Bagian I

556 30 8
                                        

Bipolar Disorder

Malam itu, angin laut bertiup lembut melalui celah-celah jendela kamar Samudra. Ia duduk di tepi ranjang, menyandarkan punggung pada dinding, dan menatap gelapnya langit malam yang tanpa bintang. Suasana sekitar rumahnya sunyi. Hanya suara sesekali ranting pohon yang berdesir terbawa angin yang mengisi keheningan. Dalam gelap itu, Samudra merasa dirinya lebih sendiri daripada sebelumnya, seolah dunia tidak memedulikannya. Ia merasa jauh dari semua orang, bahkan dari dirinya sendiri.

Pikiran Samudra terbang kesana-kemari. Ia bisa merasakan betapa cepatnya perubahan perasaannya. Kadang seperti ada api yang membakar tubuhnya, perasaan bersemangat yang hampir tak terkendali. Rasanya, ia bisa melakukan apapun-lari ke luar rumah, berteriak sampai suaranya habis, menari-nari di bawah cahaya bulan. Semua hal itu terasa mungkin, terasa indah. Namun, beberapa menit kemudian, perasaan itu seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kekosongan yang begitu dalam.

Samudra menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha mengendalikan perasaan yang datang begitu tiba-tiba. Ia merasa seperti terombang-ambing di antara dua dunia yang berbeda-satu penuh dengan semangat yang tak terhingga, satu lagi penuh dengan kehampaan yang menyedihkan. Dulu, Samudra tidak mengerti kenapa perasaannya bisa berubah secepat itu, hingga akhirnya ia tahu. Ia tahu itu adalah bagian dari dirinya-sebuah ketidakseimbangan yang sulit dimengerti orang lain.

Di luar, suara ombak yang bergulung di pantai terdengar merdu, tetapi bagi Samudra, suara itu hanya semakin memperburuk kekosongannya. Ia berdiri dan berjalan ke jendela, menatap laut yang tak berbatas. Laut itu luas, tenang, namun penuh dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan. Sama seperti dirinya. Ia merasakan perasaan itu datang lagi-perasaan seperti sesuatu yang sangat besar dan kuat sedang menggerakkan seluruh tubuhnya, membuatnya merasa tidak terkendali. Samudra menyentuh kaca jendela, melihat bayangannya sendiri yang tampak samar. Wajahnya pucat, matanya lelah, namun ada sedikit kilau yang menyiratkan keteguhan yang masih tersisa.

"Apa yang salah dengan aku?" gumam Samudra pelan, suaranya hampir hilang tertelan angin yang berhembus dari laut.

Perasaannya berbalik drastis. Sebelumnya, ia merasa seakan bisa menaklukkan dunia, tetapi kini, hanya ada kehampaan. Dunia di luar sana terasa begitu jauh, seakan tak ada yang mengerti apa yang sedang ia rasakan. Ia merasa sangat lelah. Lelah dengan dirinya, dengan perubahan perasaan yang begitu mendalam dan mendalam, yang membuatnya tidak bisa tidur, tidak bisa fokus, dan sering merasa cemas tanpa alasan yang jelas.

Samudra berjalan ke meja belajarnya, meraih buku catatan yang sudah hampir penuh dengan coretan-coretan tak teratur. Ia menulis dengan cepat, seolah kata-kata itu bisa mengeluarkan perasaan yang ia pendam dalam hati. "Aku lelah...aku nggak bisa terus seperti ini," tulisnya dengan cepat, tangan gemetar menahan sakit.

Kata-kata itu menorehkan luka di hati Samudra, seolah ia sedang berusaha menyingkirkan perasaan yang tak tahu dari mana asalnya. Terkadang ia merasa seperti terperangkap dalam tubuhnya sendiri-terjebak dalam pikirannya yang begitu kacau. Ia tahu, perasaan itu bukan sekadar kesedihan biasa, tetapi lebih dalam dari itu-sesuatu yang lebih gelap, yang tidak bisa ia kontrol.

Di luar kamar, suara ayam berkokok terdengar keras, menandakan pagi akan datang. Suara itu tidak mengurangi ketegangan yang Samudra rasakan. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat langit yang mulai terang, tetapi hatinya tetap terasa gelap. Kadang-kadang, ia merasa perasaan ini datang seperti gelombang pasang yang menghantamnya dengan keras, membawanya terhanyut, dan terkadang juga surut kembali, meninggalkan kekosongan yang tak terisi.

Perasaan itu, seperti hujan yang datang tiba-tiba. Terkadang Samudra merasa begitu bahagia dan penuh energi-seperti langit cerah, dan tak ada yang bisa menghalanginya. Namun, dalam sekejap, badai datang menggulung, menghanyutkannya ke dalam kekosongan yang penuh ketidakpastian. Ia merasakan suasana hati yang berubah dalam waktu singkat, seolah dirinya bukanlah orang yang sama. Sering kali, ia terbangun dari tidur dengan rasa bingung, merasa dunia ini tidak seperti yang ia bayangkan.

"Aku nggak tahu lagi," gumamnya pelan, menyandarkan punggung pada dinding, menatap kosong ke arah langit yang mulai berubah warna. Ia merasakan beban yang begitu berat, tapi ia juga tahu bahwa di balik perasaan itu, ada sebuah kekuatan yang membentuk dirinya. Kekuatan yang membuatnya bertahan.

Samudra menghela napas dalam-dalam. Ia tahu, meski dunia di sekitarnya kadang terasa seperti mimpi buruk, ia harus terus berjuang. Bahkan jika itu berarti harus berjuang dengan perasaan yang terus berubah, bahkan jika itu berarti harus berjuang dengan dirinya sendiri. Di luar sana, suara laut dan burung-burung yang terbang mulai terdengar lagi, tetapi bagi Samudra, semuanya terasa begitu jauh, seperti suara dari dunia yang tak lagi ia kenal.

KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang