"Seseorang yang kau cintai dan seseorang yang mencintaimu tidak akan pernah menjadi orang yang sama."
•••••
MEVRICK menatap lamat langit-langit kamarnya. Ruangan yang hanya berukuran 4x6 meter itu didesain dominan berwarna abu-abu. Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih lima menit, tetapi pemuda yang mengenakan pakaian tidur itu masih membuka matanya.
Pemuda itu sedikit murung. Ia meninggalkan makhluk kecil bersayap yang ia kagumi itu di halaman belakang rumahnya dengan ditemani satu lampu guna menghangatkan tubuh makhluk magis berjenis peri tersebut.
"Gimana kalau dia kedinginan di sana? Gimana kalau dia ketakutan, lalu kabur?" Ada banyak pertanyaan yang berkumpul di benak Mevrick.
Pemuda itu yang awalnya berbaring, terlentang di atas ranjang kini mengubah posisi--bersandar pada punggung ranjang. Ia menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, lantas turun dari ranjang.
"Gue harus ke sana buat mastiin kalau dia tidur nyenyak dan nggak kabur." Mevrick mengenakan alas kaki, kemudian melangkah keluar dari kamar dan berjalan ke halaman belakang dengan langkah pelan.
Seisi rumah sudah terlelap dan terdampar ke alam mimpi. Mevrick mengendap-endap untuk sampai ke pintu utama. Setelah sampai, ia memutar knop pintu, membukanya pelan, lantas berlari ke halaman belakang, tak lupa ia menutup pintu.
Saat Mevrick telah sampai di halaman belakang rumahnya, ia bergegas ke kolam ikan, kemudian berjongkok, netranya menelisik, membelah bunga-bunga dan mencari keberadaan Myla.
"Dia kok nggak ada? Apa dia beneran pergi?" Mevrick tak menyerah, ia terus membelah dedaunan di depannya dengan perasaan cemas.
Kumohon jangan pergi, Myla. Mevrick semakin cemas tatkala ia masih belum menemukan sosok yang ia cari.
"Kau mencari apa, Mevrick?" Suara mungil yang tak asing bagi pendengaran Mevrick itu terdengar. Stak sang empu berdiri tegak, memutar tubuh, menatap sang pemilik suara.
"Myla? Kau masih di sini?" Senyum lebar Mevrick merekah. Kedua matanya sedikit berbinar kala melihat sosok yang ia cari itu berada di hadapannya.
Makhluk bersayap dengan seonggok cahaya itu mendekat ke Mevrick. "Iya, aku masih di sini? Emangnya kenapa?" Myla bertanya.
"Aku kira kau pergi dari sini, Myla." Mevrick berucap sendu dengan pandangan menatap lekat peri kecil di depannya.
Bunyi lonceng kembali terdengar dari tubuh Myla. "Kau lucu, Mevrick. Aku akan tetap di sini sampai kapan pun. Ini, tempat tinggal baruku, kau tahu itu, 'kan."
Mevrick tersenyum, mengangguk cepat layaknya seorang anak kecil yang dibelikan mainan oleh orang tuanya.
"Kau janji akan tetap di sini dan nggak pergi dariku, 'kan?" Mevrick bertanya.
Myla tersenyum tipis, kemudian mengangguk. "Aku akan tetap di sini bersamamu, Mevrick. Aku tidak akan pergi dari sini. Aku janji." Myla membalas.
Keduanya saling lempar tatapan, lempar senyuman selama beberapa saat. Myla menguap, ia sudah mengantuk. Melihat itu Mevrick seketika menengadahkan tangan, menyatukan telapak tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Lintas Takdir
Teen Fiction"Sekalipun kau seekor kupu-kupu--ah, seorang peri maksudku. Aku tetap mencintaimu. Walau, kutahu, pada akhirnya kau sama seperti para gadis yang pernah kutemui--pergi menjauh dari hidupku." [Diikutsertakan dalam event breakheart penerbit Bookoffice]...
![[END] Lintas Takdir](https://img.wattpad.com/cover/362410008-64-k831271.jpg)