Bagian II

273 17 1
                                        

Kehidupan Sosial Samudra

Pukul setengah sebelas pagi, suasana di kantin sekolah terasa lebih hidup dari biasanya. Meja-meja bertebaran dengan berbagai jenis makanan: nasi goreng, mie instan, dan tentu saja, gorengan yang menjadi primadona para siswa yang tak bisa jauh dari camilan ringan. Suara riuh teman-teman sekelas bersahutan, sementara aroma minyak goreng dan sambal tercium menyengat, berbaur dengan tawa dan obrolan yang tak pernah berhenti. Namun, di tengah keramaian itu, Samudra duduk di pojok kantin, dengan tatapan kosong yang hampir tak terarah. Beberapa orang lewat di depannya, menepuk-nepuk punggungnya dengan akrab, tetapi dia hanya mengangguk pelan, sedikit terjaga dari lamunannya.

Di mejanya, hanya ada segelas air putih dan segenggam keripik kentang yang mulai tampak setengah habis. Samudra merasa seperti dia terjebak di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan suara-suara, namun dia sendiri merasa sangat jauh dari semuanya. Seperti orang yang sedang berada dalam keramaian tapi tetap merasa kesepian.

“Tadi, gue liat lo duduk sendirian. Kenapa nggak makan?” tanya Zayyen tiba-tiba, menghampiri Samudra dengan membawa dua piring nasi goreng yang terlihat sangat menggoda. Di tangan kanannya, dia memegang sendok seolah itu senjata andalannya dalam perang makan.

“Gue lagi diet...,” jawab Samudra datar sambil mengangkat keripik kentangnya, meski dalam hati dia tahu itu bohong besar. Diet apa coba, kalau baru dua menit yang lalu dia ngidam ayam goreng sambil menahan nafsu.

Zayyen langsung tertawa keras. “Lo diet? Diet dari makan atau diet dari kenyataan?” dia bertanya, sambil melenggang duduk di kursi depan Samudra, menumpahkan sebagian nasi gorengnya ke meja. "Gue rasa diet yang paling cocok buat lo adalah diet ngobrol. Lo kayak orang asing di sini."

Samudra cuma meliriknya dengan senyum yang setengah dipaksakan. "Ya, gitu deh." Samudra menjawab dengan nada yang cenderung lebih menggambarkan ketidaktahuan, karena entah kenapa, dalam keramaian ini, dia merasa seperti berada di dunia lain. Seakan hidupnya adalah sebuah film yang dijalani sambil terjebak dalam babak yang tak pernah selesai.

Namun, Zayyen tak membiarkan Samudra tenggelam lebih lama. Dia tahu betul bagaimana cara membangunkan Samudra dari kesendiriannya. “Sama Aksa udah beresin tugas fisika belum?” tanya Zayyen, mengubah topik.

Samudra menggeleng pelan. “Gue malah lupa ada tugas, karena tadi pagi gue kebanyakan mikir. Soalnya, gue merasa... kayak ada yang aneh sama gue.”

Zayyen menatapnya serius, tapi sejenak, dia terlihat seperti sedang menahan tawa. “Anak kita emang ajaib! Lo mikirnya hal-hal yang aneh, tapi nggak inget tugas fisika. Ini yang namanya, ‘Samudra’ banget!” Zayyen tertawa keras, sampai orang-orang di meja sebelah menoleh.

Samudra hanya bisa tersenyum kecut. Dalam hatinya, dia tahu Zayyen benar. Kadang, dia merasa seperti berada di dunia lain, terperangkap dalam pemikirannya sendiri yang tak pernah habis. "Kadang, gue merasa seperti... lo tahu nggak sih, seperti pesawat yang nyasar, tapi malah nyaman terbang di langit yang nggak ada tujuan," jawab Samudra, lebih ke dirinya sendiri daripada Zayyen.

"Lo emang nggak bener deh, Sam!" Zayyen kembali tertawa. "Maksud lo apa sih? Pengen jadi pilot? Atau pengen jadi alien?"

Samudra tertawa pelan, meskipun dia tahu Zayyen tak benar-benar mengerti. “Gue nggak tahu deh, pokoknya, kadang dunia ini kayak nggak buat gue.”

Zayyen mengerutkan keningnya, tapi di matanya ada tatapan yang penuh perhatian. “Gue ngerti. Tapi lo nggak sendiri kok. Kita semua kadang ngerasa gitu, Sam.” Zayyen menepuk pundaknya pelan, lalu mengeluarkan sepotong ayam goreng dari piringnya dan menyodorkannya ke Samudra. "Nah, makan ini. Jangan cuma mikir-mikir doang."

Samudra hanya memandang ayam goreng yang disodorkan Zayyen dengan tatapan bingung. "Kenapa lo suka banget sama makanan?" tanyanya, lalu dengan setengah hati, ia mengambil sepotong ayam itu dan menggigitnya.

Sambil menggigit ayam, Samudra tidak bisa menahan senyum. Zayyen memang teman yang absurd. Tapi, di balik kebodohannya, ada rasa perhatian yang tulus yang membuat Samudra merasa tidak sepenuhnya kesepian.

Beberapa detik kemudian, Aksa tiba-tiba bergabung dengan mereka, membawa setumpuk buku yang nyaris jatuh dari tasnya. "Jangan ngomongin soal tugas fisika, deh, gue udah pusing! Gue kira fisika itu semacam sihir, tapi ternyata lebih mirip penyiksaan!" Aksa duduk dengan wajah serius, padahal tangannya memegang segelas es teh manis yang kelihatannya lebih besar dari tubuhnya sendiri.

“Lo ngapain bawa teh manis? Lo pikir teh ini bisa bikin lo pinter?” tanya Zayyen, setengah menggoda.

Aksa membalas dengan ekspresi datar. “Tapi kan... kalau gue pinter, berarti dunia ini bakal lebih hidup, kan? Lagian, siapa tahu nanti teh ini bisa jadi sumber energi buat ngadepin tugas.”

Samudra hanya menggelengkan kepala, masih tersenyum mendengar percakapan konyol itu. Mereka memang kocak. Dalam keramaian kantin ini, dengan suara tawa yang menggelegar dan obrolan absurd, Samudra merasa sedikit lebih baik. Setidaknya, dia tak sendirian dalam menjalani hari-hari yang terkadang terasa terlalu berat untuk dihadapi.

Zayyen mengusap punggung Samudra, "Jangan terlalu mikirin yang berat-berat, Sam. Tugas fisika aja lo beresin nanti. Dunia ini nggak seberat yang lo pikirkan. Paling nggak, kita bisa jadi komedian kelas kok!"

Samudra menatap teman-temannya, lalu tertawa lepas. “Ya, kalau kita jadi komedian kelas, berarti hidup ini nggak sia-sia, kan?”

KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang