Teman-Teman
Pagi itu, udara di kota pesisir terasa segar, meskipun Samudra merasa seakan dunia berjalan sedikit lebih lambat daripada biasanya. Dia duduk di bangku panjang dekat gerbang sekolah, menatap langit yang masih biru tapi penuh dengan awan yang sepertinya sibuk ngobrol dengan satu sama lain. Di depannya, laut berkilauan seperti biasa, tapi dia lebih fokus pada suara tawa teman-temannya yang semakin dekat.
“Tungguin apaan sih, Sam? Udah ngelamun aja dari tadi! Kita masuk kelas aja, yuk!” teriak Zayyen sambil berlari ke arah Samudra. Wajah Zayyen yang penuh semangat terlihat seperti seseorang yang baru saja menonton pertandingan sepak bola, dan tiba-tiba berlari karena dia ingat belum beli gorengan.
Samudra menoleh dengan lemah, sedikit terkejut karena Zayyen muncul dari arah yang sangat tidak terduga—dari belakang pohon yang besar, dengan ekspresi bingung seakan dia baru keluar dari hutan belantara.
“Nggak, gue lagi nyari inspirasi,” jawab Samudra datar, seolah dia berbicara tentang kehidupan, padahal sejujurnya dia cuma bingung mau beli makanan apa saat istirahat nanti.
Zayyen melirik Samudra dengan wajah yang penuh tanda tanya, lalu tiba-tiba tersenyum lebar. “Inspirasi? Lo ngelamun apaan sih, Sam? Udah kayak orang ketiduran di tengah jalan. Coba liat, deh, lo bisa dibilang lagi cari wangsit kayak dukun."
Di sisi lain, Argha sudah lebih dulu duduk di bangku, tampak menunggu dengan santai sambil makan bakso dari dalam plastik yang sudah rusak parah karena ditekan terlalu keras di tasnya.
“Lo lagi makan bakso di pagi hari?” tanya Samudra dengan heran, melihat Argha yang seperti ahli dalam mencari peluang makan.
Argha menoleh pelan, masih dengan mulut penuh bakso yang hampir tercekik karena terlalu banyak diambil sekaligus. “Makan bakso itu bukan soal waktu, Sam. Itu soal... kebutuhan perut yang lebih mendalam.” Dia mengangkat bahu, pura-pura bijak, sementara Zayyen hanya melongo.
Samudra tertawa kecil, menahan geli. “Nggak tahu lagi deh sama lo berdua, bisa-bisa sekolah ini bubar cuma karena kalian berdua ngabisin stok gorengan dan bakso.”
Tiba-tiba, dari jauh, mereka bisa mendengar suara langkah kaki cepat, disertai dengan teriakan yang cukup kencang.
“Eh! Eh! Tunggu aku!!” suara itu datang dari Aksa, yang tampaknya berlari sambil membawa buku-buku yang hampir tumpah dari tasnya. Aksa itu memang selalu suka membawa barang berlebihan, dari buku tebal sampai kotak pensil yang sepertinya bisa dipakai untuk persiapan perang dunia.
Zayyen memandang Aksa sambil tertawa keras. “Ayo, Aksa! Makin mirip ninja lari di film-film action deh lo. Cuma kurang efek ledakan sama suara motor doang!”
Aksa sampai di depan mereka dengan napas terengah-engah, matanya melotot ke arah Zayyen, tapi tetap dengan senyum khasnya yang seakan menganggap semua hal adalah bahan untuk lelucon. “Lo aja jangan bawa cemilan berlebihan, Zayyen! Lo bikin kelas jadi terasa kayak pasar malam, semua orang bawa jajan!” Aksa tertawa geli sambil duduk di samping Argha, menyambar bakso yang hampir jatuh. “Nggak, gue bawa buku-buku ini karena gue rasa kalau nggak bawa, nanti bisa jadi bahan bacaan pas pelajaran jadi sepi!”
Samudra menggelengkan kepala, nggak tahu harus ngapain lagi. Semua teman-temannya ini memang benar-benar nggak ada yang bisa serius, tapi itulah yang membuat mereka selalu terasa seperti keluarga. Mereka nggak pernah peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka, yang penting hari itu penuh dengan tawa dan kebodohan yang tak terhingga.
“Yuk, masuk kelas!” Zayyen akhirnya menyeru, dengan ekspresi penuh semangat, seakan kelas adalah tempat terbaik untuk makan gorengan—mungkin dia sudah membawa setidaknya tiga bungkus dari rumah.
“Lo kira kita semua bakal tahan hidup di kelas? Gue lebih suka jadi penonton pertandingan gulat antara Aksa dan Argha, daripada ngadepin guru matematika,” ujar Samudra, masih dengan nada santai, meski sudah tahu hari itu akan jadi hari yang panjang.
Argha dan Aksa tertawa keras, sementara Zayyen cuma menatap mereka dengan ekspresi penuh keyakinan, seakan dia punya rencana besar untuk hari itu. “Gue bisa aja bikin kelas ini jadi event pertandingan makan bakso. Siapa yang kalah, traktir makan siang! Setuju?”
Samudra hanya bisa tertawa, merasa sedikit lebih ringan setelah mendengar rencana konyol Zayyen. "Kalian nggak bisa lebih absurd lagi, ya?" Samudra berkomentar sambil berdiri, siap menghadapi hari yang penuh dengan tawa, kebingungannya, dan tentunya—teman-teman yang selalu membuatnya lupa sejenak akan segala beban yang ada di kepalanya.
"Absurd itu kami banget, Sam," jawab Zayyen sambil berjalan di depan, diikuti oleh Argha dan Aksa yang saling berdesakan, mencoba saling mengelak dari lemparan kue cubir yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Dengan mereka di sekitar, Samudra merasa dunia ini tidak terlalu buruk. Terkadang, dia hanya perlu sedikit absurditas untuk merasa hidup.
KAMU SEDANG MEMBACA
KUPU TANPA SAYAP
Ficção Adolescente"Kupu Tanpa Sayap" menceritakan perjalanan seorang remaja bernama Samudra Atlanta Dwijendra, yang berusia 17 tahun dan duduk di kelas 3 SMA. Meskipun terlihat seperti remaja biasa, Samudra menyimpan beban berat dalam dirinya. Ia mengidap bipolar dis...
