MEGHAN, Point of view.
Aku tidak masalah terikat dalam pernikahan bersama Rai. Selain dia orang kepercayaan Mommyku, aku juga percaya kepadanya. Dia sebenarnya baik, hanya saja memang aku kesal dengan dia yang selalu menuruti perintah Mommyku. Harusnya dia tidak menuruti Mommy untuk menikahiku. Agar aku punya alasan untuk menggugurkan kandunganku. Anak dari laki-laki bajingan yang entah di mana keberadaannya sekarang ini, sangat tidak aku harapkan. Aku bahkan berharap lelaki itu sudah mati menemui karmanya, agar anak dalam kandunganku ini berstatus yatim sejak di dalam perutku.
Aku akui bahwa kebencianku, aku luapkan kepada Rai. Aku jadi membenci wanita itu, karena secara tidak langsung dia menggantikan posisi si bajingan itu. Jika aku disuruh memilih menikah dengan lelaki itu atau Rai, aku masih akan tetap memilih Rai. Tapi tidak dengan cara seperti ini. Tidak dengan cara dia yang dipaksa Mommy agar menutupi status kehamilanku, sampai dia rela berpura-pura menjadi laki-laki di depan para tamu undangan Mommy. Aku tahu aku sudah mencoreng nama baik Mommy, jika saja aku melahirkan tanpa seorang suami kelak. Tapi menjadikan Rai sebagai tumbal dari kesalahanku hanya memperburuk rasa benciku. Mommy egois, dia masih saja memikirkan nama baiknya untuk bisnis-bisnisnya.
"Makan dulu ya," itu Rai. Dia menjagaku dengan baik, tapi aku juga tahu, ini semua pasti perintah Mommy. "Singkirkan, aku mual melihatnya," aku tidak bohong, memang aku mual melihat bubur di mangkuk itu. "Mbak, Mbak harus makan loh. Biar Mbak sama bayinya tetap sehat," "Stop panggil aku Mbak, bukannya Mommy sudah melarangmu memanggil aku dengan embel-embel Mbak," tukasku. Ah, sebal sekali rasanya berhadapan dengan orang yang hanya menghargai Mommyku seperti Rai. Dia seperti anjing yang patuh jika aku sudah menyebutkan Mommyku. Seperti sekarang melihatnya sudah manggut-manggut karena aku menyebut kata 'Mommy'.
"Jadi kamu mau makan apa?" dia bertanya dengan wajah polosnya. Apa wajah ini juga yang membuat Mommyku mengandalkannya, ah mungkin lebih tepatnya memanfaatkannya. "Aku tidak ingin makan Rai!" Dia tampak berpikir, apa yang dia pikirkan sampai keningnya berkerut seperti itu? "Gimana kalau kamu lihat bahan masakan di bawah, lalu aku yang memasaknya." Hem, bukan ide yang buruk. Sebenarnya aku lapar, hanya saja memang akhir-akhir ini aku mual jika dihadapkan dengan makanan yang bukan seleraku.
Setelah menyetujui usulnya, aku langsung memilih bahan yang ada di dapur. Ternyata dapurku cukup lengkap. Aku memilih kentang dan tempe. Hanya itu, selebihnya aku percayakan masakan kepada Rai, aku hanya ingin makan kentang dan tempe bukan memilih masakan apa yang ingin aku makan. Jadi apa pun hasil akhirnya pada kentang dan tempe itu, sepertinya aku tidak peduli.
Setelah memilih bahan, aku hanya duduk di meja bar, menyaksikan Rai memasak. Dia sedang menggunakan baju kaos tanpa lengan dan celana pendek warna krem sebatas paha. Rambut sepunggungnya dia cempol asal. Dia membelakangi aku dengan penampilan seperti itu, bagaimana kolega Mommy tidak terkecoh! Mereka memang pasti menganggapnya lelaki jika tinggi badan dan punggung lebarnya sangat tegap seperti itu, dia tampak seperti lelaki gondrong pada umumnya, apa lagi suara serak-serak basah miliknya terdengar rendah dan berat. Harusnya suara itu begitu merdu jika dia lelaki sungguhan.
Oh jangan lupakan kumis tipis lembutnya. Sebenarnya dia benar-benar perempuan'kan? Aku jadi ragu. Heh, kenapa aku malah jadi mengomentari penampilannya? Anakku sepertinya menyukai Rai, karena saat pagi tadi, kala tubuh berkeringat Rai memapahku sampai ke kasur, aroma tubuhnya malah aku sukai. Kira-kira parfum apa yang dia gunakan ya? Gengsikan, kalau aku terang-terangan bilang suka aroma tubuhnya. Lebih baik memastikan parfum miliknya dan menyemprotkan parfum itu ke bantalku, mungkin dengan begitu rasa mualku akan berkurang.
Tapi jujur, aku sangat membenci Rai, bahkan ketika melihat wajahnya itu aku jadi ingin marah-marah. Sebenarnya wajahnya lumayan juga, hanya emosiku selalu tersulut saat melihat wajah polosnya! Wajah kerennya tidak cocok memiliki tampang polos seperti itu! Aku ngelamunin apa sih.
Seberapa lama juga aku melamun? Sampai Rai kini tengah menyajikan tempe orek dan sambal kentang kehadapanku? Kutatapi Rai yang mulai menyendok nasi ke piring, memberi sedikit sambal kentang dan tempe orek di sisi nasi. Setelahnya, piring itu mendarat di hadapanku. Dia tersenyum lebar, tapi aku sama sekali tidak suka. Karena aku yakin, andai saja aku bukan anak Mommy, pasti dia tidak akan memperlakukan aku sebaik ini. Sialan!
Aku mulai makan dan menikmati makananku, rasanya oke juga cukup masuk di lidahku yang agak pemilih.
***
Lagi-lagi aku mual. Pemicunya adalah wajah Rai, melihat wajahnya saja aku sudah memuntahkan lagi isi perutku. Dia kembali membantuku, dia memijat pelan leher belakangku dan kembali membantuku ke kasur saat tubuhku sudah lemas karena muntah. Anehnya, saat tidak melihat wajahnya, aku begitu menyukai dirangkul olehnya, menghirup aromanya membuat perasaanku tenang, tapi tidak dengan melihat wajahnya! Apa aku suruh dia pakai topeng saja ya? Tapi lebih baik aku menghindari melihat wajahnya saja daripada menyuruhnya menggunakan topeng, nanti dia tersinggung kan gak bagus juga.
Aku masih berbaik hati, walau aku membencinya. Kenapa aku malah menangis, tiba-tiba otakku kembali memutar kejadian pemerkosaan itu, pemerkosaan yang dilakukan Fedri, mantan pacarku. Dadaku sesak sekali! Aku meremas perutku yang masih rata, ayolah, aku tidak menginginkan anak ini! Aku tidak ingin anak hasil perlakuan bejat! Adilkah Tuhan? Ketika aku hanya ingin menjaga kesucianku untuk suami yang aku damba, malah Fedri melakukan hal sekejam ini? Bahkan aku sudah putus 2 tahun dengan Fedri, kami hanya pacaran sebulan, karena dia meminta tubuhku kala itu, adilkah jika aku tersiksa karena perlakuannya? Tidak mau kah Kau memberi karma untuknya, Tuhan?
"Mega, kamu kenapa?" Nada Rai terlihat panik, dia menaruh gelas dengan kencang ke atas nakas. Aku malah membenci sikap perhatiannya seperti ini. Tapi daripada mengumpat, aku lebih memilih menunduk dan membiarkan dia berdiri di samping kasur yang sedang aku duduki. Aku membutuhkan aroma tubuhnya.
"Meg!!" Pekikan seseorang membuatku memalingkan wajah ke arah pintu kamar, sepertinya Rai melakukan hal yang sama. "Lu apain Mega, anjing!" tariaknya. Aku memeluk pinggang Shaly yang sudah berdiri di hadapanku yang masih duduk di kasur. Shaly mendorong tubuh Rai menjauh. Shaly adalah sahabatku yang paling tahu apa yang telah menimpaku belakangan ini. Kehadirannya membuatku sedikit tenang.
"Shal- hiks," aku bahkan tidak sanggup mengucapkan sesuatu "Cengeng banget sih lo, lo diapain sama dia?" tanya Shaly "Enggak Shal, gue cuma- keinget malam itu," rasa nyeri di dadaku kembali menyeruak penuh, rasanya begitu sesak. "Sstttt. Jangan diinget lagi, lo kan udah nikah. Mana suami lo biar gue tonjok kalau dia berani nyentuh dan bikin lo trauma?!" Eh? Shaly gak sadarkah kalau suamiku yang berada di atas altar kemarin adalah Rai yang tadi didorongnya? Bodoh sekali dia. Apa hanya karena Rai tidak menggunakan jas, dia jadi sulit mengenali? Atau minus matanya itu bertambah? Tapi sejak kapan Shaly minus mata?
"Bego! Itu dia di belakang lu!" umpatku. Rasanya aku sudah tidak ingin menangis. Bahkan air mataku sudah berhenti. Ini memang moodku yang mudah berubah karena hamil atau memang tingkah bodoh Shaly mengalihkan kesedihanku. Karena rasanya sekarang aku lebih ingin mengumpat. "Dia cewek anjing!" "Ya emang cewek bego!" "Hah?!" Sekarang aku ingin tertawa melihat reaksi bingung Shaly dan reaksi salah tingkah Rai.
Dengan mudah moodku kembali berubah. Akhirnya aku membiarkan Shaly duduk di sampingku, aku menceritakan semuanya, tentang Rai supir pribadi Mommyku yang dipaksa menjadi suami pura-puraku. Bahkan tentang kontrak perkawinan yang aku buat. Shaly memandangi wajah Rai yang sudah duduk di sofa sejak tadi, sepertinya dia sedang membandingkan lelaki yang berdiri di atas altar bersamaku dan wanita yang kini sedang duduk di sofa itu, ya, dia Rai siapa lagi? Kan dia orang yang sama yang mengucapkan janji suci bersamaku.
"Mirip sih," "Bukan mirip bego! Emang orang yang sama," "Tapi kan yang kemarin nikahin lo ganteng, Meg! Mas-mas gondrong berjenggot gitu!" "Itu jenggot palsu, pinter!" Aku menoyor kepala Shaly. "Eh, tapi kaya jenggot asli," "Ya kan emak gue nyewa MUA mahal!" Kini Shaly menganggukkan kepala, matanya kembali menatap Rai. "Lu jangan sentuh-sentuh Mega ya! Inget jangan ambil kesempatan dalam kesempitan. Walau dia istri lu, tapi dia anak bos lu!" Shaly menunjuk dan berbicara kepada Rai.
"Iya kak, enggak kok," jawab Rai, wajahnya tampak ngeri melihat wajah seram Shaly. Aku jadi punya pikiran usil. "Boong Shal, dia nyentuh gue, dia nyentuh gue di kamar mandi tadi!" aduku. Lucu rasanya melihat wajah panik Rai sekarang. Shaly sudah bangkit dari duduk di sampingku, dia menghampiri Rai yang kini sudah membuat tameng dengan tangannya. Aku terkekeh geli menyaksikan itu.
"Berani-beraninya lu!" "Enggak kak, sumpah. Aku cuma bantuin Mega yang lagi muntah tadi," Rai menjelaskan kebenarannya. Shaly sudah mencekik leher Rai. Aku tertawa terbahak menyaksikan mereka, aku tahu Shaly tidak akan mencekik kuat Rai. Jadi aku biarkan saja mereka bergelut.
***
Malam hari datang, tapi aku tidak bisa tidur. Aku ingin menghirup aroma Rai, tapi aku lagi mual melihat wajahnya. Aku sudah mencari parfum Rai, pun tidak ketemu. Rai sedang di balkon, sepertinya sedang telponan dengan seseorang. Kata Mommy, Rai sudah memiliki kekasih perempuan, Rai juga menyetujui perintah Mommy untuk menutupi kehamilanku dengan pernikahan palsu ini karena sesuatu yang dijanjikan Mommy, yaitu pernikahan mereka nanti.
Kalau sudah begini, gimana aku tidak membenci Rai? Dia memang benar-benar melakukan apa pun yang diperintah Mommy kan?! Dan dia melakukan itu memang untuk hubungannya, biaya yang dikeluarkan untuk hubungan seperti mereka itu kan tidak sedikit. Aku menganggap dia sama saja seperti manusia-manusia yang memang akan tergiur dengan uang. Memangnya siapa yang tidak tergiur dengan uang? Tapi, kenapa perasaanku aneh begini?
GEMINIONS
KAMU SEDANG MEMBACA
Geminions (END)
Ficção AdolescenteGxG. Semua berawal dari pernikahan terpaksa. Pernikahan kontrak, bahkan perceraian yang sudah diatur waktunya. Namun semua berubah, Raigemi begitu mampu memikatku. Apa aku akan berhasil mempertahankan pernikahan pura-pura ini menjadi nyata? -Megan-
