13. Patah hati dan lintas takdir

18 3 3
                                        

"Ketika kamu sedang jatuh cinta, dan kamu terluka, itu seperti luka--itu akan sembuh, tapi akan selalu ada bekas luka."

•••••

Point of view Mevrick Zacharis....

PETIR. Badai. Hujan lebat. Semua menyerbu tubuh gue. Badan gue udah basah kuyup. Mata cokelat gue udah berubah merah, bibir gue terus bergerak, seakan hendak mengutarakan kata, tapi nyatanya cuma kedinginan. Gue nggak tahu sekarang ada di mana. Entah kenapa gue nggak asing sama tempat yang tanahnya gue injak sekarang. Bentar, ini taman sekolah?

Di sini gelap dan sunyi. Tubuh gue sedikit meremang. Gue yang awalnya duduk diam di kursi dekat kolam ikan, lantas berdiri. Ada sedikit kabut asap yang melingkupi tubuh gue. Saat gue udah menegakkan tubuh, sayup-sayup terdengar suara lonceng yang nyaring, menyapa pendengaran gue. Gue memejamkan mata, menajamkan indra pendengaran gue.

Mendadak rasa takut memeluk gue, perlahan-lahan, gue kembali membuka mata. Tepat setelah mata gue terbuka, seonggok cahaya terbang di depan gue. Ke sana-kemari. Saat melihat cahaya itu, otak gue kembali memutar memori saat gue pertama kali bertemu Myla.

Sesaat, gue melangkah mendekat, tangan gue terulur--hendak menggapai seonggok cahaya itu. Tangan gue terus bergerak di udara dengan kaki yang terus mengayun tanpa henti. Hujan lebat, badai, dan petir masih bersama gue dengan meninggalkan suara mengerikan dari atas sana. Mereka seakan tertawa renyah melihat gue yang payah dalam hal menangkap.

"Woi, berhenti!" Gue terus mempercepat langkah di tengah guyuran hujan yang terus membasahi setiap jengkal tubuh gue.

Tepat seonggok cahaya itu berhenti di depan gue, hanya beberapa senti. Gue seketika tersenyum tipis, memasang kuda-kuda lantas menangkapnya! Tertangkap.

"Akhirnya ketangkep juga lo!" Gue membuka telapak tangan, mengintip seonggok cahaya yang baru saja gue tangkap.

Sial! Seonggok cahaya itu perlahan membesar, seakan merubah wujudnya. Cahaya kuning kemilau itu menyinari seluruh muka gue. Mata gue silau, menyipit. Entah saat ini gue kerasukan apa, hingga terus memberontak dan berteriak layaknya bocah.

Brak!

Gue mendesis. Mata gue melihat ke sekeliling, tempatnya berubah. Cuacanya berubah. Gue nggak tahu apa yang terjadi barusan. Entah itu mimpi atau apa, tapi itu terasa sedikit nyata. Gue mengubah posisi yang awalnya duduk bersila kini terlentang di atas rerumputan. Mata gue melihat langit di atas sana, entah kenapa saat melihat langit, pikiran gue terus terbayang elok wajah Myla, makhluk magis kecil berjenis peri yang gue sukai.

Gue nggak tahu rencana Tuhan untuk menghadirkan sosok Myla kepada gue cuma dalam waktu beberapa hari, setelah itu di bawa pergi oleh takdir untuk apa ...? Satu pertanyaan itu masih membekas dalam benak gue selepas momen perpisahan itu menyapa gue dan Myla.

Gue mengembus napas kasar. Gue nggak tahu kenapa tiba-tiba otak gue langsung mencetus pertanyaan baru untuk Myla. Apa dia ngerasain yang gue alamin sekarang? Apa peri bisa patah hati?

Dua pertanyaan itu tercetus tiba-tiba dalam benak gue. Gue memang sering kali patah hati. Tapi untuk kali ini, rasa sakitnya ... argh! Melebihi yang dulu-dulu.

Memang, patah hati itu hal yang pernah dialami oleh hampir semua orang. Saat patah hati, rasanya campur aduk dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Patah hati terkadang bisa memicu penyakit, katanya si Lefin. Dia bilang, Patah hati akan memunculkan rasa sakit mendalam yang tak bisa dijabarkan bagaimana sakit tersebut. Saking sakitnya, beberapa orang bahkan hanya akan berbaring di tempat tidur dan tak melakukan apa-apa sepanjang hari saat patah hati.

Gue sedikit membantah kalimat terakhirnya, gue sering patah hati, tapi gue nggak hanya berbaring di tempat tidur, bisa saja berbaring di teras rumah, garasi, pun halaman belakang rumah seperti sekarang. Memang sok bijak dia.

Pun, dia juga pernah bilang, jikalau patah hati bukan hanya disebabkan oleh "PUTUS CINTA", melainkan ada banyak faktor. Gue setuju dengan omongan Lefin saat itu. Patah hati bukan hanya disebabkan oleh putus dengan pasangan atau putus cinta, tapi juga disebabkan karena kehilangan orang tersayang baik itu keluarga atau sahabat, dikhianati, disepelekan hingga diabaikan.

Ngomongin patah hati, gue jadi makin hanyut dalam kesengsaraan!

"Myla, makasih udah hadir dalam hidup gue--ah, hidupku! Kutunggu versi terbaikmu!" Gue berteriak lantang dari bawah, mengudarakan semua emosi dalam satu kalimat demikian.

Ada perasaan lega selepas mengatakan itu, gue beranjak, kembali duduk bersila. Mata gue kembali mengarah pada kolam ikan di sebelah gue. Momen itu kembali berputar di kepala gue. Bayang-bayang Myla seakan menghantui gue. Gue nggak tahu apa yang terjadi di atas sana dengan Myla. Apa dia bahagia dengan para saudaranya? Atau dia lagi sedih?

Gue menggapai ponsel, hari ini tanggal 14 Februari. Dipojok ponsel terdapat logo emoji hati. Gue mengerti maksudnya. Hari ini hari valentine. Kalau kata orang-orang, hari kasih sayang. Tapi itu berlaku bagi mereka. Bukan bagi gue. Buat gue tanggal 14 Februari adalah hari patah hati. Bukan kasih sayang.

Pun, gue baru ingat, Myla pernah ngomong kalau tanggal 14 Febru, bukan Februari. Itu hari kehancuran dia. Hari di mana semua rasnya ditikam oleh para manusia keji. 14 Febru itu dalam kalender dunia peri, kalau dalam kalender manusia, 14 Februari. Hampir sama. Tapi berbeda makna. Tanggal dan bulan itu tersimpan makna tersendiri dibaliknya.

14 Febru bagi Mylaerla Sarxidor: Hari kehancuran.
14 Februari bagi gue--Mevrick Zacharis: Hari patah hati.

Mungkin, kisah gue sama Myla cuma berakhir di sini. Kita memang beda dunia, beda ras, tapi cinta kita tidak beda! Walau Tuhan dan alam berkehendak lain. Tapi gue kudu ikhlas menerimanya. Mungkin ini cobaan yang harus gue lalui. Cobaan patah hati untuk kesekian kalinya yang harus gue lalui ... sendiri.

Breakheart....
kesedihan dan penderitaan emosional yang sangat besar, terutama setelah berakhirnya hubungan cinta atau hubungan dekat.

~Selesai~

[END] Lintas Takdir Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang