Bagus, sekarang aku mengingat Ali lagi dan lagi.
"Tapi memangnya dia merasakan itu? Bisa saja kan dia dia baik kepadaku karena dia menganggapku teman?"
"Aduh siapa sih yang menganggap kakak hanya teman?" Suara lembut Mama memberhentikan kegiatan bodohku berbicara sendiri sambil memikirkan Ali.
"I-itu Ma, temannya Gerry dia begitu tak begitu menganggapku temannya Gerry. Dia terlihat sangat sombong." Bagus, sekarang aku berbohong.
"Yakin? Bukan laki-laki yang pernah shalat Jum'at di masjid belakang rumah kita itu?" Mama menyolek lenganku.
Mama tau darimana? Siapa yang berani-berani cerita? Padahal waktu itu tidak ada siapa-siapa. Pasti Gerry! Pasti!
"Tidak bisa menjawab pertanyaan mama? Berarti jawabannya, iya itu orangnya. Haha."
"Mama..... Dia kan hanya teman sebayaku di tempat bimbingan bahasa Inggris," aku mulai mengatakan yang sebenarnya. "Lagipula dia anak sekolah unggulan yang waktu itu aku impikan saat duduk di bangku kelas 9. Mana mungkin ia mau melirik perempuan yang bersekolah di sekolah reguler sepertiku."
"Jangan pernah merasa terlalu merendah seperti itu. Tak perlu memaksa menjadi seperti apa yang dia mau. Kalau kamu bisa membuatnya nyaman dengan apapun sifatmu, dia juga pasti akan menerima bagaimana pun kamu."
"Tapi aku baru dekat dengannya seminggu lebih ini. Apa mungkin dia punya perasaan yang secepat itu?"
"Kalau kamu saja bisa cepat jatuh cinta dengannya, kenapa ia tidak?"
Aku terdiam, benar kata Mama seharusnya aku menyadari dia pasti punya perasaan yang sama. Itupun masih mungkin.
"Oh iya, bagaimana dengan acara pentas seni di sekolahmu? Tadi kak Harry menelpon ke rumah. Katanya kalau ia menelpon ponselmu tak pernah kau angkat. Ia ingin bertanya apakah bisa ia dan band-nya tampil di acara pentas seni nanti?"
Untuk apa dia menelfonku lagi? Masih saja ia pura-pura baik di depan Mama. "Kalau ia menelfon lagi, bilang datang saja sendiri ke sekolah." Kataku ketus.
"Kau hubungi saja sendiri. Anak Mama tidak boleh ketus-ketus sama laki-laki. Nanti tidak ada yang mau mendekatimu, loh. Sudah ah, Mama mau lanjut memasak lagi. Mau Mama masakkin semur ayam?"
"Mau!!" Aku memeluk Mama. Seberapa beruntungnya aku punya Mama yang cantik, lembut, dan masakannya tak pernah mengecewakan lidahku.
----------------------------------------
"Put!! Itu kak Harry datang bersama teman-temannya!!" Patricia berlari menaikki tangga menuju kelas. Tampak terengah-engah tapi raut wajahnya sangat bahagia.
"Ada apa, Patricia? Aturlah nafasmu terlebih dahulu."
"Huh. Sudah. Jadi, dibawah aku melihat kak Harry dengan teman-temannya! Ia ingin menemui Rio ketua pelaksana pensi kita itu. Ada apa ya?" Patricia sangat bersemangat.
Pasti ingin menanyakan soal band. "Ah biarkan saja, dia kan bukan urusanku lagi."
"Aku sih sebenarnya tidak ingin terlalu membahas kak Harry. Tapi kak Hasan! Aku sangat merindukannya semenjak ia lulus dari sekolah ini. Kau tau? Dia semakin tampan."
"Benarkah? Kau tak mau menghampirinya? Kan tak sering loh dia datang kembali ke sekolah."
"Benar juga! Ayuk! Temani aku menghampiri kak Hasan!" Patricia menarik tanganku kencang. Oh tidak, batinku.
Patricia membuatku harus berlari sampai ke arah ruang OSIS di lantai 1. Aku tak menyangka masih saja ia mengagumi kak Hasan yang dulu pernah membuatnya bahagia sampai kelangit ke tujuh namun harus menelan rasa pahit karena ternyata kak Hasan mempunyai pacar yaitu teman sekelasnya.
"Ayuk, Put!!"
"Tidak ah, aku tunggu disini saja."
"Ayuuuukk!! Aku ingin lebih dekat lagi melihat kak Hasan."
"Kau saja. Aku bilang aku menunggu disini saja." Aku terus menahan tarikkan tangan Patricia. Aku benar-benar tak ingin lagi menatap kak Harry dari dekat.
"Biarkan saja kalau Putri tak mau menemanimu." Suara itu menghentikkan tarikkan tangan Patricia. Dan sebuah telapak tangan mengusap kepalaku.
Aku menoleh ke belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Andai Dia Tahu
Teen FictionMungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang ku rasa Mungkin kah dia jatuh cinta Seperti apa yang ku damba Tuhan yakinkan dia Tuk jatuh cinta Hanya untukku Andai dia tahu? Kalian pasti tahu lirik Kahitna itu. Yap! Judul lagunya 'Andai Dia Tahu'. Seper...
