Bab 22. Nafkah Masing-Masing

161 7 0
                                        

"Kau ini suka mengadu ya." Romi menuduh Tina.

"Mengadu apa Bang?"

"Kau bilang apa sama Ibu?"

"Aku hanya cerita apa yang sebenarnya terjadi. Aku gak bermaksud mengadu tapi Ibu juga melihat dan bertanya jadi aku menjawabnya Bang."

Romi terlihat tidak suka dan tersinggung. Padahal Tina istrinya tapi sikapnya seperti menganggap Tina bukan istrinya.

"Kau mempermasalahkan gaji yang aku minta kan? Kau tidak rela aku minta gajimu. Oke Tina, terserah. Aku tidak akan minta apapun darimu, ingat itu! Kau jangan protes setelah ini." Romi pergi.

"Bang tunggu, maksud abang apa?"

Romi tidak mau mendengarkan Tina. Dia terus pergi dalam keadaan marah dan kesal.

Tina hanya bisa menangis. Ternyata menikah tidak membuat dia bahagia padahal dia sudah akan meninggalkan Romi tapi kemarin Romi malah menggunakan cara kotor. Sekarang Romi bersikap seolah dia tidak bersalah. Tina berharap dia masih kuat menghadapi Romi.

***
Hari ini Romi membeli motor baru dan dia menjual motor lamanya. Jika dibilang tidak ada uang, Romi masih memiliki simpanan uang. Dia sangat perhitungan dan pelit sehingga dia terlihat seperti tidak memiliki uang.

Tina dan Narsih melihat motor di antar ke rumah dan Romi sudah menunggu. Setelah itu Romi memasukkan motor ke dalam rumah. Dia memperhatikan dengan bangga motor yang baru dia beli.

"Katanya gak ada uang Nak, kenapa beli motor?"

"Ada uang Bu, tenang aja. Motor ini untuk keperluan aku kerja. Toko kain sekarang ada yang kelola dan aku sekarang kerja di perusahaan temanku."

"Benarkah, baguslah Nak. Kamu jangan mengharap toko kain aja. Punya pekerjaan tetap lebih baik. Apalagi kamu sudah ada istri dan sebentar lagi akan memiliki anak." Narsih yakin perlahan Romi bisa berubah.

"Motornya bagus Bang." Tina akan menyentuh motor milik Romi tapi Romi menepis tangannya.

"Jangan sentuh, kamu gak berhak! Semua yang aku beli adalah milik aku bukan kau. Jangan khawatir, aku akan tetap menafkahi kamu. Uang belanja dan bayar listrik air serta gas semua tanggung jawabku tapi jika kau mau beli untuk dirimu, pakai uang gajimu itu." Romi sengaja menekankan kata gaji dan membuat Tina hanya bisa diam. Romi masih marah dan mendendam soal gaji yang tidak ingin Tina berikan.

"Nanti anak ini lahir, aku akan tetap bertanggung jawab tapi hanta untuk keperluan anakku dan rumah. Untuk dirimu sendiri kau gunakan uang gajimu. Kau gak butuh aku." Romi masuk ke dalam rumah dan Tina hanya bisa menangis.

Romi tidak menganggapnya sebagai istri jika begini. Semarah inikah Romi hanya karena dia tidak memberikan gajinya yang tidak seberapa itu.

"Sabar ya Nak nanti Ibu pelan-pelan bicara dengan Romi."

"Iya Bu." Tina hanya pasrah.

***
"Bang." Panggil Tina dengan hati-hati.

"Apa?"

"Saatnya kontrol kandungan dan mau USG. Tolong antarkan Bang sekalian biayanya."

"Ya udah ayo."

Tina tidak menyangka jika Romi akan langsung setuju. Awalnya Tina pikir dia akan dimarahi oleh Romi.

"Abang gak marah? USG biayanya cukup mahal."

"Aku udah bilang, demi anak aku maka sekarang akan aku lakukan tapi untuk diri kamu jangan harap. Kamu punya uang sendiri yang sering kamu banggakan jadi pakai uang kamu sendiri. Ingat ya ini demi anak aku dan rumah ini termasuk Ibu bukan kamu. Kamu yang mulai duluan Tina, ingat itu." Romi keluar dari kamar.

Tina tidak menyangka Romi akan melakukan ini. Dia mau marah dan melawan Romi juga percuma. Pria itu sudah merasa Tina yang jahat sedang dia yang menjadi korban.

Tina menyusul Romi keluar kamar dan mereka menuju ke rumah sakit. Romi ingin tahu keadaan calon anaknya dan dia bernafas lega setelah mengetahui anaknya baik-baik saja.

Di parkiran rumah sakit, Tina kembali membahas masalah gaji pada Romi.

"Tina minta maaf kalau abang marah soal gaji tapi abang tahu kalau Tina harus membantu bapak dan mamak. Tina gak bermaksud untuk membuat abang merasa tidak dihargai."

"Udah Tina jangan bahas itu, abang malas. Ayo pulang."

"Tapi Bang kita suami istri. Kita gak mungkin berada di dalam permasalah ini terus. Kita harus selesaikan bang."

"Gak perlu Tina, yang penting abang bertanggung jawabkan untuk anak yang kau kandung dan juga untuk keperluan rumah. Abang hanya tidak akan menanggung keperluan pribadimu. Kau mau beli apapun pakai uang gajimu itu. Abang juga gak larang kau kerja." Romi menyalakan motornya dan Tina akhirnya terpaksa menerima keputusan Romi.

***
Hari ini Tina ingin sekali makan ikan asam pedas. Dia mencoba mendekati Romi. Apakah Romi mau memberikan uang belanja lebih agar dia bisa membeli ikan dan bahan untuk memasak ikan asam pedas.

"Bang."

"Apa lagi? Uang belanja untuk sebulan ada di laci. Keperluan dapur, bumbu dan gas sudah lengkap."

"Bang, Tina ngidam ingin makan ikan asam pedas. Bisa tambah uang belanjanya gak? Mau beli ikannya bang."

"Gak ada. Pakai uang kamu aja. Jangan pakai alasan ngidam ya. Bawa-bawa nama anak saya untuk minta uang belanja lebih."

"Bukan begitu Bang tapi Tina memang sedang ngidam. Tina gak bohong bang lagi pula Tina udah gak ada uang. Tina udah gak kerja lagi karena Tina sedang hamil."

"Sekarang cari-cari abang kamu. Kemarin sombong merasa punya gaji. Memang harus diberi pelajaran kamu ini." Romi memandang Tina dengan tatapan meremehkan.

"Bukan gitu bang."

"Siapa suruh kamu berhenti kerja? Abang gak ada larang kamu kerja."

"Karena Tina sedang hamil. Cece yang punya toko gak mau pekerjakan orang hamil karena kerjaannya cukup sibuk." Jawab Tina pelan.

"Mulai sekarang jangan membantah makanya. Apa kata suami tuh turuti. Kamu kan udah nikah jadi ikuti kata suami."

"Iya bang."

"Ini uangnya. Gak usah masak, beli aja sepotong untuk kamu. Boros kalau beli banyak." Romi memberikan uang dua puluh ribuan.

Tina mengambil uang dengan hati yang sakit. Dia keluar dan berjalan kaki menuju ke rumah makan yang ada di depan jalan. Dia meratapi hidupnya yang harus menikah dengan Romi. Hormon kehamilannya juga membuat perasaannya mudah kacau.

Romi melihat Tina berjalan keluar rumah. Dia sebenarnya kasihan tapi dia tidak suka dengan sikap Tina dan membuat dia tersinggung. Dia sedang memberikan pelajaran untuk Tina.

***
Tina mengetahui hari ini adalah hari gajian Romi tapi pria itu tidak ada memberikannya pada Tina.

"Uang bulanan belanja ada di laci. Keperluan dapur udah lengkap."

"Iya bang. Ehmm, abang udah nabung untuk biaya melahirkan nanti?"

"Masih lama kan. Jangan kau yang mikir biar abang."

"Nanti mau beli perlengkapan bayi bagaimana bang?" Tina memberanikan diri untuk bertanya lagi.

"Tunggu usia kandungan kamu tujuh bulan. Abang yang akan belikan."

"Bang, aku mau beli keperluan pribadiku juga. Abang ada uang gak?"

"Gak ada."

Tina diam, Romi tetap tidak mau memberikan dia uang. Tina juga tidak akan menuntut. Mungkin lebih baik dia coba cari pekerjaan lain.

"Tina izin ya bang mau keluar sebentar. Mau cari rujak." Tina beralasan agar boleh keluar rumah.

"Iya."

Tina segera menuju ke tempat temannya. Dia sempat ditawari kerja sama temannya. Kerjanya bisa dilakukan di rumah yaitu juakan online. Tina hanya harus memposting produk toko dan jika ada yang beli, pihak toko yang akan mengemasnya. Pekerjaan ini tidak akan mungkin diketahui oleh Romi. Dia akan aman dan juga temannya kasihan karena mendengar cerita Tina. Semoga uang dari kerjanya ini bisa menambah untuk membeli keperluan dirinya.

Suami PelitCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang