Sebelas : Jalan Masing-Masing

16 3 0
                                        

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka."
— (QS. Asy-Syura: 15)

Happy Reading!

Suasana kampus mulai padat. Gedung-gedung dipenuhi spanduk kegiatan mahasiswa, suara diskusi terdengar dari pojok-pojok fakultas, dan halaman kampus tak pernah sepi dari langkah-langkah penuh semangat.

Zahra melangkah cepat menuju gedung Pusat Dakwah Kampus. Almamaternya berkibar tertiup angin pagi. Di tangannya, map berisi materi mentoring untuk mahasiswi baru.

Divisi yang ia masuki adalah Divisi Edukasi Akhwat LDK. Ia bukan yang paling vokal, bukan pula yang paling dikenal. Tapi setiap pekan, selalu ada satu tulisan dari Zahra yang menghiasi mading LDK dengan judul seperti "Hijrah Diam-diam", "Antara Sabar dan Istiqamah", atau "Kuat Itu Tidak Harus Keras."

Namun, tidak semua menyukai pendekatannya.

Suatu hari di ruang rapat LDK, para pengurus sedang membahas program "Dakwah Masuk Kelas".
Rini—koordinator bidang eksternal—mengangkat suara.

"Maaf, aku bukannya anti tulisan indah, ya. Tapi kita butuh suara. Butuh tokoh. Zahra terlalu... lembut. Aku khawatir program ini jadi 'terlalu jinak' dan kurang mengena."

Semua mata menoleh ke Zahra. Ia tidak terguncang.

"Dakwah bukan soal keras atau pelan. Tapi soal sampai atau tidaknya pesan," ucapnya kalem.

Hening. Lalu salah satu akhwat muda, Aulia, mengangkat tangan pelan.
"Kak Zahra mungkin nggak lantang. Tapi tulisannya sering jadi penenang buat kami. Banyak teman-temanku yang jadi berhijab karena ngebaca tulisan Kakak di mading."

Zahra hanya tersenyum kecil. Ia tidak butuh pembelaan. Tapi hatinya bersyukur—usaha diam-diamnya ternyata tidak sia-sia.

Sementara itu, di tempat berbeda, Rayyan sedang duduk sendiri di kafe mahasiswa.

Laptop terbuka. Di layar, sebuah video dakwah pendek miliknya sedang viral. Tapi bukan dalam arti baik.

Puluhan komentar membanjiri:

"Nyindir cewek berhijab tapi make up ya?"
"Kamu siapa, ngejudge orang lain?"
"Ini bukan dakwah, ini penghinaan."

Rayyan menarik napas panjang. Video itu sebenarnya cuplikan dari seri panjang "Dakwah dan Gaya Hidup". Tapi yang beredar hanya 30 detik terakhir—dan disalahpahami.

Ia membuka Teletram. Ratusan notifikasi dari komunitas kreator dakwah. Sebagian menyemangatinya. Sebagian menyuruhnya minta maaf.

Rayyan menutup laptop.

"Mungkin ini balasan karena dulu aku ikut menyudutkan Zahra tanpa sadar."

Ia tidak menghubungi siapa-siapa. Tapi ia teringat satu wajah.

Wajah seseorang yang pernah difitnah dan tetap bertahan, bahkan ketika ia memilih pergi.

---

Suatu sore, Zahra sedang mengajar tahsin untuk mahasiswi tahun pertama. Ruang belajar sederhana, hanya beralas karpet. Tapi suara bacaan Qur'an bergema pelan dan khidmat.

Setelah kelas, salah satu peserta menghampirinya.

"Kak, aku dulu hampir batal kuliah. Tapi waktu baca tulisan kakak tentang perempuan yang belajar karena Allah, aku jadi berani daftar."

Zahra menatapnya dengan mata berkaca.

"Aku kira aku tak banyak berarti. Tapi mungkin... Allah membiarkan aku bertahan karena ada seseorang yang menunggu cahaya itu sampai kepadanya."

Malam itu, Zahra duduk di balkon asrama. Di pangkuannya, buku tafsir dan notes kecil.
Ia menulis:

"Kini aku tidak menunggu seseorang datang. Aku tidak sedang mencari siapa yang akan menemani.
Aku hanya ingin tetap berada di jalan ini.
Meski sunyi. Meski sendiri."

To be continue...

Stay with my story ❤


UKHTY KUTUBTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang