Masa Kecil Samudra

Matahari sudah mulai merunduk, menyisakan cahaya oranye yang menerpa dinding rumah dengan lembut. Angin sore yang datang dari pantai membawa aroma asin dan segar, tetapi bagi Samudra, itu tidak pernah cukup untuk mengusir rasa sesak di dadanya. Ia duduk di sudut ruang tamu, tepat di samping jendela besar yang terbuka, memperhatikan langit yang memerah, menyaksikan deburan ombak di kejauhan yang seakan memberi pelukan pada dunia, sementara hatinya terasa sepi dan jauh dari rasa damai.
Di luar, udara panas masih menyengat, meski hari sudah mulai beranjak sore. Di halaman rumah, ayam-ayam berkeliaran, sesekali berkokok memecah keheningan yang sepertinya selalu menyertai Samudra. Ia mengenang semua kenangan yang terpendam dalam benaknya, kenangan yang sering membuatnya terjaga di malam hari, kenangan yang muncul dalam bentuk suara keras ibu yang selalu menuntutnya lebih, dan lebih lagi.
"Samudra!" suara itu memecah lamunannya. Nadira, ibunya, berdiri di pintu dengan wajah yang sudah biasa tenggelam dalam ketegangan. Ada ekspresi tak sabar di matanya, seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu, menanti Samudra untuk memenuhi harapan yang tak kunjung ia penuhi.
Samudra perlahan menoleh. Tubuhnya kecil untuk usia delapan tahun, dengan rambut yang masih terurai hitam lebat, tapi matanya selalu terlihat penuh tanda tanya. Ia tidak tahu apa yang salah, tidak tahu mengapa ia tidak pernah cukup baik di mata ibunya. Bibirnya sedikit terbuka, hendak mengucapkan sesuatu, namun suaranya terhenti ketika ibunya sudah mulai berbicara lebih keras.
"Apa kamu tahu berapa banyak ibu bekerja keras untuk kita? Apa kamu tahu betapa besar pengorbanan ibu untuk membuatmu jadi anak yang pintar?" Suara Nadira menggelegar, namun bagi Samudra, itu adalah suara yang sudah biasa. Biasanya, ia hanya bisa menunduk, menggigit bibir, dan berharap semuanya bisa selesai secepat mungkin.
Samudra terdiam, memegang ujung bajunya dengan gemetar. Matanya yang besar, tampak seperti mata anak kecil yang tidak tahu harus bagaimana menghadapi dunia yang terlalu keras. Tangannya meremas ujung bajunya, mencoba menahan perasaan yang mulai mendidih. Setiap kali ibu berbicara seperti itu, ada rasa sesal yang menusuk hati Samudra, seolah-olah ia memang gagal menjadi apa yang diinginkan ibunya.
"Apa kamu tahu betapa pentingnya nilai-nilaimu di sekolah? Apa kamu tahu kalau semua teman-temanmu bisa lebih baik darimu?" Nadira melangkah mendekat, dengan tangan terlipat di dada, matanya menyorot tajam ke arah Samudra. "Kamu harus lebih pintar, lebih rajin! Jangan seperti ini terus!"
Samudra tidak bisa menjawab. Mulutnya terasa kering, seakan tak ada kata-kata yang bisa keluar dari tenggorokannya. Di luar, suara deburan ombak semakin keras, seperti ingin menutupi kegelisahannya. Namun, meskipun samudra luar itu luas dan tidak ada batasnya, ia merasa hidupnya dibatasi, terkurung dalam kata-kata ibu yang selalu menuntut lebih.
Tiba-tiba, ayam-ayam yang berlarian di halaman terkejut, dan sekelompok burung kecil terbang berseliweran di langit. Keheningan yang sempat tercipta di antara mereka berdua langsung pecah. Samudra menundukkan kepalanya lebih dalam, memeluk tubuhnya dengan tangan kecil yang lelah. Sekelilingnya seolah-olah berhenti berputar, semuanya terasa hampa, kecuali kata-kata ibunya yang terus terngiang.
"Kenapa kamu nggak bisa seperti anak-anak lain, huh?" Ibunya mendekat, suara semakin keras. Tangannya tiba-tiba mendarat di kepala Samudra, dengan keras. Samudra terkejut, rasa sakit muncul bukan hanya di kepala, tetapi juga di hatinya. Air mata yang selama ini ia tahan menetes tanpa suara, membasahi pipinya. Ia tidak tahu kenapa ibunya selalu berkata seperti itu. Ia tidak tahu kenapa ia merasa seolah-olah dirinya tidak pernah cukup baik.
Sementara itu, ayam-ayam di halaman mulai berkokok kembali, dan angin laut yang sejuk tiba-tiba datang, memberikan sedikit ketenangan bagi Samudra. Namun, saat itu, perasaan Samudra jauh lebih berat. Ia merasa terjebak, terperangkap dalam hubungan yang tidak pernah bisa ia pahami. Dalam dunia kecilnya, hanya ada suara ibunya yang menuntut, sementara dirinya hanya bisa terdiam, mencari-cari cara untuk merasa cukup.
Ibunya berbalik, meninggalkan Samudra yang masih terdiam di sudut ruangan. Nadira melangkah keluar, dan suara langkahnya yang semakin menjauh hanya semakin menambah kesunyian di dalam rumah itu. Samudra duduk terdiam, menatap bayangannya sendiri di jendela. Di luar, langit kini sudah gelap, dengan bintang-bintang yang mulai muncul, namun rasanya Samudra seperti kehilangan arah, tidak tahu ke mana lagi ia harus melangkah.
Angin malam yang semilir datang, menerpa wajah Samudra yang penuh luka. Ia ingin berteriak, namun suaranya tertahan. Hanya ada malam dan suara deburan ombak yang menemani, seakan menunggu ia menemukan jawabannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
KUPU TANPA SAYAP
Teen Fiction"Kupu Tanpa Sayap" menceritakan perjalanan seorang remaja bernama Samudra Atlanta Dwijendra, yang berusia 17 tahun dan duduk di kelas 3 SMA. Meskipun terlihat seperti remaja biasa, Samudra menyimpan beban berat dalam dirinya. Ia mengidap bipolar dis...
