"Boleh duduk disini?"
Aku mengangkat kepalaku untuk melihat siapa yang sedang berbicara. Seorang laki-laki yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Aku melihat seluruh isi kantin di sekolah ini yang mungkin tak seluas kantin-kantin di sekolah kalian, semua bangku sudah penuh. Lagipula Patricia dan Gerry hari ini harus sibuk ulangan susulan Biologi jadi aku harus istirahat sendirian tanpa mereka.
"Ehm, tidak boleh ya? Maaf mengganggumu ya, Kak."
"Kak?" Aku lihat badge di seragamnya terlihat dia anak kelas 12. Tapi, "kau memanggilku 'Kak'? Kau kan anak kelas 12? Sama sepertiku." Aku menunjuk badge yang ada di seragamnya itu.
Ia menggaruk tengkuknya dan terlihay grogi, "aku bingung harus memanggilmu apa. Jadi boleh atau tidak duduk disini?"
Aku menangguk sambil tersenyum mempersilahkan ia duduk. Dan aku kembali melanjutkan sarapan pagi yang terlambat hari ini.
"Aku merasa terlalu canggung, jadi bagaimana jika aku memperkenalkan namaku. Alfian Rangga. Panggil saja aku Alfian, kelas 12 IPA-2."
"Pantas saja aku tak pernah melihatmu, kitakan berbeda gedung." Aku tertawa kecil dan Alfian juga. "Aku Putri Andriana, panggil saja Putri atau Riana, kelas 12 IPA-4."
"Kau biasanya bersama kedua temanmu? Dimana mereka?"
Aku mengkerutkan keningku, "maksudmu Patricia dan Gerry? Bagaimana kau kenal mereka?"
Dia tertawa kecil, "kalian kan panitia pentas seni kemarin mana mungkin aku, bahkan anak murid sekolah ini tak mengenal kalian. Aku bangga sekolah ini bisa membuat acara sehebat kemarin."
Aku jadi teringat Ali. Seingatku aku tidak sempat melihatnya naik keatas panggung. Salahku sendiri yang membesarkan gengsiku yang membuatku melewatkan kesempatan melihat dan mendengar Ali bernyanyi. Semua karena kak Harry.
Aku penasaran lagu apa yang mereka nyanyikan, dan seperti apa lagu yang mereka punya. Aku penasaran dengan suara merdu Ali, atau suaranya biasa saja?
"Kau memikirkan apa?" Alfian kini terus memerhatikanku yang sedari tadi terus memikirkan Ali. Makanannya juga hampir habits, cepat sekali. Tidak sepertiku yang menghabiskan waktu lama untuk makan.
Aku menggeleng, "aku ke kelas duluan, ya. Dah!" Aku melambaikan tanganku ke arah Alfian. Lalu ke arah pak Min untuk membayar mie ayam yang tadi aku pesan.
Aku merogoh kantong seragam putihku, namun tak menemukan dompetku. Kantong rok juga tak ada. Aku mulai panik. Inilah kebiasaanku, yaitu teledor terhadap barang-barang berharga.
"Kau mencari ini?" Ada laki-laki yang menyuguhkan dompetku.
"Eh? Iya, terimakasih! Aku kira terjatuh dimana, ternyata tertinggal di meja makan kita tadi, ya." Aku kemudian membayar mie ayam, lalu berterimakasih kepada Alfian yang telah memberikan dompetku.
Aku bergegas kembali ke kelas, namun Gerry dan Patricia belum juga kembali dari Ruang Guru. Jadi, aku memutuskan untuk menyalakan iPod-ku dan memasang headset sambil membaca novel yang baru saja aku beli bersama Mama.
You and me, we made a vow
For better or for worse
I can't believe you let me down
But the proof's in the way it hurts
Lantunan lagu Sam Smith - I'm Not the Only One terdengar jelas di telingaku. Tak menghiraukan kegiatan-kegiatan yang di lakukan anak kelasku saat jam istirahat, aku tetap membaca novel dengan tenangnya.
For months on end I've had my doubts
Denying every tear
I wish this would be over now
But I know that I still need you here
You say I'm crazy
'Cause you don't think I know what you've done
But when you call me baby
I know I'm not the only one
Pertengahan lagunya sangat menggambarkan keadaanku dengan kak Harry, aku bukan satu-satunya yang ada di hatinya. Bukan hanya aku yang selalu ada di pikirannya. Aku terlalu bodoh untuk menunggunya, terlalu bodoh untuk percaya dia pergi hanya untuk pendidikan.
Bulir air yang bening kembali menetes di mataku, dan alasannya masih sama yaitu karena aku mengingat kak Harry. Tak seharusnya aku berlarut-larut memikirkan kak Harry. Tak seharusnya aku masih menangis saat mengingatnya. Aku ingin ada yang membuatku melupakan semuanya tentang kak Harry.
Apakah Ali?
"Aw!!" Aku merasakan ada yang mencabut headset ku dengan tiba-tiba.
"Memikirkan Harry-mu sayang? Lagi?! Putri Andriana yang cantik jelita, baik hati, dan suka menabung.. Sudah berapa kali aku katakan, berhenti memikirkan dia. Berhenti melakukan aktifitas yang membuatmu mengingatnya kembali. Berhenti." Gerry mulai menunjukkan emosinya. Itulah kebiasaannya saat memberiku wejangan tentang kak Harry pasti penuh dengan emosi.
"Sudah, jangan berteman eh maksudku bertengkar. Put, kamu ditunggu anak 12 IPA-2 tuh. Aku lupa namanya, Alif, atau Al.. Aliando mungkin." Patricia tertawa kecil lalu menunjuk laki-laki yang sedang bersandar di tiang diantara kelasku dan kelas 12 IPA-5.
"Tuh, sudah banyak laki-laki yang menginginkan hatimu yang kosong dan rapuh itu. Kau saja yang tak pernah mau membukanya." Gerry terus mengoceh dengan nada mencibir.
Aku lalu menginjak kaki Gerry dan berjalan menuju koridor di depan kelas. "Ada apa, Al?"
"Em, aku lupa bertanya tadi. Kau sangat terburu-buru untuk kembali ke kelas, jadi aku tak berani menahanmu."
"Bertanya tentang apa?" Aku mengkerutkan keningku.
"Kau mau pulang bersamaku?" Dia mengusap tengkuknya, dia semakin terlihat grogi disaat seperti ini. "Kalau kau tak bisa tak apa."
"Aduh, maaf bukannya aku menolak. Tapi aku setiap hari membawa sepeda motor jadi tak perlu kau repot-repot untuk mengantarku pulang."
Dia tersenyum, "tak apa. Lain kali jika kau tak membawa sepeda motor, aku siap mengantarmu pulang." Alfian mengacungkan jempolnya. Dan mengacak-acak rambutku. "Sudah, aku kembali ke kelas dulu, ya. Dah!"
Aku hanya tersenyum dan kembali memikirkan.
Atau mungkin Alfian?
KAMU SEDANG MEMBACA
Andai Dia Tahu
Teen FictionMungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang ku rasa Mungkin kah dia jatuh cinta Seperti apa yang ku damba Tuhan yakinkan dia Tuk jatuh cinta Hanya untukku Andai dia tahu? Kalian pasti tahu lirik Kahitna itu. Yap! Judul lagunya 'Andai Dia Tahu'. Seper...
