Tiga belas : Rumah yang Kembali Dihuni

15 3 0
                                        

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah..."
— (QS. Luqman: 14)

Happy reading!

_ _ _

Sore di Denpasar tidak seperti biasanya. Udara terasa lebih ringan. Bukan karena cuaca, tapi karena sesuatu di hati Zahra Najwa Firyal mulai lapang.

Empat tahun lalu, ia meninggalkan rumah ini dalam sunyi. Membawa luka yang tak pernah dibahas, dan kenangan yang ia bungkus rapi. Kini, setelah menyelesaikan studi, Zahra kembali. Bukan sebagai gadis yang memendam semuanya, melainkan sebagai wanita yang siap menyembuhkan, meski perlahan.

Ayahnya, berdiri di teras rumah saat ia tiba. Wajahnya sedikit kaku, tapi tak sekeras dulu.

Ibunya, muncul dari balik pintu. Tak ada sambutan dramatis. Tapi tatapan mata itu... berbeda. Lebih lembut, lebih menyesal.

"Zahra," ucap ayahnya, sekilas.

Zahra menunduk, lalu tersenyum kecil. "Saya sudah pulang, Yah... Buk."

Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, tidak ada bentakan. Tidak ada sindiran. Hanya keheningan yang perlahan menjadi ruang maaf.

Malamnya, setelah makan bersama—yang terasa canggung namun hangat—ayahnya memanggil Zahra ke ruang tamu.

"Ayah... minta maaf," katanya pelan.

Zahra menoleh. Kaget. Seumur hidupnya, baru kali ini mendengar kata itu dari laki-laki yang dulu sangat keras.

"Ayah terlalu kaku. Ayah kira dengan marah dan membentak, kamu bisa jadi kuat. Tapi ternyata... kamu justru pergi menjauh."

Zahra menahan air mata. Tapi tidak menangis.

Karena yang ia tunggu selama ini bukan pelukan.
Tapi pengakuan bahwa ia pantas didengarkan.

"Ibu juga minta maaf, Nak," kata ibunya, yang tiba-tiba muncul dari dapur. "Kami... terlalu sibuk menuntutmu jadi 'anak baik', sampai lupa menjadi 'orang tua yang baik'."

Zahra menunduk. Lalu bangkit, mendekati mereka.

"Aku juga minta maaf. Karena dulu memilih diam, bukan menjelaskan. Karena dulu pergi... tanpa benar-benar pulang."

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, rumah itu tidak terasa asing lagi.

Tiga hari setelah itu, pagi-pagi sekali, Zahra mendapati ayahnya sudah duduk di ruang tamu sambil memegang sepucuk amplop.

"Ada yang datang tadi malam ke rumah. Mengantar ini," katanya sambil menyerahkan surat.

Zahra membuka dan membaca isinya dengan jantung berdebar.

Lamaran.
Atas nama Rayyan Arshaq.

"Kalau kamu tidak siap, tidak apa. Ayah tidak akan memaksa," ucapnya hati-hati.

Tapi Zahra hanya tersenyum.

"Dulu, Rayyan tidak pernah memaksa masuk dalam hidupku.
Dan sekarang... dia juga tidak memaksa.
Tapi mungkin... ini saatnya aku belajar membuka hati—dengan tenang, bukan karena luka."

Malam itu, Zahra menulis di jurnal kecilnya:

_Pulang tak selalu tentang tempat. Tapi tentang siapa yang menerimamu saat kamu kembali.

Dan kini... aku pulang. Ke rumah, dan pada kemungkinan baru yang Allah titipkan tanpa paksa._

.
.
.
Tamat.

.
.
.

Eh belumm ya hehe

###

Pagi harinya. Meja kayu di ruang tamu dihiasi kue-kue Bali dan minuman hangat.
Keluarga Zahra dan keluarga Rayyan duduk bersama—bukan dalam kecanggungan, tapi dalam aura saling menghormati.

Rayyan mengenakan kemeja putih bersih, duduk tegak namun santun. Di sebelahnya, ayah dan ibunya yang datang langsung dari Aceh—penuh sopan, berwibawa, tapi sederhana.

Zahra duduk di sisi ayahnya, mengenakan gamis biru muda dan kerudung yang lembut warnanya. Wajahnya tenang. Tidak ada gugup, karena bukan tentang pesta yang ia pikirkan, tapi tentang niat baik yang ingin ia wujudkan.

Setelah obrolan ringan dan perkenalan singkat, Rayyan menundukkan kepala.

"Kami datang dengan niat baik. Jika diizinkan oleh Bapak dan Ibu, saya ingin melamar Zahra, bukan hanya sebagai istri, tapi sebagai teman hidup menuju akhirat."

Ayah Zahra, menatap putrinya. Tak ada keberatan. Tak ada lagi ego. Hanya raut lega.
Ibu Zahra, menunduk dengan mata berkaca.

"Kalau Zahra menerima... kami restui."

Sore itu, setelah para orang tua berdiskusi santai di belakang rumah, Rayyan dan Zahra diberi kesempatan bicara di beranda—dengan jarak, dengan adab, seperti yang selama ini mereka jaga.

Rayyan membuka pembicaraan. "Aku tidak punya syarat apa-apa. Aku hanya ingin rumah tangga kita dibangun atas keikhlasan dan keberkahan."

Zahra tersenyum.

"Kalau begitu... aku punya satu permintaan."

Rayyan menoleh.

"Aku ingin akad nikah kita dilakukan di Makkah.
Di tempat paling suci... agar langkah awal kita penuh doa.
Tapi bukan hanya itu, Rayyan—aku ingin mengajak Ayah dan Ibu ke sana.
Sebagai hadiah maaf... dan jalan hijrah mereka."

Rayyan terdiam. Matanya mulai hangat. Bukan karena haru biasa, tapi karena ia sadar—Zahra tidak pernah melakukan sesuatu tanpa niat ibadah.

"Zahra..." katanya pelan. "Permintaanmu bukan beban. Itu kehormatan."

Malamnya, Zahra menuliskan lagi di jurnalnya:

Dulu aku ingin dinikahi oleh seseorang yang bisa melindungi.
Sekarang aku ingin menikah agar bisa membawa seseorang yang aku cintai—ke depan Ka'bah, ke tempat sujud terbaik.

Karena cinta sejati, bukan soal dua insan, tapi bagaimana kita saling menuntun pada rida-Nya.

.
.
.
.

To be continue

*Jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama*

UKHTY KUTUBCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang