"tapi Gemi mirip sama kamu deh, apa karna Mega sebel sama kamu ya pas dia hamil"
"Maybe sayang"
"Tapi Gemi ganteng banget sayang, lebih ganteng dari kamu"
"jangan bilang aku ganteng, Sekar Arum Dewi Purnama"
"emang ya, susah kalo orang cakep gak ngerasa dirinya cakep tuh, bikin jatuh cinta gitu, kaya kamu gini"
mendengar penuturan Sekar membuat Rai menatap tajam wanita yang masih betah memeluknya itu sejak sampai di hotel. "jadi kamu cinta sama aku karna aku gak ngerasa cakep?" tanya sinis Rai, biar begitu sebenarnya ia tidak marah
"hem, dulu pas sekolah nerima anak baru yang di gunjang gunjing super duper cantik dan dingin, aku ngeliatnya malah biasa aja hihi, abis muka kamu gak pernah senyum si, ngebingungin lagi, cewe tapi ganteng"
"iya juga si, aku ga menarikkan dulu di mata kamu, kamu sukanya yang murah senyum kaya Dio, Aldi, Budi, kan"
"hahahaha selalu aja kalo bahas masa sekolah bahasnya mantan aku, sayang inget umur deh"
'cekk' decak Rai, mengingatkan masa sekolah hanya mengingatkan bahwa wanitanya adalah beken di sekolah, membongkar kembali jika wanitanya juga dulu berpacaran dengan lelaki walau kini sudah menemukan jati diri dengannya, namun tetap saja Rai masih merasa cemburu jika mengingatnya.
"jadi kamu mau marah?"
"engga, mau kesel doang"
dengan gerakan cepat Sekar mengecup pipi Rai, membuat Rai yang semula cemberut jadi menahan senyumnya.
*****
"jangan tinggalin aku sebelum Gemi bisa ngomong Appa"
Mungkin ucapan Mega itu hanya aku yang bisa mendengarnya, mengingatnya kembali membuat kepalaku berdenyut pusing, aku seperti terjebak dalam pernikahan pura-pura yang semakin dalam.
mengingat dan melihat Mega setiap hari, bukannya aku bodoh mengartikan sikap ia yang sebenarnya mendabaku, namun aku tau siapa aku dan apa yang hatiku mau, menyayangi jelas aku menyayangi Mega, sejak dulu aku menyayanginya, namun sudah terdoktrin jika Mega adalah kakakku dan itu sudah dalam waktu yang lama, perasaan asing itu tidak mungkin muncul terhadapku.
bahkan aku sudah berusaha menerima Mega sebagai istriku dalam hatiku, kenyataannya hatiku sudah terlalu penuh, penghuni hatiku begirtu pandai menata hatiku sehingga selalu tertata dan tidak ada celah untuk seseorang lagi.
dia Sekarku, dia rumahku yang sesungguhnya, definisi menjadikan manusia lain sebagai rumah adalah aku menggambarkan Sekar.
aku ingin jadi yang terbaik untuk Sekar, dimana satu-satu wanita yang tidak berhenti mengagumiku setelah mengetahui mobil mewah yang aku bawa kesekolah pada masa itu hanyalah milik majikanku, milik bu Mela yang selalu memaksaku menggunakan mobil-mobilnya untuk aku berangkat ke sekolah, walau mobil yang aku gunakan sudah terbilang yang paling murah, tetap saja sudah golongan mewah.
sebenarnya banyak yang tidak berhenti mengangumiku hanya karna aku seorang supir, namun harus aku akui sekolah bergengsi itu dipenuhi dengan manusia bergengsi juga, beberapa menjauh dan sebagian tidak lagi terang-terangan mengangumi, hanya mengagumi secara sembunyi-sembunyi kadang hanya mendekatiku melalui pesan singkat, membuatku tidak ingin merespon mereka lebih jauh.
hanya Sekar yang konsisten sejak awal tidak terlihat tertarik, namun ia perduli. saat waktu menumbuhkan yang seharusnya tidak tumbuh di antara kami, perasaan yang memang sejak awal sudah salah namun tidak bisa di tolak.
aku menatap kembali wanita yang sedang tidur dalam satu selimut denganku, dengan tanpa busana ia tetap terlihat nyaman didalam pelukanku. rasa saling menularkan dan berbagi kenyamanan tidak terdapat di semua manusia, walau nampak rupa dan raganya lebih sempurna sekalipun. ini tentang rasa yang sudah mengendap menjadikanmu candu di cintai dan mencintai. dan bagiku itu hanya terdapat pada Sekar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Geminions (END)
Fiksi RemajaGxG. Semua berawal dari pernikahan terpaksa. Pernikahan kontrak, bahkan perceraian yang sudah diatur waktunya. Namun semua berubah, Raigemi begitu mampu memikatku. Apa aku akan berhasil mempertahankan pernikahan pura-pura ini menjadi nyata? -Megan-
