Bagian IV

82 7 0
                                        

Luka yang Tak Terucap

"Terkadang, konflik bukan tentang siapa yang salah, melainkan tentang rasa sakit yang belum sempat disembuhkan."

---

---

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan deras mengguyur sore itu, menciptakan irama yang menenangkan di atap rumah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hujan deras mengguyur sore itu, menciptakan irama yang menenangkan di atap rumah. Langit kelabu terlihat berat, seperti hati Samudra yang mulai terasa sesak. Ia berdiri di ruang tamu, memandangi foto keluarganya yang tergantung di dinding. Foto itu diambil bertahun-tahun lalu, saat segalanya masih terasa sederhana.

Nadira melangkah keluar dari dapur, membawa secangkir teh hangat. Ia meletakkannya di meja dan menatap Samudra yang masih diam di tempat. Ada ketegangan yang tak terlihat, tapi terasa.

"Sam, Ibu mau bicara," ucap Nadira dengan nada tenang, tapi ada sedikit kekhawatiran di matanya.

Samudra menghela napas, berbalik menghadap ibunya. "Kalau ini tentang terapi, aku udah jalanin, Bu. Nggak perlu khawatir."

Nadira menggeleng pelan, duduk di sofa sambil merapikan hijabnya. "Bukan cuma itu. Ibu mau tahu apa yang kamu rasakan selama ini. Tentang... Ibu. Tentang semuanya."

Kalimat itu menggantung di udara. Samudra terpaku, mencoba mengendalikan emosi yang mulai naik ke permukaan.

"Apa ini penting sekarang, Bu?" tanyanya, suaranya rendah tapi mengandung getaran marah yang tertahan.

Nadira menatapnya dengan penuh harap. "Penting, Sam. Ibu tahu kamu menyimpan banyak hal. Dan Ibu nggak mau kamu terus-terusan merasa sendirian."

Samudra tertawa kecil, nada sinis yang tidak biasa darinya. Ia duduk di kursi seberang ibunya, menatap langsung ke matanya. "Baru sekarang Ibu mau tahu? Setelah semua yang terjadi?"

Nadira terdiam, sorot matanya melembut. "Ibu nggak pernah bermaksud untuk mengabaikan kamu, Sam. Ibu cuma... nggak tahu harus mulai dari mana."

Samudra menggeleng, emosinya mulai memuncak. "Ibu tahu nggak rasanya tumbuh dengan perasaan takut? Takut bikin Ibu marah, takut ngomong salah, takut dianggap nggak cukup baik. Ibu selalu bilang ini demi kebaikanku, tapi aku cuma merasa... hancur."

Nadira menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Ibu nggak pernah mau nyakitin kamu. Ibu cuma berusaha... menjaga kamu, dengan cara yang Ibu tahu."

Samudra menunduk, jemarinya mengepal erat. "Aku tahu, Bu. Tapi rasa itu nggak hilang begitu aja. Aku cinta sama Ibu, tapi aku juga... takut. Aku benci perasaan itu."

Ruangan itu sunyi sejenak, hanya suara hujan yang menemani. Nadira memandang putranya dengan penuh penyesalan. Ia ingin mendekat, tapi takut malah membuat Samudra semakin menjauh.

"Sam, Ibu minta maaf," kata Nadira akhirnya, suaranya pecah. "Ibu tahu kata-kata ini nggak akan menghapus apa yang kamu rasakan. Tapi Ibu benar-benar minta maaf. Ibu salah."

Samudra mengangkat kepalanya, menatap ibunya yang kini menangis. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lemah dari sosok yang selalu ia anggap kuat.

"Aku juga salah, Bu," kata Samudra pelan. "Aku tahu Ibu nggak bermaksud jahat. Aku cuma... nggak tahu gimana caranya berdamai dengan semua ini."

Nadira menghapus air matanya, lalu tersenyum kecil. "Kita bisa belajar sama-sama, Sam. Kita nggak perlu sempurna, tapi kita bisa mencoba untuk saling memahami."

Samudra mengangguk, meski masih ada keraguan di hatinya. Tapi, untuk pertama kalinya, ia merasa ada celah kecil untuk memperbaiki hubungan ini.

---

Malam itu, Samudra duduk di kamarnya, memandangi hujan yang mulai reda. Ia membuka jurnalnya dan menulis beberapa kalimat:

"Kadang, orang yang paling kita cintai adalah orang yang paling sulit kita maafkan. Tapi mungkin, cinta itu sendiri adalah alasan untuk mencoba."

Samudra menutup jurnalnya, lalu mengirim pesan singkat ke Aurora.

Samudra: Aurora, lo pernah nggak ngerasa marah tapi cinta sama orang yang sama?

Aurora: Sering. Gue cinta banget sama lo tapi kesel kalau lo drama terus.

Samudra: Haha. Thanks, Ra.

Aurora: Santai. Gue selalu ada kalau lo mau curhat lebih panjang.

Samudra tersenyum kecil. Meskipun konflik dengan ibunya belum selesai sepenuhnya, ia tahu ini adalah awal yang baik. Dan kali ini, ia ingin benar-benar mencoba.

KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang