Bomb 17

5 1 1
                                        

"kalian tidak mungkin tiba sendiri jika tak terpilih."

┈─ ・༓☾  𑁍  ☽༓・ ─┈

Alam dengan tergesa-gesa menaruh kristal di hadapan mata kanan Talita dan dibiarkan melayang setara dengan matanya. Sialnya, penjaga kembali menangkap alam sebelum hal yang ia inginkan terjadi.

"Lepaskan!! Lepaskan!!" Alam meronta-ronta.

Talita yang melihat batu itu melayang merasa kebingungan sekaligus takjub. Tak lama batu di depannya itu bereaksi, berputar perlahan, berputar dengan cepat lalu berputar secepat kilat seperti tornado. Mengeluarkan cahaya jingga yang perlahan makin terang.

Talita yang mendapati itu membuat jantungnya berdegup kencang, ia menyeret badannya kebelakang dalam keadaan masih terduduk di lantai.

Hingga batu itu mengeluarkan cahaya yang lebih terang dari senja, batu itu perlahan masuk ke dalam mata Talita.

"Apa...."

Ucapan Talita tak selesai, batu itu sepenuhnya masuk ke mata Talita tanpa membuatnya merasa kesakitan, matanya kini sepenuhnya oranye dan seperti orang yang terhipnotis.

"Tidak mungkin..." Ucap seorang pemimpin yang hampir tak mengedipkan matanya.

Tubuh Talita perlahan terangkat ke udara, disertai aura jingga yang mengelilingi tubuhnya.

Buuusssshhhhh

Angin kencang terdorong keluar dari tubuh Talita, seakan ia lah yang telah mengeluarkan angin itu. Angin yang begitu kencang itu membuat semua orang terasa berat untuk berdiri serta suara angin itu menghambat pendengaran.

Kini angin itu disertai cahaya yang membutakan mata. Benar-benar tak ada satupun kini orang yang mengangkat kepala mereka dengan benar.

"Itu kenapaa woe?!!" Teriak Bara yang menadah matanya dari angin.

"Ga tau!" Jawab Haidar dengan lantang.

Merasa suatu hal terjadi, penjaga  berhenti menyeret. Alam berusaha melepaskan diri di saat para penjaga lengah. Sepertinya para Penjaga pun tak peduli jika Alam sudah lepas.

Angin dan cahaya perlahan memudar, setelah beberapa detik mengudara Talita akhirnya kembali menapakkan kakinya ke lantai dengan tubuhnya yang melemas. Haidar berlari ke arah Talita, langsung memapah Talita yang lemas lalu mendudukkannya perlahan.

"Aku berhasil..." Lega Alam melihat pemandangan itu.

"Talita, Lo masih sadar kann? Taa?" Tanya Haidar sembari memegang bahu Talita yang tampak shock.

"Gue...." Jawab Talita singkat.

"Tadi itu.. dia siapa?"

*****

/Ilusi Talita

"Ahhh, sakit banget nih kepala." Rintih Talita yang lesehan di tanah.

Ia terus memegangi kepala nya seperti orang migran, tanpa ia sadari apa yang ada di sekitarnya. Hingga perlahan ia pun membuka matanya dan melihat sekitar, ia mulai berdiri dan menyadari disekelilingnya hanya ada kegelapan yang merata. Hanya ada cahaya dari tubuhnya sendiri, tempat itu sekiranya sepertinya goa tanpa celah.

"Tolong.. Tolong!! Haidar!! Valdy! Alzar! Alin!! Gue Disini!! Tolong guee!!." Teriak Talita dengan nafasnya yang menggebu-gebu dan matanya yang mulai berair.

"Kalian bisa denger gue kann?!! Tolongg!! Jangan bercanda!! Ini ulah Lo kan Zarr??! Tolong jangan main-main!! Gu-gue takut gelap!!" Teriak Talita tak ada habisnya dengan nafasnya yang semakin tak beraturan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 07, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

3 DaysTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang