Bab V

13 0 0
                                        

Kenangan yang Tak Terlupakan

"Saat seseorang pergi, kenangan mereka tetap hidup di hati kita, menjadi bagian dari kita yang tak bisa hilang."

---

Ruang rumah sakit itu terasa hening, seakan waktu berhenti begitu saja. Masing-masing dari mereka duduk, tenggelam dalam pikirannya sendiri, merenungkan kenangan bersama Samudra yang kini terasa semakin jauh. Mereka semua terdiam, membiarkan pikiran mereka kembali ke masa-masa indah yang pernah ada, sebelum semuanya berubah.

Aurora duduk di kursi rumah sakit, tangannya terlipat di dada, wajahnya pucat dan matanya kosong. Dia mengingat kembali bagaimana pertama kali bertemu dengan Samudra. Waktu itu, dia sedang duduk sendiri di taman kampus, tampak lelah dan putus asa setelah ujian yang berat. Tiba-tiba, seseorang duduk di sampingnya. Dia tidak mengenalnya, tapi senyumnya yang cerah membuat hatinya terasa lebih ringan.

"Eh, lo kenapa? Kayak orang lagi pusing banget, sih," kata Samudra dengan nada santai. Aurora menoleh, melihat wajahnya yang cerah dengan rambut yang sedikit berantakan.

"Ujian, masalah biasa," jawab Aurora sambil tersenyum kecil.

"Kalau gitu, lo butuh temen ngobrol nih," jawab Samudra, mengeluarkan cokelat dari tasnya dan memberikannya pada Aurora. "Ini, buat ngilangin stres."

Aurora masih ingat betul bagaimana Samudra selalu tahu cara membuatnya merasa lebih baik, bahkan di saat-saat terburuk. Terkadang dia bingung, kenapa orang seperti Samudra selalu bisa membawa kebahagiaan, tanpa diminta.

---

Zayyen berdiri di ujung ruang rumah sakit, memandang lurus ke depan. Kenangan-kenangan lucu tentang Samudra berputar di benaknya. Zayyen mengingat saat-saat mereka bercanda bersama. Samudra selalu punya cara untuk membuat segala hal menjadi ringan, bahkan saat mereka sedang dalam masalah.

"Zay, lo beneran nggak bisa main basket?" Samudra tertawa, mengolok-olok Zayyen yang tak bisa bermain basket.

"Ya, lo aja yang terlalu jago! Gue lebih jago di game, daripada di lapangan," jawab Zayyen, pura-pura kesal. Tapi tak bisa menahan tawa.

"Ayo, ayo! Ntar gue ajarin lo," kata Samudra, sambil terus melontarkan candaan-candaan konyol. Meskipun mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil, tapi Zayyen tahu, Samudra selalu ada untuknya, selalu siap menemani.

---

Argha, yang berdiri tak jauh dari Zayyen, juga terhanyut dalam kenangan bersama Samudra. Dia teringat pada satu kejadian saat hujan turun sangat deras, dan Samudra mendekatinya dengan sebuah payung.

"Lo beneran nggak bawa payung, Argh?" tanya Samudra dengan tatapan tajam sambil membuka payung besar yang dibawanya.

"Gue lupa bawa, dan hujan kayak gini... gimana coba?" jawab Argha, sedikit kesal tapi tetap merasa senang.

"Yaudah, sini bareng gue," kata Samudra dengan senyuman cerahnya. "Gue nggak mau liat lo basah kuyup, loh!"

Argha tertawa kecil. "Gue bisa kok, Sam. Tapi yaudah deh, lo pimpin gue aja."

Dia masih ingat betul bagaimana Samudra selalu memperhatikan orang lain, tanpa berharap apapun kembali. Sebuah tindakan kecil yang membuatnya merasa dihargai.

---

Aksa duduk di dekat pintu rumah sakit, menatap kosong ke arah lorong panjang. Matanya mulai kabur, seperti diliputi kabut tebal. Dia mengingat Samudra yang selalu ada untuknya, kapan pun dan dalam kondisi apapun.

"Lo beneran ngotot mau ikut? Lo kan udah capek banget," kata Samudra, menahan Aksa yang ingin ikut ke suatu acara meskipun sedang dalam keadaan tidak fit.

"Ya, tapi gue gak bisa ngelihat lo sendiri. Kalian semua tuh penting buat gue," jawab Aksa dengan tegas.

Samudra hanya tersenyum lebar. "Kalau lo butuh gue, gue selalu ada, Aks. Gue gak bakal ninggalin lo."

Aksa merasa hangat, seperti ada pelukan tak kasat mata yang diberikan Samudra padanya. Dia tahu, Samudra selalu berusaha untuk tidak pernah mengecewakan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kini, dia merasa kehilangan sesuatu yang tak bisa digantikan.

---

Nadira, yang sejak tadi hanya berdiri diam, akhirnya duduk di bangku rumah sakit, wajahnya penuh dengan penyesalan. Matanya penuh dengan air mata yang tak tertahankan. Ia teringat pada masa-masa di mana dia merasa tidak cukup baik untuk Samudra. Terkadang, dia merasa telah menyakiti hati anaknya dengan kata-kata yang keluar tanpa dipikirkan.

"Samudra, maafkan mama..." bisik Nadira dalam hati, menunduk dengan penuh kesedihan. "Mama tahu mama banyak salah, tapi mama selalu sayang kamu, Samudra."

Dia mengingat bagaimana Samudra selalu berusaha untuk membahagiakan dirinya, meskipun mereka sering bertengkar. Ada kalanya dia merasa, apa yang telah dia lakukan pada anaknya, benar-benar menyakiti hati Samudra.

---

Semua orang yang kini berada di rumah sakit, terjebak dalam kenangan masing-masing. Mereka tahu bahwa Samudra adalah orang yang sangat baik, tak pernah meminta lebih dari apa yang bisa diberikannya. Namun, kenangan tentangnya kini tak lagi bisa mereka sentuh. Samudra telah terbaring lemah, dan mereka hanya bisa berharap keajaiban datang untuk mengubah semuanya.

Tapi, seperti yang mereka tahu, tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu, menunggu keajaiban yang tak kunjung datang.

KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang