Bagian II

265 8 2
                                        

Pertemuan dengan Aurora
-
-

"Jika kamu ingin mendengar kebenaran, jangan harap aku akan mengelaknya hanya karena itu menyakitkan." - Aurora

Suasana kelas sudah mulai mencekam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Suasana kelas sudah mulai mencekam. Cukup aneh untuk hari-hari biasa, karena pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya. Jam dinding berputar pelan, seakan enggan bergerak lebih cepat, dan angin yang masuk lewat jendela sedikit menyegarkan udara kelas yang sepi. Hanya ada beberapa siswa yang sudah duduk dengan muka kusut, siap menyelami pelajaran yang baru akan dimulai.

Samudra yang duduk di bangku paling belakang, menatap jendela dengan pandangan kosong, memikirkan banyak hal. Mulai dari tugas yang menumpuk, perasaan campur aduk, hingga kebingungannya tentang apa yang akan dia hadapi hari ini. Namun, tiba-tiba suasana kelas yang awalnya tenang itu pecah dengan suara pintu yang dibuka keras.

Aurora—ya, dia—masuk dengan langkah tegas, membawa beban yang seolah-olah bisa mengguncang lantai kelas. Dia bukan tipe yang bisa diam di luar perhatian. Aurora terkenal sebagai gadis galak, sangat galak bahkan, dan yang paling mengerikan: to the point. Tidak ada basa-basi dengan Aurora. Kalau dia merasa ingin ngomong, maka dia akan bicara sekeras dan sejelas mungkin, tanpa peduli apakah kamu siap mendengarnya atau tidak. Dan kali ini, Aurora datang dengan ekspresi serius, menggenggam buku tebal di tangannya.

"Samudra!" suaranya langsung memecah keheningan kelas.

Samudra langsung terlonjak dari kursinya. Nama dia disebut dengan begitu tegas, seperti diseru oleh suara petir. Tidak ada yang bisa mengabaikan suara Aurora.

"Iya?" Samudra menjawab dengan nada terbata-bata, matanya berkeliling mencari alasan kenapa namanya dipanggil.

Aurora melangkah mantap ke meja Samudra, wajahnya datar, namun penuh dengan ketegasan. "Kamu yang belum nyetor tugas, kan? Jangan pikir lo bisa santai gitu aja."

Samudra mendengus pelan, merasakan ketegangan yang datang begitu mendalam. “I-itu… tugas fisika, kan? Gue lagi beresin kok, tinggal ngerjain sedikit lagi…”

Aurora menatapnya tajam, matanya seperti hendak menusuk. "Lo pikir gue nggak tahu? Jangan coba-coba kasih alasan, Samudra. Kalau lo nggak bisa nyelesain, bilang aja! Jangan bikin gue nunggu-nunggu."

Suasana kelas seakan membeku sejenak. Semua orang di sekitar mereka diam, hanya menatap keduanya dengan mata terbuka lebar. Samudra merasa seolah dia berada di tengah medan perang, dan Aurora adalah komandan yang tak akan pernah mundur.

“Ya udah, gue bakal kerjain sekarang,” jawab Samudra akhirnya, berusaha untuk tetap tenang meski auranya terasa seperti api yang siap membakar.

Aurora mendengus kecil, tapi ada sedikit keraguan di wajahnya yang sedari tadi tampak datar. “Ya, kalau lo bilang begitu, gue harap lo nggak cuma ngomong doang.” Kemudian, tanpa basa-basi, dia berjalan kembali ke kursinya dengan langkah cepat dan tegas, meninggalkan Samudra yang masih terdiam, sedikit tercengang oleh ketegasan yang baru saja dia alami.

Beberapa detik setelah itu, Zayyen yang duduk di meja sebelah, berbisik dengan nada kocak. “Duh, bro, lo itu kayak diserang badai. Auroranya emang nggak ada ampun.”

Samudra hanya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Gue nggak ngerti deh, Zay, cewek satu itu bisa bikin dunia kayak berputar lebih cepat."

Zayyen terkekeh. “Lo sih, Sam, salah pilih tempat duduk. Kalau lo duduk di bangku depan, mungkin auranya nggak segitunya.”

Samudra tertawa pelan, walaupun sedikit merasa gugup. "Yang bener aja, gue malah mikir harus pindah sekolah, biar jauh dari badai yang namanya Aurora."

Zayyen menggoyangkan kepala, tersenyum lebar. “Pindah sekolah? Coba aja, lo nggak akan pernah bisa kabur dari Aurora. Itu kayak udah jadi hukum alam.”

Samudra mendengus, merasa sedikit lebih baik karena Zayyen setidaknya mencoba membuatnya tertawa. Tapi dalam hati, dia tahu kalau pertemuannya dengan Aurora tadi bukan sekadar lelucon. Gadis itu benar-benar bisa membuat segalanya terasa sangat serius, bahkan soal hal-hal kecil. Aurora bukan cuma galak, dia seperti bintang yang sangat terang dan siap menyinari setiap celah dalam kegelapan, tanpa memberi ruang untuk bertanya.

KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang