"Kupu Tanpa Sayap" menceritakan perjalanan seorang remaja bernama Samudra Atlanta Dwijendra, yang berusia 17 tahun dan duduk di kelas 3 SMA. Meskipun terlihat seperti remaja biasa, Samudra menyimpan beban berat dalam dirinya. Ia mengidap bipolar dis...
"Cinta sejati bukan tentang seberapa sempurna orang itu, melainkan seberapa tulus kita mencintainya apa adanya."-Aurora
---
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Samudra dan Zayyen
Langit sore berwarna jingga, menyelimuti taman kecil di belakang sekolah. Angin sepoi-sepoi mengibarkan rambut Aurora yang diikat asal-asalan. Samudra duduk di bangku taman, dengan buku catatan di pangkuannya. Suasana hening, hanya ditemani suara daun yang bergesekan dan burung gereja yang sesekali berkicau.
Aurora datang dengan langkah tegas seperti biasa, membawa minuman kemasan di tangannya. Ia duduk di samping Samudra tanpa basa-basi, meneguk minumannya lalu berkata, "Lo tuh ya, kalau galau mulu, gue bisa dapet uban sebelum lulus SMA."
Samudra tertawa kecil, meskipun ekspresinya masih terlihat lelah. "Santai, Ra. Lo udah galak dari lahir, uban nggak akan bikin lo tambah galak."
"Lucu banget," jawab Aurora dengan nada sarkastis, tapi ujung bibirnya tertarik ke atas. Ia menatap Samudra serius. "Jadi, lo mau cerita apa nggak? Gue capek nebak-nebak isi kepala lo."
Samudra menghela napas panjang. Ia menatap ke depan, memperhatikan pohon mangga tua yang daunnya rimbun. "Gue bingung, Ra. Gue sayang sama banyak orang di hidup gue. Sama Ibu, sama lo... Tapi, gue selalu ngerasa nggak cukup."
Aurora mengangkat alis, menegakkan punggungnya. "Maksud lo nggak cukup apa? Nggak cukup dicintai balik, atau lo ngerasa nggak cukup baik buat mereka?"
"Kayaknya dua-duanya," jawab Samudra pelan, tangannya menggenggam pena dengan erat. "Gue takut kalau gue nggak sesuai sama ekspektasi mereka. Gue takut kalau mereka kecewa."
Aurora mendengus. "Sam, lo tuh mikirnya terlalu ribet. Orang tuh nggak selalu punya ekspektasi ke lo, tahu nggak? Kadang, kita cuma pengen lo ada."
Samudra menoleh, menatap Aurora dengan mata yang sedikit memerah. "Lo beneran nggak pernah punya ekspektasi apa-apa ke gue?"
Aurora meletakkan botol minumannya di bangku, lalu menatap Samudra lurus. "Nggak, Sam. Gue nggak peduli lo jadi apa. Mau lo jadi penyanyi jalanan, programmer, atau petani, asal lo tetep jadi lo. Itu cukup."
Samudra tertawa kecil, meskipun air matanya mulai menggenang. "Lo selalu punya cara ngomong yang... bikin gue lega, tapi juga kesel."
"Itu bakat," jawab Aurora santai, menyilangkan tangannya di dada. "Tapi serius, Sam. Gue tau lo punya banyak hal yang lo pikirin. Tapi nggak semua cinta itu datang dengan tuntutan. Kadang, cinta cuma butuh diterima."
Samudra mengusap matanya dengan cepat, berusaha menyembunyikan air matanya. Ia menatap Aurora dengan senyuman tipis. "Lo ngomong kayak bijak banget. Lo dapet inspirasi dari mana?"
Aurora menepuk pundak Samudra keras, hampir membuatnya tersentak. "Dari nonton drama Korea. Lo pikir gue bijak alami? Nggak, Sam. Gue cuma copas quotes aja."
Samudra tertawa keras kali ini, menggelengkan kepalanya. "Lo emang absurd, Ra."
Aurora tersenyum puas. "Ya udah. Intinya, lo nggak perlu jadi orang lain buat dicintai. Kalau orang beneran sayang, mereka bakal nerima lo apa adanya. Sama kayak gue nerima lo, walaupun lo drama mulu."
Samudra terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada lembut, "Makasih, Ra."
Aurora berdiri, merentangkan tangannya seperti akan memberikan pelukan. "Nah, peluk gue sini. Lo nggak usah jaim."
Samudra mendelik. "Gue nggak butuh pelukan dari lo, dasar galak."
Aurora tertawa kecil, lalu mengacak rambut Samudra dengan kasar. "Ya udah, lo nggak usah peluk. Yang penting, inget kata-kata gue tadi. Jangan lupa bayar konsultasi gue pake teh tarik minggu depan."
Samudra mengangguk sambil tersenyum. Saat Aurora berjalan menjauh, ia merasa ada beban besar yang terangkat dari dadanya.
Hujan rintik-rintik mulai turun, membawa aroma tanah basah yang menenangkan. Samudra membuka buku catatannya dan menulis beberapa baris kalimat:
"Cinta itu sederhana, tapi aku yang membuatnya rumit. Mungkin sekarang waktunya berhenti mengukur, dan mulai menerima."
Samudra menutup bukunya, berdiri, lalu berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan. Aurora benar. Tidak semua cinta datang dengan tuntutan, dan mungkin, itu adalah pelajaran terpenting yang pernah ia terima.