikirannya kacau.

Flashback tiba-tiba menghantam:
Seorang gadis kecil duduk di pojok musala sekolah dasar. Menangis. Karena semua orang menganggap dia pencuri. Padahal bukan. Dan Rayyan... tidak melakukan apa pun. Malah ikut menertawakan.

"Namanya Zahra. Si anak aneh yang nggak pernah senyum. Pasti dia yang ambil uang iuran!"

Rayyan ingin membela. Tapi waktu itu dia terlalu takut kehilangan teman.
Jadi dia diam. Dan diamnya adalah pengkhianatan.

Apakah gadis itu Zahra yang sama?
Jika iya, mungkinkah ia masih menyimpan luka itu?

Malam hari di vila mewah milik keluarganya, Rayyan termenung di balkon lantai dua. Ibunya tidak di rumah. Ayahnya masih di Jakarta. Vila itu terlalu besar dan sepi.

Ponselnya berbunyi. Satu notifikasi masuk dari grup teman lamanya di Jakarta.

Teman: "Eh, lo di Bali beneran? Kasian amat dibuang ke pulau tobat wkwk."

Rayyan mengetik balasan... lalu menghapusnya.

Ia tidak ingin menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, ia merasa malu.
Bukan karena teman-temannya. Tapi karena ia merasa tempat ini—tempat yang ia benci di awal—mulai menunjukkan wajah jujurnya: tempat yang mempertemukan kembali luka yang belum sempat ia minta maaf.

Dan Zahra... mungkin adalah gerbang menuju pertobatan. Atau sebaliknya, pengadilan yang lebih kejam daripada apa pun.

Keesokan harinya, di perpustakaan sekolah, Rayyan iseng membaca buku tafsir. Tangannya asal membuka halaman. Ia tidak benar-benar paham, tapi satu kalimat membuatnya berhenti.

"Barang siapa yang menyakiti seorang mukmin, maka sungguh ia telah menyakiti Rasul-Nya."

Rayyan memejamkan mata.
Ia bukan orang suci. Bahkan jauh dari itu. Tapi jika benar Zahra adalah orang yang dulu ia sakiti, lalu sekarang Allah mempertemukannya kembali...
Apakah itu artinya ia masih diberi kesempatan untuk menebusnya?

Atau justru dihadapkan untuk menerima balasan?

Hari berikutnya, setelah kelas terakhir, Zahra berjalan keluar lebih dulu. Ia membawa buku-bukunya dan tidak menyadari Rayyan sedang mengikutinya dari jauh.

Bukan dalam arti menyeramkan, tapi... Rayyan butuh waktu. Ia tidak tahu harus bicara apa.

Tiba-tiba Zahra berhenti.
Ia menoleh sekilas. Tatapan mereka bertemu.

Zahra menatapnya sejenak. Tanpa ekspresi. Lalu kembali berjalan tanpa berkata apa pun.

Rayyan terpaku.

Matanya mengatakan semuanya:
"Aku tahu siapa kamu. Tapi aku tidak ingin kamu mendekat."

Dan Rayyan sadar...
Permintaan maaf bukan hal yang mudah, apalagi pada seseorang yang terluka terlalu dalam. Tapi diam juga bukan pilihan.

Hati yang keras bisa mencair. Tapi hanya jika engkau mau menahan malu dan bersujud lebih dalam.








Bersambung...

Vote dan komennya 💗

*Jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama*

See u papaii😍






UKHTY KUTUBTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang