Bagian III

171 13 0
                                        

Melawan Arus Dunia

"Kadang dunia tak mengerti apa yang kita rasakan, tapi bukan berarti kita harus menyerah untuk berjuang." - Samudra Atlanta

---

Siang itu terasa begitu panas, sinar matahari menyinari setiap sudut jalan yang penuh dengan debu, sementara suara kendaraan yang lalu-lalang menambah riuh suasana. Samudra berjalan pelan menyusuri trotoar, matanya terfokus pada jalan di depannya. Di sekelilingnya, orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing-ada yang bergegas menuju tempat kerja, ada yang bercakap-cakap dengan teman, dan ada juga yang hanya berjalan santai menikmati siang yang terik.

Di depan sekolah, sekelompok siswa sedang berkumpul, berbicara dengan lantang dan tertawa. Samudra sedikit menghindar, mengurangi jarak dengan mereka. Dalam hatinya, ia tahu bahwa dirinya sering kali merasa terasing. Meskipun ada banyak orang di sekitar, ia sering merasa seperti berjalan sendiri, terjebak dalam kepungan dunia yang tak bisa ia kendalikan.

Tak lama setelah itu, Samudra melihat sosok yang tak asing. Aurora. Gadis galak yang sudah lama ia kenal. Aurora sedang berdiri di bawah pohon besar yang ada di depan sekolah, sambil menatap layar ponselnya dengan serius. Wajahnya terlihat serius, namun ada aura tertentu yang membuatnya tampak menantang.

Samudra mendekat dengan langkah ragu, merasa agak canggung. Aurora memang dikenal dengan sifatnya yang tegas, bahkan terkadang bisa terkesan kasar. Tapi entah kenapa, Samudra merasa ada sisi lain dari Aurora yang belum ia ketahui. Sesuatu yang membuatnya penasaran.

"Hei, Aurora!" Samudra akhirnya memanggilnya, meskipun suaranya agak lirih.

Aurora menoleh dengan tatapan tajam, seakan-akan langsung tahu siapa yang memanggilnya. "Apa?" jawabnya singkat, matanya kembali beralih ke layar ponsel. Ekspresinya datar, namun Samudra bisa merasakan bahwa ia tengah menunggu sesuatu.

Samudra menghela napas, mencoba menyusun kata-kata yang tepat. "Mau ikut makan siang bareng nggak? Kalau nggak sibuk, sih," ujarnya sambil sedikit membungkukkan badan, berusaha terlihat santai meskipun hati di dalamnya berdebar kencang.

Aurora menatapnya sejenak, lalu menurunkan ponselnya. "Gimana ya," jawabnya sambil tersenyum miring. "Kayaknya nggak ada waktu deh, Sam. Lagi sibuk mikirin tugas. Punya banyak hal yang harus diselesaikan," jawabnya dengan nada datar, tetapi ada sedikit candaan di ujung kalimatnya.

Samudra terdiam sesaat, berusaha memahami apa yang baru saja dikatakan. "Ya udah deh," jawabnya, walau sedikit kecewa. "Tapi, kalau ada waktu, kabarin aku ya. Aku beneran nggak pengen makan sendirian."

Aurora mengangkat satu alis, kemudian tersenyum tipis. "Oke, aku kabarin kok. Kalau gue nggak sibuk, siapa tahu bisa makan bareng."

Samudra tersenyum, meski rasa canggung masih terasa di dada. "Thanks, Aurora."

Begitu Samudra melangkah pergi, ia mendengar Aurora berkata dengan suara lebih pelan, "Jangan terlalu serius mikirin orang, Sam. Hidup ini nggak selalu harus dicari maknanya, kadang jalan aja juga bisa."

Samudra terdiam, terhenti beberapa langkah di depannya. Kalimat itu, meskipun terdengar santai, terasa dalam. Ia mengangguk pelan, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Seringkali, Samudra merasa dunia memaksanya untuk memahami segala sesuatu yang terjadi, mencari alasan di balik setiap kejadian. Tapi mungkin, seperti yang dikatakan Aurora, tidak semua hal perlu dicari maknanya.

Di sepanjang jalan pulang, Samudra merenung. Dunia yang ia hadapi bukanlah dunia yang mudah. Lingkungan sekitar seringkali tidak peduli dengan apa yang kita rasakan. Mereka sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Namun, itu bukan berarti kita harus menyerah. Samudra tahu, tantangan yang ia hadapi bukan hanya datang dari dirinya sendiri, tapi juga dari dunia yang terus berputar tanpa henti. Dan meskipun perasaan itu datang begitu berat, ia harus terus berjalan.

Dengan sedikit senyuman yang dipaksakan, Samudra melangkah lebih ringan, mencoba melepaskan sedikit beban yang selama ini terpendam. Ia tahu, tantangan dari dunia mungkin tak akan berhenti, tapi itu bukan alasan untuk berhenti berjuang.

---


KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang