Bab VII: Kepergian Samudra

21 0 0
                                        

"Kadang, kita terlalu mencintai seseorang, hingga kita lupa bahwa setiap pertemuan pasti ada akhirnya. Tapi, perpisahan yang datang terlalu cepat... sulit untuk diterima."

---

Suasana rumah sakit itu terasa sangat hening, hampir tak ada suara selain bunyi detak jam yang seakan mengingatkan semua orang akan waktu yang terus berjalan, tak peduli seberapa berat perasaan yang sedang mereka rasakan. Di ruang yang penuh dengan kesedihan itu, keluarga dan teman-teman Samudra berkumpul, menunggu kepastian yang sudah mereka ketahui. Tapi, mereka tidak ingin menghadapinya. Mereka tidak siap.

Aurora, yang biasanya ceria dan penuh semangat, kini terduduk di sudut ruangan. Air matanya tak berhenti mengalir. Dia memegang erat tangan Samudra, meskipun itu hanya tangan yang dingin, tak lagi menghangatkan seperti dulu. Ia menatap wajah Samudra dengan mata penuh harapan, seolah berharap suatu keajaiban akan datang dan menghidupkannya kembali.

"Tidak, Samudra, gak mungkin kamu pergi," Aurora berbisik, suaranya gemetar. "Gak mungkin kamu meninggalkan aku seperti ini."

Tapi kenyataan itu begitu keras, tak terbantahkan. Dengan terisak, Aurora menundukkan kepalanya, menangis sesenggukan, seperti orang yang baru saja kehilangan seluruh dunianya. Teriakannya mengisi ruang rumah sakit itu, terdengar histeris, seperti kehilangan yang tak bisa ia terima. Suaranya pecah, mengiris hati siapa saja yang mendengarnya.

"Samudra! KENAPA LO HARUS PERGI?!?" teriaknya, suara itu penuh amarah dan kebingungannya, seolah berharap Samudra akan muncul kembali, seolah berharap waktu bisa diputar ulang. Tapi Samudra tidak ada lagi di sana.

Zayyen, yang berdiri tak jauh dari Aurora, mencoba menahan dirinya agar tidak terjatuh, meskipun air matanya tak terbendung lagi. Dia selalu jadi yang ceria, yang mampu membuat orang tertawa, tapi kali ini dia hanya bisa menangis dengan kepala tertunduk, tubuhnya berguncang. Tangannya memeluk dirinya sendiri, seperti mencari kenyamanan yang tak ada.

"Sam... kenapa lo pergi..." bisiknya dengan suara parau. "Lo gak bisa pergi gitu aja... gue gak siap tanpa lo." Zayyen mengusap wajahnya yang basah, mencoba menenangkan dirinya, namun hatinya remuk. Persahabatan yang telah mereka jalani begitu lama, kini terasa begitu rapuh tanpa kehadiran Samudra.

Sementara itu, Argha dan Aksa berdiri di sisi lain ruangan, mencoba untuk tegar meskipun air mata juga jatuh di wajah mereka. Mereka memandang Aurora dengan perasaan yang penuh simpati, tak tahu harus berkata apa. Mereka juga merasa seolah-olah dunia mereka runtuh seiring kepergian Samudra.

"Aurora, dia... dia gak akan mau kita seperti ini," kata Argha pelan, suaranya lemah. "Samudra pasti mau kita kuat, jangan cuma terpuruk. Lo gak sendirian."

Aksa mendekati Argha dan menepuk bahunya, berusaha memberi kekuatan meskipun hatinya sendiri juga hancur. Mereka semua merasa kehilangan, tapi masing-masing memilih untuk menahan diri, mencoba menunjukkan ketegaran yang palsu. Namun, di dalam hati mereka, semuanya hancur berkeping-keping.

Nadira, ibu Samudra, berdiri di pintu ruang rumah sakit, menatap putranya yang terbaring dengan wajah penuh penyesalan. Dia sudah berusaha keras untuk menjadi ibu terbaik bagi Samudra, tetapi pada akhirnya, dia merasa tidak pernah cukup untuknya. Kenyataan itu menyakitkan. Samudra yang dulu masih ada di pelukannya, kini telah pergi selamanya.

Dia menatap ke arah Aurora, dan hati Nadira terasa semakin sesak. "Maafkan Mama, Samudra," bisiknya, matanya berkaca-kaca. "Mama terlalu banyak menyakiti hati kamu, tapi Mama selalu sayang kamu."

Di ruang rumah sakit yang sunyi itu, hanya terdengar suara isakan dan tangisan, namun Samudra tetap terbaring tak bergerak. Semua orang yang mencintainya, yang pernah merasakan hangatnya persahabatan dan kasih sayangnya, kini harus belajar hidup tanpa kehadirannya.

KUPU TANPA SAYAPCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang