"Sering kali cinta tidak menyadari kedalamannya hingga saat perpisahan tiba."
•••••
SETELAH jam pulang sekolah tiba, Mevrick langsung bergegas pulang ke rumahnya. Ia berlari ke parkiran dan masuk ke mobil, kursi samping kemudi. Beberapa saat setelahnya, Lefin datang dengan membawa toples bening di tangannya. Ia masuk ke kursi kemudi, melilitkan sabuk pengaman pada tubuhnya.
"Ini, taruh dia ke dalam sini." Lefin menyodorkan toples bening itu ke hadapan Mevrick.
"Kalau dia ditaruh sini, dia nggak akan mati, 'kan?" Mevrick bertanya ragu-ragu.
Lefin menghela napas berat, ia memutar tubuh, menghadap pada sahabatnya. "Lo lihat lubang-lubang kecil ini? Itu memungkinkan dia bisa bernapas dalam sini. Udahlah, nggak usah banyak bacot, taruh langsung dia ke sini." Lefin kembali menyodorkan toples bening itu pada sahabatnya.
Mevrick ragu-ragu. Netranya menatap secara bergantian pada toples bening dan makhluk kecil di telapak tangannya. Sedetik setelahnya, ia mengembus napas, meletakkan perlahan makhluk kecil itu ke dalam toples bening dengan diameter 10 senti dan tinggi 14,5 sentimeter tersebut.
"Udah." Mevrick mengangkat tangannya setelah selesai meletakkan makhluk kecil itu ke dalam toples.
Setelah selesai, Lefin menutup benda itu dan menaruhnya di atas kabin kaca mobil. Mobil dinyalakan, Lefin menancap gas dan langsung berlalu dari lingkungan sekolah.
•••••
"Gue masih nggak yakin kalau dia seekor peri, Fin." Mevrick berkata di sela-sela perjalanan.
Lefin menoleh sekilas pada Mevrick. "Kenapa lo bisa ngomong kek gitu?"
"Ya lo pikir aja pakai logika. Di zaman yang udah modern gini memangnya masih ada makhluk-makhluk magis, hah? Logika aja."
"Ya siapa tahu mereka semua masih ada--makhluk-makhluk magis itu, tapi kita aja yang nggak pernah lihat," ujar Lefin tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
"Ya ... omongan lo ada benernya. Tapi, kalau dia seekor peri, kemungkinan dia punya kekuatan, ya, kan? Kayak dikebanyakan dongeng dan film?" Lagi-lagi Mevrick bertanya, menceletuk pada Lefin.
"Bisa jadi .... Kita udah sampai, nggak usah banyak tanya, buruan keluar dan buka gerbang rumah lo!" cecar Lefin. Dengan buru-buru, Mevrick melepas sabuk pengaman yang melilit tubuhnya dan melangkah keluar dengan membawa toples bening berisi makhluk magis bersayap.
Mevrick membuka gerbang rumahnya, hanya dibuka setengah. Selanjutnya, ia bergegas ke taman di belakang rumahnya untuk melepaskan hewan magis yang terperangkap dalam toples bening itu.
Betapa terkejutnya Mevrick ketika melihat kondisi tamannya sudah menjadi seperti tempat pembuangan limbah. Berbagai tanaman tergeletak mengenaskan dengan akar yang menjalar keluar dari tanah. Rerumputan dan tanah berhamburan, menyatu dengan genangan air kotor berwarna kehijauan yang entah dari mana asalnya.
Remaja yang masih mengenakan seragam sekolah itu masih terkejut dengan pemandangan yang ia lihat sekarang. Sampai ia tak sadar jikalau makhluk magis yang ada di dalam toples itu sudah bergerak ke sana-kemari untuk membebaskan dirinya.
"Rick, lepas dia di taman lo bis ... astaga! Sejak kapan taman lo berubah jadi pembuangan limbah, Rick?" Lefin sama tercengangnya ketika melihat kondisi taman di rumah Mevrick hancur. Sedetik setelahnya, ia melihat ke toples di tangan Mevrick.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Lintas Takdir
Ficção Adolescente"Sekalipun kau seekor kupu-kupu--ah, seorang peri maksudku. Aku tetap mencintaimu. Walau, kutahu, pada akhirnya kau sama seperti para gadis yang pernah kutemui--pergi menjauh dari hidupku." [Diikutsertakan dalam event breakheart penerbit Bookoffice]...
![[END] Lintas Takdir](https://img.wattpad.com/cover/362410008-64-k831271.jpg)