12. Perayaan mati rasa

13 2 3
                                        

"Jangan pernah takut melepaskan, karena kita tidak tahu hal-hal apa yang akan terjadi di masa yang akan datang."

•••••

MATI rasa. Kehilangan segalanya. Hilang arah. Sedikit kehilangan kewarasan. Perkataan Myla masih menggaung kuat di benak pemuda yang kini tengah dihampiri kesengsaraan. Perkataan gadis kecil yang ia cintai terus-menerus memutari isi kepalanya, memporak-porandakan otaknya. Kalimat yang dilontarkan makhluk kecil itu terus berputar mengelilingi isi kepalanya, seakan potongan video yang diputar secara berulang.

Perpisahan memang hal yang menyakitkan. Seribu kali seseorang menghindari perpisahan, ada kalanya perkara itu mengetuk  pintu dan menyapa. Memang benar, awal manis belum tentu berakhir sama--manis.

Momen perpisahannya dengan Myla seakan menjadi bayang-bayang Mevrick. Perpisahan yang kejam dengan meninggalkan segudang kenangan manis yang entah bisa dilupakan atau tidak.

"Aku izin pergi, ya, Mevrick. Aku senang bertemu denganmu. Kau manusia pertama yang membuatku mengenyahkan pikiran-pikiran buruk masa laluku. Kau manusia baik, Mevrick. Tetaplah menjadi manusia baik." Myla tersenyum, sembari mengepakkan sayapnya.

Makhluk kecil itu mulai melesat terbang di atas kepala Mevrick. Sesaat, raganya berbalik, kembali menatap anak remaja yang berdiri di atas gumpalan tanah.

"Tetaplah berbuat baik, Mevrick. Aku ... menyayangimu. Kau manusia pertama yang dapat menggerakkan perasaanku. Kau manusia besar yang baik. Kau--"

"Nggak usah banyak bicara, Myla! Kumohon, jangan pergi. Tetap di sini, ya ...." Mevrick menyela.

Myla menghela napas, ia kembali mengepakkan sayapnya, terbang ke bawah, berdiri tepat di depan wajah Mevrick.

"Sudah kukatakan sebelumnya, Mevrick. Aku harus pergi. Aku tidak bisa di sini. Tempat ini bukan daerahku."

"Di sini daerahmu, Myla. Kau bisa menetap di sini. Kalau kau mau, aku bisa membelikanmu rumah khusus untuk seekor peri. Kau bisa tinggal di sini. Bersamaku. Kumohon ...."

Myla diam sejenak, netranya bergerak ke kanan-kiri secara berulangan. Ia sudah kehabisan kata. Keseperkian detik, ia mengembus napas, lantas berkata, "Aku tetap tidak bisa tinggal di sini. Sudahlah, Mevrick! Jangan bersikap seperti ini. Kenapa kau terus-menerus melarangku pergi?" Myla bertanya.

Mevrick diam sejenak, setelahnya menjawab, "Karena aku menyukaimu, Myla. Suka bukan dalam artian kagum, tapi suka dalam artian lain. Kau mengerti maksudku, 'kan?"

Myla lagi-lagi menghela napas, ia mendekatkan diri ke depan mata besar berwarna cokelat milik Mevrick.

"Kau bisa mencari gadis lain. Kau berhak mencari gadis yang setara denganmu, seorang manusia. Bukan seekor peri. Kau lelaki--"

"Tapi aku penginnya sama dirimu."

"Sekali lagi aku tekankan, Mevrick. Kita berbeda! Kau manusia, dan aku peri! BERBEDA!" Myla meninggikan nada bicaranya, sesaat ia memejamkan mata selepas mengutarakan kalimat itu. "Aku lelah dengan semua ini, Mevrick. Kau berhak memilih gadis lain, seorang manusia. Kau harus ikhlaskan aku, kalau bisa ... lupakan aku. Anggap kalau kita tidak pernah bertemu."

Sayap biru Myla kembali mengepak, terbang menjauh dari raga Mevrick. Sesaat, makhluk kecil itu berhenti di udara. Jemari mungilnya bergerak, meraih benda berjenis gantungan dengan bentuk hati di dada sebelah kirinya. Setelahnya ia tersenyum, mengecupnya sekilas dengan mata terpejam, selama beberapa saat. Setelahnya, ia kembali membuka matanya, melempar benda itu, dalam sekejap, selama 4 detik, kepulan asap berwarna merah muda mulai tampak, menutupi raga Myla.

"Selamat tinggal, Mevrick! Aku akan merindukanmu! Carilah gadis lain yang setara denganmu!" teriak Myla dari balik kepulan asap merah muda itu.

Mevrick melihat ke atas, tangannya bergerak di udara berulang kali sembari melafalkan nama orang terkasihnya.

"Myla! Myla!"

Rasanya, Mevrick ingin sekali mencegah kepergian Myla waktu itu. Tetapi ia teringat, kalau sudah ditakdirkan berpisah sama alam semesta ia tidak bisa berbuat apa-apa, 'kan (?)

Pemuda itu duduk di sisi gazebo dengan pandangan mengarah lurus ke depan, kosong, sendu. Segudang perkataan Myla terus memutari benaknya tiada henti. Ia sekarang tak bisa berbuat apa-apa. Memang, berulang kali dirinya mencintai seseorang, pasti akan berujung nahas. Menyedihkan. Setiap ia menjalin hubungan dengan seorang gadis, pasti tidak akan lama ikatan tali perpisahan akan mendobrak, memotong cinta di antara keduanya.

Tapi, kali ini perasaannya berbeda. Ia belum menjalin hubungan sama sekali dengan Myla. Ah, mungkin hubungan sebatas "teman", teman yang spesial. Tapi rasa sakitnya melebihi yang lain--putus dengan para kekasihnya dahulu.

Mevrick mendongak, menatap gumpalan awan di atas sana. Sesaat, ia tersenyum, sangat tipis. "Myla, kita nggak pernah jalin hubungan sebagai sepasang kekasih, tapi kenapa hatiku sakit saat kau pergi?" Pemuda itu bergumam, sedetik kemudian tertawa kecil, sekilas. "Aku emang bodoh karena udah menyukaimu, Myla. Menyukaimu yang jelas-jelas kita nggak mungkin bersatu, karena kita berbeda, seperti yang kau katakan waktu itu. Tapi ... aku nggak bisa mengenyahkan perasaan ini, Myla. Dia bersikeras untuk mendobrak hati bekumu itu."

Pemuda itu beralih mengedarkan pandangan ke kolam ikan, tempat tinggal Myla dahulu. "Akan kutunggu kau kembali ke sini, Myla. Walau nihil. Aku nggak akan membuka hati untuk siapa pun. Sekalipun aku akan mati rasa. Aku tetap menunggumu kembali ke sini, menemuimu, menyatakan kalau kau ingin tinggal di sini, bersamaku, untuk selama-lamanya."

•••••

[END] Lintas Takdir Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang