Criminal 9

1.6K 85 7
                                        

Happy Reading...

.

.

.

.

.

.

Pond duduk, sedangkan Phuwin dia ingin pergi meninggalkan Pond sendiri. Tapi, semua niatnya itu hanyalah angan-angannya saja. Karena, kini Pond menarik tangan Phuwin dan mendudukkan Phuwin diatas pangkuannya.

"Lepas! Apa kau gila! Phi Dunk masih didapur, sebentar lagi dia akan kemari." Berontak Phuwin, lalu dekapan itu terlepas. Pond mendudukkan Phuwin disampingnya.

Dunk membawa minuman dan beberapa makanan.

"Apa kalian sudah sarapan?" Tanya Dunk lembut, persis seperti sosok ibu yang menyapa kekasih dari anaknya.

"Sudah Phi, kami sudah sarapan." Ucap Pond, phuwin hanya menatap datar interaksi mereka.

"Phuwin, ada yg ingin kau sampaikan pada Phi?" Tanya Dunk, bagaimanpun mereka adik kakak. Dunk tau bagaimana sikap Phuwin dan apa saja hal yg tersirat di mimik wajah Phuwin. Tapi, hanya gelengan yg Dunk dapat sebagai jawaban.

"Tidak Phi, aku hanya akan kembali kekamar. Kakiku agak terkilir kemarin, tapi itu tak apa-apa kau tak usah khawatir." Ucap Phuwin, menenangkan. Tatapan Dunk pun berubah menjadi khawatir.

"Apa masih sakit? Apa kita perlu kedokter?" Khawatir Dunk.

"Tenang saja Phi, aku sudah memberikan pengobatan untuk Phuwin." Ucap Pond, mengundang delikan dari Phuwin.

"Oh.. apa kau juga dari Fakultas kedokteran?" Tanya Dunk.

"Bukan, saya berada di Fakultas Teknik. Maksudku, kemarin kami sudah kedokter." Bohong Pond, Dunk merasa lega mendengarnya.

"Ya sudah, kalau begitu tolong jaga Phuwin dulu Pond. Phi akan pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan, makanlah disini sebelum pulang nanti." Ucap Dunk, lalu mengusap kepala Phuwin sayang dan pergi mengambil Tas selempangannya.

.

.

.

.

.

Dunk tadinya hanya ingin pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Tapi, karena ada Pond. Dunk memberikan waktu untuk adiknya berdua dengan sang kekasih, ia memutuskan untuk berjalan-jalan dulu dimall, tanpa tau bahwa hal itu adalah keputusan salah karena kini Pond mengambil kesempatan itu untuk kembali memperkosa Phuwin.

Dengan sekali gerakan kini Phuwin ada dalam gendongan Pond dan membawanya kedalam salah satu kamar yang ia yakini ini adalah kamar Phuwin.

"Pond Naravit, apa kau gila!? Apa yang mau kau lakukan!" Teriak Phuwin, disaat ia kembali ditindih oleh sosok itu.

"Kita akan melakukan kegiatan menyenangkan." Jawab Pond, lalu mulai menggerayangi dan mencium bibir Phuwin dengan rakus.

Beberapa menit kemudian, suara desahan dan lenguhan itu terdengar dari dalam kamar Phuwin.

.

.

.

.

.

Sepertinya bukan hanya salah dalam keputusan tentangnya atas sang adik. Tapi kini, dia harus menyalahkan keputusannya akan dirinya sendiri. Karena, dua sosok didepannya kini bukannya membuat hari liburnya menyenangkan dengan menatap beberapa barang mahal yang dipajang disana. Malah hancur dan membuat moodnya turun drastis.

CRIMINAL Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang