Bab VI: Perpisahan

13 0 0
                                        

"Ketika tubuh kita terluka dan dunia seakan menghilang, ada satu tempat yang tidak bisa dihentikan, di mana kenangan kita terus hidup: di alam bawah sadar."

---

Di dalam ruang yang gelap, jauh dari hiruk-pikuk dunia nyata, Samudra terbaring tak bergerak. Suara detak jantungnya semakin lemah, dan nafasnya tersengal-sengal seperti angin yang berhembus di ujung malam yang sunyi. Namun, di dalam kepalanya yang setengah sadar, dia merasakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar rasa sakit. Sesuatu yang menenangkan, seperti sebuah perpisahan yang tak pernah terucapkan, namun telah lama dirasakan.

Di alam bawah sadar yang tak terlihat, Samudra mulai melangkah, meskipun tubuhnya terbaring diam. Tempat ini terasa seperti ruang kosong yang luas, hanya dipenuhi oleh bayangan-bayangan kenangan yang berputar di sekelilingnya. Di sini, di dunia yang hanya bisa dijangkau oleh pikiran, Samudra bisa melihat semuanya dengan jelas—teman-temannya, orang-orang yang sangat dia sayangi, semua kenangan yang pernah dia ciptakan bersama mereka.

Aurora datang pertama kali, wajahnya yang cantik dan lembut tampak cerah, meskipun dalam kenyataannya dia sedang menunggu dengan air mata. Di dunia ini, Aurora tampak begitu nyata, seakan bisa menjangkau Samudra kapan saja. Senyum Aurora yang dulu selalu menghidupkan hari-harinya, kini terlihat pudar, tapi di dalam alam bawah sadar Samudra, senyum itu masih ada.

"Aku akan selalu ingat kamu, Samudra," bisik Aurora, meskipun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. "Kamu adalah teman yang selalu ada. Jangan pernah lupakan aku."

Samudra tersenyum samar. Zayyen, teman dekatnya yang penuh canda, tiba-tiba muncul di hadapannya. Dia tertawa, seperti biasa, meskipun Samudra tahu, tawa itu tersembunyi di balik kesedihan yang mendalam.

"Jangan baper, Sam!" kata Zayyen, dengan senyum lebar dan gaya bercanda khasnya. "Lo gak boleh pergi sebelum kita bikin banyak kenangan, bro."

Di dunia nyata, Zayyen pasti akan tertawa keras, seperti biasa, membuat semuanya terasa ringan. Tetapi, di alam bawah sadar ini, Samudra tahu bahwa kenangan itu adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang tak bisa dia tukar dengan apa pun.

Tak lama, Argha muncul. Payung yang dulu diberikan Samudra saat hujan turun begitu deras, tampak di tangan Argha. Seolah melambangkan bagaimana Samudra selalu hadir saat dibutuhkan, memberikan perlindungan tanpa ragu.

"Lo gak perlu khawatir, Sam. Gue tahu, lo pasti selalu ada untuk gue, kan?" ujar Argha, matanya berkaca-kaca. "Tapi kalau lo pergi, gue pasti kesepian."

Samudra merasa hatinya perih mendengar kata-kata itu. Dia ingin mengusap bahu Argha, tapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Hanya ada keheningan yang mengelilinginya.

Aksa, yang selalu ada dengan senyum dan semangatnya, muncul selanjutnya. Dia berdiri dengan tatapan serius, namun senyum kecil di wajahnya memberi kesan seolah Aksa mencoba untuk tegar.

"Sam, lo tau gak sih? Lo itu orang yang selalu ada untuk gue. Gue gak pernah ngerasa sendirian kalau lo ada. Tapi... gue gak siap kehilangan lo, bro," kata Aksa pelan, suaranya hampir tidak terdengar, tapi Samudra bisa merasakannya, seperti angin yang berbisik di telinga.

Samudra ingin memberi Aksa kata-kata penghiburan, tapi mulutnya terasa kaku. Semua yang bisa dia lakukan adalah melihat wajah-wajah teman-temannya dengan hati yang penuh perasaan.

Kemudian, Nadira, ibu yang selalu mengasuhnya dengan penuh kekejaman, muncul di hadapannya. Wajah Nadira terlihat lelah, namun penuh cinta. Tangannya tampak seolah ingin menyentuh wajah Samudra, namun ada jarak yang tak terjangkau, sebuah pemisah yang begitu nyata.

"Mama... maafkan aku, Mama," bisik Samudra dalam hati. "Aku gak pernah ingin mengecewakan Mama. Aku... aku sayang Mama."

Di dunia nyata, Nadira pasti akan menangis mendengar kata-kata itu, merasakan kesedihan yang mendalam. Namun, di alam bawah sadar ini, Samudra tahu bahwa perasaan itu sudah sampai, meskipun dia tidak bisa mengucapkannya dengan kata-kata.

Kenangan-kenangan itu terus berputar dalam pikirannya, seiring dengan detak jantung yang semakin lemah. Samudra tahu, saatnya sudah dekat. Dia harus pergi, meskipun rasanya sangat sulit. Di sini, di alam bawah sadar, dia merasa semua kenangan itu adalah hadiah yang tak bisa digantikan oleh apa pun.

Dia menatap ke langit di atasnya, yang kini berubah menjadi lautan bintang. Setiap bintang itu seperti kenangan yang hidup, memantulkan cahaya yang begitu indah dan jauh, namun Samudra tahu, semua itu akan segera pudar.

"Sampai jumpa, teman-teman," bisiknya dalam hati. "Sampai jumpa, Mama. Aku pergi dengan tenang. Aku sudah cukup bahagia."

Dengan satu tarikan nafas dalam, Samudra menutup matanya, merasakan kedamaian yang datang perlahan, dan keheningan yang mendalam. Ia merasa seolah mengapung, meninggalkan segala kepedihan dan beban hidupnya. Alam bawah sadar membawanya ke tempat yang jauh, di mana tak ada lagi rasa sakit, hanya kedamaian yang abadi.

Semua kenangan itu, semua tawa, canda, dan bahkan tangisan, kini menjadi bagian dari perjalanan abadi Samudra.

KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang