PEMBUKAAN

24.4K 760 12
                                        

Pengantin baru memasuki kamar. Kamar yang sudah dihias begitu romantis. Namun, ada yang aneh. Wajah kedua pengantin itu muram dan datar, tidak ada ekspresi bahagia dari keduanya. Bahkan, rona malu-malu pun tidak terlihat di raut wajah mereka. Ekspresi penuh cinta yang seharusnya umum untuk pasangan yang baru saja terikat oleh janji suci tidak ada pada mereka.

Wanita dengan gaun indah mulai melepaskan gaunnya di kamar mandi. Ia menatap wajah cantiknya yang masih tampak cantik dengan riasan pengantin. Namun, ia memandangnya seperti hatinya sesak, jiwanya bagai terkoyak. Setelah janji suci terucap dan mengikat, tubuh dan jiwanya bagai terselimuti sesuatu yang menyengat.

Meghan Priccia Salsabilla, yang kini wajahnya dihiasi makeup indah, mencucinya dengan kasar. Bahkan, ia tidak takut jika kecantikannya akan berkurang karena digosok begitu kencang. Ia membenci momen ini, hari ini. Bahkan, pernikahan ini.

Di sisi lain, wanita dengan kemeja putih beserta dasi yang sudah tidak jelas melingkari kerah kemejanya membanting jas pernikahannya. Jas yang sejak tadi ia kenakan untuk menyambut tamu terhormat istrinya. Hatinya sakit menyusuri hidupnya yang entah berliku atau berkilau, mulai detik ini. Dia tidak tahu pasti jalan hidupnya akan ke mana. Sudah sekian lama ia menjadi orang miskin, tapi baru kali ini dia merasa tidak punya harga diri. Bahkan, nama, tubuh, dan statusnya direbut paksa hanya karena uang.

Raigemi Clay Benji mengusap wajahnya kasar, mengacak rambut sepunggungnya dengan frustrasi. Wajahnya memang cantik bercampur tampan tanpa makeup. Tapi, ia juga mengharapkan wajahnya dihias sedemikian rupa di hari pernikahannya. Bukan diubah menjadi sosok laki-laki gondrong yang gagah seperti ini. Entah dia merugi atau beruntung memiliki nama seperti laki-laki dan memiliki suara sedikit berat dan serak. Sampai majikannya sendiri memerintahkannya menjadi "suami palsu", anak semata wayangnya itu. Anak majikannya yang sedang mengandung di luar pernikahan, bahkan usia kandungannya sudah satu bulan tanpa diketahui siapa ayah dari anak itu.

***
RAIGEMI, Point of view

Setelah aku keluar dari kamar mandi, kini giliran aku yang masuk ke kamar mandi. Aku agak kaget saat masuk, kamar mandi mewah ini begitu berantakan. Gaun pengantin tergeletak di lantai, handuk yang sudah basah terletak di bawah shower, dan peralatan untuk wajah yang entah bagaimana susunannya. Sepertinya Mbak Mega telah mengacak-acak isi kamar mandi. Mungkin dia sama hancur dan bingungnya dengan aku.

Aku memilih untuk merapihkan kamar mandi terlebih dahulu sebelum memulai ritual mandi. Meskipun perlengkapan mandi di kamar mandi ini cukup lengkap, aku memilih menggunakan sabun yang aku bawa. Hanya sabun cair botol kecil yang aku suka aromanya dan sabun cuci muka untuk pria, beserta sikat gigiku, karena tidak mungkin aku menggunakan sikat gigi Mbak Mega. Kalau pasta giginya, mungkin aku bisa meminta milik Mbak Mega.

Selesai mandi, aku keluar sudah menggunakan pakaian tidurku, hanya baju kaos tipis tanpa lengan dan celana futsal sebatas paha. Tatapanku menelusuri kamar, tidak ada istriku di kamar yang romantis ini, atau lebih tepatnya istri pura-puraku. Sepertinya dia sudah keluar, karena Bu Mela sudah mengingatkan kami sebelumnya agar ke meja makan setelah mandi. Mbak Mega sepertinya enggan menungguku, atau memang seharusnya dia tidak menungguku? Sebenarnya aku juga tidak berharap dia menungguku. Toh kami menikah hanya sampai anak dalam perutnya lahir. Setelah itu kami bercerai.

Aku ini hanya supir pribadi Bu Mela, ibu kandung Mbak Mega. Ibu dari wanita yang sekarang menjadi istri dadakanku. Lucu sih, saat aku yang sudah 7 tahun bekerja dengan Bu Mela, yang bahkan tujuh tahun lalu, Mbak Mega masih kuliah. Kadang aku juga yang menyupirinya ke kampus. Malah sekarang aku yang dipercaya menjadi suami - eh, ralat lagi, dipercaya menjadi istri pura-pura Mbak Mega.

Padahal mengingat perusahaan Bu Mela yang besar dan pabriknya yang banyak memiliki karyawan lelaki yang gagah dan tampan. Tapi jika alasan Bu Mela adalah agar anaknya tidak dimacem-macemin lagi, masuk akal juga sih. Hidupku sebenarnya sudah berat, kabur dari rumah saat kelas satu SMA, dan sampai sekarang umurku 23 tahun aku tidak tahu keluargaku pindah ke mana. Bahkan pernah dibantu Bu Mela pun keluargaku tetap tidak ketemu.

Geminions (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang