Planet lain?

18 2 0
                                        

Hellooo readers 3 days!!
Kira-kira bisa di nalar ga ceritanya? Apa deskripsi suasananya kurang bagi kalian untuk meresapi cerita dan berimajinasi?
Kalo ada yang kurang komen ya? Aku harap komennya bisa bikin aku lebih giat lagi juga! Thank you!!
Happy reading!!! 🤩


***
Valdy nampak sangat fokus dengan peta, Alzar yang memainkan kayu selama perjalanan, dan Fuji yang sibuk memperhatikan Aura yang selalu memegang perutnya dari belakang. Yang lain fokus pada perjalanan yang mulai terasa aneh.

"Disini ada yang bisa naik pohon?" Tanya Haidar.

"Buat apa?" Tanya Alzar balik.

"Buat liat jalan lahh, biasanya bakal keliatan semua dari atas. Gimana? Ada ga?" Semuanya hanya terdiam, kesunyian itu menjawab pertanyaan Haidar jika tak ada yang bisa memanjat pohon.

"Masalahnya ni pohon pada ga ada dahan, tinggi banget lagi. Monyet aja kayaknya bakal merosot." Ujar Bara, semuanya tertawa kecil.

Hingga suara desakan nafas yang kuat terdengar.

"Aura, raaa Lo kenapa?"

"Itu apaan?!" Aura menunjuk pada sebuah makhluk terbang dan tampak transparan seperti hantu.

"Aaaaaa, Ryu!!" Teriak Talita.

"Apa apaan itu anjriitttt??!!!." Pekik Alzar.

Makhluk hitam itu berusaha mencekik Ryu.

Makhluk hitam itu berusaha mencekik Ryu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gimana ini, itu apaan?!" Ucap Alin.

Alzar berusaha menghalau benda itu dengan kayu yang ia pegang, tetapi tak mempan sama sekali. Selain transparan, makhluk itu juga tembus pandang.

"Apii! Coba pake api. Haidar, koreknya!." Pinta Valdy panik.

Valdy mulai menghidupkan api pada Bendera mereka, ia tak memikirkan hal itu dua kali setelah melihat temannya itu hampir tak bertenaga.

Suuuuuunnnggg....

"Brokoli!" Seru Talita.

Hewan hijau lucu tadi kembali, ia menyedot makhluk terbang itu dengan sangat amat mudah. Ia merasa kekenyang setelah itu, seperti habis makan. Ryu tersungkur dan mulai tersendat-sendat, nyawanya seakan ikut tercabut.

"Lo gapapa? Ada yang sakit ga?" Tanya Fuji sembari memegang tangan Ryu.

Ryu menghempas kasar tangan Fuji lalu langsung berdiri.

"Lo gak papa, Ryn?" Tanya Valdy yang membantu Oryn ( Ryu) berdiri.

"Enggak, pusing aja dikit." Ryu menghalau nafas berat lalu bangun dari duduknya.

"Kita dimana sih sebenarnya, kok makin kesini makin aneh. Makhluk apaan itu tadi?! Gue mau pulang, gue capek." Lirih Alin seakan ingin menangis.

"Bener, udah ga wajar ini. Gue perhatiin dari tadi, udah bukan kek dihutan kayak sebelumnya. Serasa lebih terang, entah penglihatan gue aja." Jelas Bara.

3 DaysTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang