Sembilan : Jeda

16 3 0
                                        

"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin."
— (QS. At-Taubah: 105)


Suasana sekolah kembali berjalan seperti biasa... tapi tidak untuk Zahra.

Bukan karena dia kehilangan Rayyan, bukan juga karena rumor yang mulai mereda,
melainkan karena hatinya kini seperti lembar baru—tanpa nama siapa-siapa. Hanya ada dirinya dan cita-cita yang sempat ia kubur dalam-dalam.

---

Di perpustakaan, Zahra kini menghabiskan lebih banyak waktu.

Ia mulai membuka lembar demi lembar buku SNBT dan buku-buku universitas impiannya.
Matematika, Biologi, Bahasa Indonesia, hingga tafsir modern.
Ia tidak ingin belajar hanya untuk ujian. Ia ingin belajar untuk bertahan.

Suatu hari, Bu Widya datang menghampirinya saat istirahat.

"Zahra, kamu sudah mulai daftar kampus?"

Zahra menutup bukunya. "Belum, Bu. Tapi saya sudah tahu ke mana saya ingin pergi."

"Ke mana?"

"Universitas Syiah Kuala, Aceh."

Bu Widya mengangguk pelan. "Kamu yakin jauh dari orang tua?"

Zahra tersenyum. "Saya nggak pernah benar-benar dekat, Bu."

Kalimat itu menusuk... tapi nyata.

---

Ujian akhir tiba. Zahra menyelesaikannya dengan tenang dan fokus. Tak ada drama, tak ada senyum. Tapi keteguhan terpancar dari tatapannya.

Saat pengumuman kelulusan, semua siswa bersorak. Zahra hanya menatap surat itu pelan.
Lulus dengan nilai tertinggi.

Salah satu guru berkata, "Zahra itu kayak gunung es. Diam, tapi dasarnya dalam. Kuat."

Beberapa teman akhirnya menghampirinya, termasuk orang-orang yang dulu menjauhinya.
Mereka tak banyak bicara, hanya berkata pelan:
"Maaf ya, Zahra. Kami salah sangka dulu."

Zahra menjawab lembut, "Saya juga sedang belajar memaafkan, kok."

--

Pagi itu, Zahra mengemas koper kecil. Ibunya datang ke kamarnya dan duduk di pinggir kasur.

"Zahra... kamu beneran mau jauh-jauh ke Aceh?"

Zahra mengangguk. "Saya nggak pergi untuk lari, Bu. Saya pergi untuk bertumbuh."

Sang ibu menatap anak perempuannya dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah kamu nggak bisa datang ke bandara. Tapi dia titip pesan... katanya, 'semoga anak perempuan kita jadi perempuan yang benar-benar kuat. Bukan yang keras kepala, tapi yang bisa lembut di saat yang tepat.'"

Zahra menunduk. Matanya berkaca.

"Saya akan jadi perempuan seperti itu, Bu. InsyaAllah."



---

Aceh, 15 Oktober 2028

Langit Aceh berbeda. Ada angin yang lebih bersih, suara azan yang lebih lantang, dan suasana yang lebih teduh.
Zahra menatap sekeliling kampus barunya. Universitas Syiah Kuala.
Di sinilah, katanya, masa depan akan dimulai.

Ia masuk asrama. Bertemu teman-teman baru. Ada yang ceria, ada yang suka nanya banyak, ada pula yang pendiam seperti dirinya.
Zahra merasa... bukan asing, tapi bukan pula nyaman. Tapi dia siap menjalaninya.

Malam itu di asrama, ia menulis:

"Aku kira aku butuh orang untuk berjalan bersama. Tapi ternyata, aku hanya butuh keberanian untuk berjalan sendiri."

---

Suatu hari di lobi kampus, ia menerima selebaran dari kakak senior yang mengajak ikut kajian Islam mahasiswa.

Di antara tumpukan selebaran itu, ada secarik kertas kecil tanpa nama:

"Takdir Allah selalu lebih rapi dari rencana kita.
Sampai jumpa, ketika kita sudah jadi versi terbaik dari diri kita masing-masing."

Zahra terdiam.
Ia tak tahu siapa yang menulisnya.

Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia tersenyum—bukan karena ada yang datang, tapi karena ia baik-baik saja, meski sendirian.







To be continue...


Gass lanjuttt?

UKHTY KUTUBTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang