Prolog

2.2K 149 4
                                        

Samudra Atlanta Dwijendra atau kerap dipanggil Sam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Samudra Atlanta Dwijendra atau kerap dipanggil Sam. Duduk sendirian di bangku belakang kelas, menatap jendela yang memantulkan cahaya senja. Di usianya yang ke-17 tahun, ia seharusnya menikmati masa-masa terakhir di sekolah menengah atas, namun kenyataan hidupnya jauh dari itu. Setiap detik terasa penuh dengan kegelisahan, dan meski senyum tipis sering terukir di wajahnya, di dalam hatinya, Samudra selalu berjuang dengan dunia yang penuh keraguan.

Samudra memiliki sebuah impian yang besar: menjadi seorang penulis terkenal. Namun, perjalanan menuju impian tersebut tidaklah mudah. Ia hidup dengan bipolar disorder, sebuah gangguan yang membuat perasaannya terombang-ambing antara dua kutub yang ekstrem—euforia yang penuh semangat dan kesedihan yang mendalam. Dalam beberapa saat, ia merasa bisa menggenggam dunia, sementara di waktu lain, dunia terasa begitu jauh dan tak terjangkau. Hidup Samudra adalah sebuah pertarungan tanpa henti dengan dirinya sendiri.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam hidupnya: cinta yang tulus kepada ibunya, Nadira Sanjaya. Meskipun ibunya adalah sumber dari banyak luka emosional yang ia alami—menuntut kesempurnaan yang tidak bisa ia capai dan sering kali memperlakukannya dengan keras—Samudra tetap mencintainya. Cinta seorang anak kepada ibunya, meskipun penuh dengan ketegangan dan rasa sakit, tetap bertahan. Bahkan dalam kesendirian dan trauma yang ia hadapi, Samudra tidak bisa mengingkari perasaan tersebut.

Di tengah segala kerumitan hidupnya, ada satu cahaya yang perlahan muncul—Aurora Kirana Maharani. Gadis itu datang ke dalam hidupnya tanpa diduga, menawarkan sesuatu yang selama ini Samudra tidak pernah ia rasakan: pemahaman tanpa syarat. Aurora adalah satu-satunya yang bisa melihat lebih jauh ke dalam diri Samudra, yang mampu melihat kekuatan dalam dirinya yang selama ini ia pendam.

Namun, meskipun ada cahaya yang bersinar dalam hidupnya, Samudra tahu bahwa perjalanannya tidak akan pernah mudah. Setiap langkah menuju impian dan kedamaian batinnya penuh dengan tantangan. Baginya, hidup terasa seperti kupu-kupu tanpa sayap, terjebak di antara impian yang tinggi dan kenyataan yang membatasi. Tapi, meskipun tanpa sayap, Samudra bertekad untuk terbang—mengejar mimpi, mencari kebebasan, dan menyembuhkan luka yang ada di dalam dirinya.

KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang