"Put, kita belum UN. Put, kita belum ujian seleksi masuk perguruan tinggi. Put, kita belum graduation."
"Diam! Jangan menambah beban pikiran pasien. Itu malah memperlambat dia untuk sadar."
"Tuh, Ger. Kita berdoa saja, supaya Putri tidak kenapa-kenapa."
"Lagipula kau juga buat apa saat jam seperti itu baru masuk ke sekolah. Tidak lihat-lihat apa yang di depanmu pula."
Aku mendengar 3 orang laki-laki, ah tidak yang satu seorang perempuan seperti sedang menenangkan laki-laki cerewet ini. Siapalagi kalau bukan Gerry. Buat apa Gerry pagi buta seperti ini.
"Gerr, jangan berisik. Aku mengantuk."
"PUTRR—" Mulut Gerry ditutup oleh, oleh Alfian?
"Alfian? Eh? Aku dimana? Kenapa ada suster? Ini bukan di rumahku? Aku pikir aku sedang tidur tadi, ah!! Kepalaku pusing."
"UGD. Kau tak ingat, tadi siang kau tertabrak oleh orang itu?" Gerry menunjuk Alfian. Aku ingat, aku berlari keluar sekolah—merajuk karena Gerry tak mau memberikan tumpangan untuk pulang.
"Tadi siang, anda tertabrak oleh orang ini. Dan dia bersama teman anda yang satu ini cepat-cepat menghubungi rumah sakit. Untung saja, pertolongan cepat dilakukan jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya luka kecil dilengan anda. Anda butuh istirahat dulu disini." Jelas suster itu. Masih sangat muda menurutku untuk menjadi suster, sepertinya ia baru saja lulus.
"Oke, terimakasih suster. Apa boleh saya istirahat di rumah saja?"
"Tidak, kau harus dirawat disini. Dan aku yang akan merawatmu selama kau disini. Aku hanya ingin bertanggungjawab atas semuanya. Kau pikir aku akan diam saja setelah menabrakmu tadi siang?"
Memang benar, Alfian harus bertanggungjawab karena telah menabrakku, tapi aku bosan harus berada disini terus-terusan. Apalagi, ini masa sibuk-sibuknya untuk kelas 12.
"Bagaimana kalau kau merawatku di rumah? Aku masih banyak tugas yang harus aku kerjakan di rumah. Aku tidak ada waktu untuk dirawat di rumah sakit."
"Oke, mari anda ikut saya untuk mengurus administrasinya." Alfian dan suster meninggalkan ruang UGD.
--------------------
KAHFI ALI FADHILLAH'S POV
Alfian Rangga, "Kau bisa membantuku?"
Tidak. Apalagi yang diperbuat anak ini. Aku cukup bahagia karena sudah lama tidak mendengar kabar Garing yang negatif, aku bahagia sahabatku ini sudah mengerti bagaimana menjadi siswa yang baik. Ada apa ini. Perasaanku tidak enak.
Aku harus menelfonnya, batinku.
"Ring, apa yang harus ku bantu? Aku harap kau tidak berbuat sesuatu yang membuat ibumu ceramah hampir 5jam. Perasaanku tidak enak."
"Aku menabrak teman sekolahku siang ini. Bisakah kau membawa uang lebih? Karena aku harus membayar biaya perawatan dan ambulans. Kau bisa datang ke rumah sakit sekarang juga? Uangku tidak cukup untuk membayarnya."
"Menabrak?! Bagaimana bisa?! Oke, aku akan ke rumah sakit sekarang juga. Tunggu disitu."
------------------
Jaket hitam dengan penutup kepala, menutup sebagian kepala Alfian. Ia terlihat sangat merasa bersalah, duduk sendirian di depan tempat administrasi rumah sakit.
"Ring! Kau tak apa? Bagaimana keadaan temanmu?"
"Ali, kau memang sahabatku yang terbaik. Tak salah aku menghubungimu pada saat seperti ini. Maaf bila aku merepotkanmu." Kami berjabat tangan seperti biasanya, tapi lebih singkat karena ini sedang keadaan darurat.
"Aku pinjamkan uangku, tapi kau harus berjanji tidak akan ceroboh lagi. Bisa-bisanya kau menabrak teman sekolah sendiri. Setelah urusan administrasi selesai, aku ingin lihat keadaan temanmu. Boleh?"
Garing mengangguk. Kali ini sedikit lebih semangat dari sebelumnya. Aku yakin pasti ia sangat merasa bersalah saat ini, walaupun dulu ia terkenal sebagai anak nakal atau urakan, dia adalah tipe anak laki-laki yang memikirkan keadaan musuhnya setelah perkelahian. Apalagi sekarang ia tak sengaja menabrak temannya sendiri.
"Sudah selesai?"
"Sudah, Li. Sekali lagi terimakasih ya," Garing memelukku. Mungkin ini agak terlihat dramatis, tapi inilah persahabatan kami. "Aku menabrak seorang perempuan, namanya Putri. Dan seharusnya aku bisa mendapatkan hatinya, tapi aku malah membuatnya terluka hari ini."
Nama yang tidak asing sebenarnya. Tidak, nama Putri di Indonesia kan banyak sekali dan tak hanya satu. Walaupun sekolah mereka sama tapi aku yakin, perempuan ini bukan dia.
Terlihat dua orang, yang satu perempuan dengan lengan yang sedang di perban. Dan satu lagi, "Gerry? Untuk apa kau disini?" Tidak. Tidak lagi jangan perempuan yang sama, lagi.
"Kau sudah mengenal mereka berdua? Putri dan Gerry? Ini dia orang yang aku tabrak."
Riana, maksudku Putri masih terlihat lemah dan duduk disebelah Gerry. Dia berusaha tersenyum kepadaku, mukanya pucat. "Iya, aku mengenalnya. Putri, biasa aku panggil Riana. Dia temanku di bimbingan bahasa Inggris. Dan ini, sahabatnya Gerry, kan?"
"Sudah-sudah aku ingin mengantar sahabatku yang ditabrak sahabatmu tadi siang, Li. Maaf aku dan Putri harus pergi sekarang."
Mereka terlihat tergesa-gesa setelah melihatku. Putri, tidak berani menatap wajahku. Kau tidak apa-apa, kan? Aku berusaha berbisik saat Gerry menarik tangan Putri. Dia hanya mengangguk lalu mereka pergi begitu saja.
"Kau menyukai Putri, Li?" Akhirnya Garing memecahkan semua kecanggungan ini setelah Putri dan Gerry pergi.
"Iya, tapi tenang saja. Kita dulu kan pernah berjanji tidak akan jatuh cinta dengan orang yang sama. Jadi, saat ini aku yang akan mundur. Tapi, tolong kali ini jangan sakiti dia. Jaga dia, kau siap?"
Kami berjabat tangan. Sebenarnya berat. Aku baru merasa bahwa aku jatuh cinta dengan perempuan ini. Dan aku harus merelakannya untuk sahabatku. Munafik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Andai Dia Tahu
JugendliteraturMungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang ku rasa Mungkin kah dia jatuh cinta Seperti apa yang ku damba Tuhan yakinkan dia Tuk jatuh cinta Hanya untukku Andai dia tahu? Kalian pasti tahu lirik Kahitna itu. Yap! Judul lagunya 'Andai Dia Tahu'. Seper...
