Lima : Gerimis yang Membasuh Luka

23 6 0
                                        

"Dan bersabarlah atas apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik."
— (QS. Al-Muzzammil: 10)

/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\

Hujan masih turun dari langit Karangasem pagi itu, gerimisnya tipis seperti embun yang belum siap jatuh. Zahra berjalan pelan di halaman sekolah, langkahnya mantap, meski hatinya belum sepenuhnya tenang.

Pagi tadi, saat ia membuka lemari sepatunya, ada secarik kertas tertempel:

"Ternyata kutub bisa luluh juga ya? Gara-gara Rayyan, atau emang doyan perhatian?"

Tulisan tanpa nama. Tapi Zahra tahu, fitnah itu selalu lahir dari tempat yang sama: hati yang belum bisa menerima perubahan orang lain.

Ia menghela napas, meremas kertas itu, lalu menyimpannya.
Bukan untuk dibalas, tapi sebagai pengingat:
Hijrah bukan tentang disukai. Tapi tentang bertahan.

Di kelas, Zahra tetap diam seperti biasa. Tapi hatinya berisik.

Rayyan, di sisi lain, mulai menunjukkan perubahan kecil. Ia tidak lagi menjadi pusat keramaian. Ia belajar menahan komentar. Belajar mendengar, bukan hanya bicara.

Saat guru bertanya tentang hikmah keadilan dalam Islam, Rayyan mengangkat tangan.

"Kadang yang paling adil bukan membela yang benar, tapi meminta maaf meskipun tidak sepenuhnya salah," ucapnya mantap.

Zahra menoleh pelan. Hatinya sedikit bergetar.
Itu kalimat yang hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang sedang belajar ikhlas.

Istirahat siang, Rayyan menunggu Zahra di dekat rak sepatu. Tidak frontal, hanya berdiri sambil membaca buku.

Zahra lewat. Berhenti sebentar.

"Fitnah mulai muncul. Aku harap kamu nggak merasa perlu jadi pahlawan," katanya datar.

Rayyan tersenyum tipis. "Aku nggak sedang jadi pahlawan. Aku cuma lagi belajar jadi manusia."

Zahra menatapnya. Matanya tak lagi setajam kemarin. Ada sedikit... lembut di sana.

"Tetap berhati-hati, Rayyan. Dulu kamu cuma diam. Sekarang kamu bicara. Tapi dunia belum tentu mendengarkanmu dengan ramah."

Rayyan mengangguk. "Kalau dunia nggak ramah, semoga Allah tetap menerima niat kita."

Keduanya terdiam. Lalu Zahra melangkah pergi, tapi langkahnya tak lagi sekeras kemarin.

Di rumah, Zahra duduk di musholla kecilnya lagi. Kali ini bukan menangis. Tapi mengulang hafalan surat Al-Mumtahanah.

Tiba-tiba ibunya masuk, membawa teh.

Zahra menoleh. Kaget. Sudah lama sekali ibunya tidak datang ke ruang ini.

"Tehnya nggak panas. Tapi semoga cukup hangat buat kamu yang suka dingin sendiri," ucap Bu Salma.

Zahra tersenyum tipis. Tangannya menerima gelas itu dengan gemetar kecil.

"Bu... kenapa hari ini..."

"Ada tetangga yang bilang kamu dekat sama anak baru. Katanya kamu berubah. Aku cuma ingin tahu, Zahra... kamu berubah karena apa?"

Zahra menatap ibunya. Dan untuk pertama kalinya, ia menjawab dengan yakin:

"Aku tidak berubah karena siapa-siapa, Bu. Aku cuma sedang belajar membasuh luka. Dengan sabar. Bukan dengan dendam."

Ibunya diam. Lalu menunduk.
Air matanya jatuh tanpa suara.

Malam itu, Zahra menulis di buku hariannya:

"Hari ini aku difitnah. Tapi aku tidak hancur. Aku justru lebih kuat.
Mungkin karena untuk pertama kalinya, ada seseorang yang tidak menertawakan kesedihanku.
Dia tidak sempurna. Tapi dia jujur.
Dan aku... masih belajar memaafkan."





Bersambung...

*Jadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utama*



UKHTY KUTUBCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang