Bab 20. Lelaki Super Pelit dan Licik

174 6 0
                                        

"Abang, kata Bapak kalau mau nikahin aku harus ada lamaran dan temu keluarga. Abang bawa barang hantaran ke rumah sekalian berikan uang untuk acara nikahan kita."

"Emang butuh berapa dek untuk hantaran dan uang untuk keperluan nikah?" Tanya Romi. Jika sudah masalah uang, dia sudah malas karena dia tidak mau mengeluarkan uang banyak.

"Kalau hantaran itu tergantung kita karena kita yang beli barang-barangnya. Kalau masalah uang untuk nikahan, abang bicara langsung sama bapak aja." Tina tidak bisa memberikan banyak informasi karena hal ini adalah kewenangan orang tuanya.

"Abang nanti menemui bapak ya. Sekarang kita cari barang hantaran aja atau kamu mau cari sendiri. Ini abang beri lima ratus ribu." Romi memberikan uang kepada Tina.

"Bang, ini gak cukup. Temanku kemarin aja habiskan dana lima juta. Itu pun sederhana dan tidak ada barang dengan merek ternama." Tina menatap uang di tangannya.

"Abang gak ada uang. Pandai-pandai kamu aja. Nanti untuk uang nikahan aja abang hanya bisa beri lima juta. Kalau kamu gak terima, abang juga gak bisa berkata apa-apa. Gak nikah juga abang pasrah. Kamu terima kita nikah kalau gak terima ya batal."

"Abang kenapa bicaranya santai amat. Kita udah mau ke arah serius. Gak bisa lagi bilang seperti itu apalagi semua keluarga aku udah tahu rencana kita. Usahakan lagi bang, ini gak cukup uangnya." Tina merasa sedih karena Romi tidak ada usaha untuk bisa memenuhi keperluan persiapan pernikahan mereka.

"Abang bilang gak ada uang. Gak percaya banget sih. Terserah kamulah, sini kembalikan uangnya." Romi akan mengambil uang dari tangan Tina.

"Jangan bang."

"Makanya, pakai aja uang itu atau abang aja yang beli. Kamu berikan aja daftar barangnya."

"Ini daftarnya, jangan pilih yang kualitas jelek ya bang." Tina agak ragu tapi yang punya uang Romi jadi dia hanya menerima saja.

"Jangan khawatir, abang antar pulang setelah itu abang beli keperluan hantarannya."

***
Tina ingin menangis tapi dia tahan saat dia melihat hantaran yang sudah dibeli oleh Romi. Tidak sesuai dengan yang dia inginkan. Untuk kosmetik, Tina sudah menuliskan di daftar hantaran, merek apa yang harus dibeli. Sesuai dengan kosmetik yang dia pakai selama ini.

Romi memang membelikan semua yang ada di daftar hantaran tapi dengan kualitas yang tidak sesuai dan dengan harga yang sangat murah.

"Bang kenapa beli yang seperti ini?"

"Kenapa, sesuai dengan di daftar kan?" Romi bertanya tanpa ada rasa bersalah.

"Iya tapi kenapa harus yang kualitasnya gak bagus dan sangat murah. Yang aku minta dengan abang juga gak mahal."

"Banyak maunya kamu dek. Malas abang lihatnya." Romi ikut kesal dan merasa tidak dihargai.

"Maaf." Tina kemudian masuk ke dalam kamarnya.

Tidak lama kemudian, orang tua Tina menemui Romi. Mereka membicarakan soal pernikahan Romi dan Tina. Romi memberitahu dia hanya bisa memberikan uang sebesar lima juta saja untuk biaya pernikahannya. Dia mengakui bahwa dia sedang dalam tahap bangkit dalam usaha kainnya. Orang tua Tina mengerti dan mereka yang akan menanggung biaya selebihnya walaupun harus meminjam pada saudara yang lain.

Tina mendengar pembicaraan orang tuanya dengan Romi dan terbesit keraguan di hatinya untuk menikah dengan Romi apalagi saat dia melihat bagaimana Romi membelikan barang hantaran.

Saat Romi sudah pulang, Tina keluar kamar dan menemui orang tuanya.

"Ada apa Nak?" Tanya ayahnya Tina saat melihat wajah Tina yang tidak bersemangat.

Suami PelitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang