Bagian III

166 11 0
                                        

Menerima Bayang-Bayang Diri

"Kadang, kita terjebak dalam bayangan diri yang terlalu gelap, tapi itu bukan berarti kita tak bisa menemukan cahaya di dalamnya." – Samudra Atlanta

---

Pagi itu, udara terasa sedikit lebih segar meskipun langit diselimuti awan mendung yang menggelantung rendah. Suara burung yang berkicau menyelinap melalui celah jendela kamar Samudra, menyapa dengan riangnya. Pohon besar di halaman rumah bergoyang pelan, daun-daunnya berserakan oleh angin yang berhembus, seakan memberi sedikit semangat meski Samudra masih terbungkus rasa gelisah yang belum hilang.

Samudra duduk di teras rumahnya, matanya kosong menatap jalan raya yang tak jauh dari rumah. Di sana, orang-orang berlalu-lalang, beberapa berbicara riang, sementara yang lain tampak tergesa-gesa menuju tujuan mereka. Semua berjalan begitu cepat, tapi di dalam dirinya, dunia terasa terhenti. Samudra merasa seperti terjebak dalam waktu yang tak pernah bergerak.

Tangan Samudra menyentuh permukaan kayu tempat duduk di teras itu. Kayu yang sudah mulai usang, terasa dingin di bawah jemarinya. Sesekali, ia menghela napas, mencoba menenangkan dirinya, meskipun pikirannya berputar tak karuan.

“Samudra?” suara ibu Samudra, Nadira Sanjaya, terdengar lembut, menariknya keluar dari lamunan. Ketika Samudra menoleh, ia melihat ibunya berdiri di pintu dengan ekspresi yang penuh perhatian, seakan tahu bahwa anaknya sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.

“Kenapa duduk di sini sendirian?” tanya Nadira, matanya memancarkan rasa khawatir. Ia tahu betul bahwa Samudra sedang berjuang dengan banyak hal, tapi tak pernah tahu harus bagaimana untuk membantu.

Samudra mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski senyumnya terasa tipis dan canggung. “Enggak apa-apa, Ma. Cuma mikirin beberapa hal aja,” jawabnya dengan suara yang terdengar sedikit serak. Seringkali, ia merasa kata-katanya tak cukup untuk menggambarkan apa yang ada di dalam hatinya.

Nadira duduk di sebelah Samudra, jaraknya dekat, tetapi Samudra merasa ada dinding tebal yang membatasi percakapan mereka. Ia tak ingin terlalu mengungkapkan kekosongan yang ia rasakan, tak ingin membuat ibunya khawatir lebih lagi.

“Sam,” suara Nadira lembut namun penuh perhatian, “kamu nggak harus merasa sendirian. Ibu di sini, kalau kamu mau cerita. Kamu nggak perlu malu atau takut. Semua yang kamu rasakan, walaupun kadang nggak bisa kamu kontrol, itu nggak membuat kamu kurang dari orang lain.”

Samudra menatap tangannya, merenung. Ia merasa perasaan itu datang begitu cepat, datang tanpa bisa dihentikan. “Aku kadang merasa kayak nggak cukup baik, Ma. Aku enggak ngerti kenapa perasaan-perasaan itu bisa datang begitu aja, tanpa aku bisa kontrol,” ucapnya dengan suara yang pelan, hampir tak terdengar. “Kadang rasanya kayak semuanya berantakan, Ma. Aku nggak tahu gimana cara ngerapihin semuanya.”

Nadira menatap anaknya dengan tatapan penuh pengertian. Tangannya menyentuh lembut tangan Samudra, memberinya sedikit rasa tenang meskipun dunia di sekitar mereka tak bisa berhenti berputar. “Gak ada yang salah dengan kamu, Sam. Semua orang punya waktunya sendiri untuk merasa cemas, khawatir, atau bingung. Itu bagian dari kita sebagai manusia,” katanya, matanya penuh kasih. “Tapi kamu harus ingat, kamu nggak sendirian. Ibu ada di sini. Ayah ada di sini. Orang-orang yang sayang sama kamu ada di sini. Kita bisa sama-sama hadapi semua ini.”

Samudra terdiam sejenak, mencoba meresapi kata-kata ibunya. Udara pagi yang sedikit dingin mulai terasa lebih menenangkan, dan ia perlahan merasa sedikit lebih ringan. “Tapi, Ma, kadang aku merasa nggak tahu harus mulai dari mana. Semua perasaan itu datang begitu cepat dan... aku takut,” jawabnya dengan suara yang lebih tenang, meskipun rasa takut itu masih menggantung di dada.

“Iya, aku ngerti, Sam. Tapi yang penting adalah kamu nggak perlu lari dari perasaan itu. Cobalah untuk terima semua perasaan itu, meskipun itu terasa berat. Ketika kita menerima diri kita apa adanya, kita bisa mulai sembuh, pelan-pelan,” jawab Nadira, memberikan keyakinan dengan suaranya yang tegas namun penuh kasih.

Samudra menghela napas panjang, matanya kini lebih lembut saat memandang ibunya. Tangan ibunya yang menepuk tangannya terasa memberi sedikit kekuatan, memberi rasa bahwa segala yang ia rasakan bukanlah beban yang harus dipikul seorang diri.

“Iya, Ma,” jawab Samudra dengan pelan. “Makasih udah selalu ada buat aku.”

Nadira tersenyum, pelan memeluk Samudra dengan penuh kehangatan. “Kamu nggak pernah sendiri, Sam. Ibu selalu di sini buat kamu, kapan saja.”

Di luar, burung-burung kembali berkicau, angin masih berhembus pelan. Dunia luar tidak berhenti berputar, tetapi bagi Samudra, di saat itu, ia merasa sedikit lebih kuat, sedikit lebih siap untuk menghadapi langkah-langkah berikutnya. Perjalanan ini mungkin panjang, tapi ia tahu bahwa ia tidak perlu berjalan sendiri.

KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang