Toko kelontong

294 11 2
                                        

-✭

Bau masakan itu menyeruak kedalam hidungnya, sangat harum. Serena tidak sabar untuk makan namun ia belum selesai menghilangkan kotoran ditubuhnya, sirene itu nyaring di telinganya. Suara yang galak dan penuh tekanan.


"Serena, udah berapa lama sih kamu didalem sana?! Makanannya hampir dingin!". Ibunya berteriak, namun bukan karena amarah. Dia bohong, Serena yakin masakannya baru saja naik ke piring.


Serena tak menjawab, ia keluar dari kamar mandi. Kain kasar itu membalut tubuh dan rambut panjangnya, dia melihat kearah meja makan. Ayah belum pulang, Serena pergi ke kamarnya, membuka lemari dan mengambil pakaian dalam dan baju lalu mengenakannya. Serena menarik kursi dan duduk dihadapan hidangan makanan itu, ibu sudah mengambilkan nasi untuknya. Dia pengertian, tapi ini membuat Serena terlihat manja. Ketika ia hendak mengambil lauk, ibunya sudah memilihkan lauk untuknya. Tidak lagi, ia muak dengan daun hijau itu. Ia benci sayuran.

"Ibu aku mau ngambil lauk sendiri". Ucap Serena dengan nada kecewa, masakan sebanyak ini dan ia hanya mendapatkan sayuran? Ia merasa mual. ibunya menatapnya.


"Makan aja Serena, kamu harus makan sayur yang banyak". Ucap ibunya sambil mengeluarkan ponselnya, ritualnya dimulai, selalu, setiap dia hendak makan. Dia memotret makanannya dan mempostingnya di story instanya. Serena memutar bola matanya dengan malas, ia ingin makan ayam kecap itu.

-✭


Fokusnya ada pada televisi didepannya, pintu terbuka. Seketika Serena melihat kearah pintu, ayah telah pulang. Bibirnya membentuk senyuman saat ia melihat ayahnya telah kembali, ia berlari kecil kearah ayahnya. Serena tau dia membawa sesuatu.


"Ayaah!". Mendengar Serena memanggil ayahnya, ibunya melihat kearah ruang tamu. Matanya mengernyit saat ayah memberinya sekantong plastik yang entah apa isinya.


"Ini buat Rena". Ucap ayah sambil tersenyum padanya, dia memindahkan kantong plastik itu ke tangan Serena. Ia melompat-lompat kegirangan.


"Terimakasih ayaaah!". Ucap Serena dengan penuh semangat. Ibunya penasaran.


"Ayah, apa itu?". Ucap ibunya sambil berjalan kearah Serena dan ayah, peperangan dimulai.


"Sekotak donat buat Rena, minggu lalu Rena bilang pengen banget makan donat. Tapi ayah ga pernah sempat beli donat buat Rena". Ibunya menatap ayah dengan heran, Serena hanya diam sambil memegang erat kantong plastik itu.


"Ayah, kenapa ngasih Serena makanan manis? Serena lagi diet!". Ayah tidak setuju.


"Ibu, Serena sedang dalam masa pertumbuhan. Dia ga boleh diet-diet segala, lagipula ayah ga mau kehilangan pipi chubby Rena". Tiba-tiba saja, ayah mencubit pipi Serena. Jujur saja ia merasa jelek karena pipi chubby nya, tapi Serena tidak mau diet. Serena dan makanan manis adalah kekasih.


"Terserah ayah, ibu cuma pengen Serena jadi gadis yang cantik. Jadi ibu jaga pola makan Serena sejak dini". Jawaban ibu membuat ayah terkikik, wanita itu tidak mau kalah. Itulah ibunya, ia terobsesi dengan kecantikan.


Itu sedikit menyiksa Serena. Namun ia memiliki ayah yang pengertian, dan memanjakan Serena dengan cukup. Ayah menggagalkan rencana ibu secara diam-diam, seperti saat Serena dipaksa diet oleh ibu. Diam-diam ayah selalu memberi makanan manis atau semacamnya yang bisa membuat Serena gagal diet, kenapa begitu? Karena ayahnya tidak ingin Serena mengalami masalah dimasa pertumbuhan putri kesayangannya. Tapi ayahnya tidak ingin berurusan dengan ibunya, atau debat.


-✭


Serena menggowes sepedanya dengan kecepatan stabil, hembusan angin yang lembut membelai wajah mulusnya. Banyak orang berlalu lalang, matanya tetap tertuju kedepan hingga ia sampai disebuah toko kelontong. Serena memarkirkan sepedanya, tangannya memegang gagang pintu yang dingin itu. Toko ini sepi, tujuannya kemari karena perintah ibunya untuk membeli suatu barang. Dia pikir hanya dirinya pelanggan di toko ini, rupanya tidak. Ia melihat sosok pria yang tinggi dengan postur tegak, rasanya tak asing. Dia berada dibelakang pria itu cukup lama, saat pria itu berbalik. Matanya membelalak kaget, pria itu menaikkan satu alisnya. Dia terlihat familier.

"Apa? Kenapa lo liat gue kayak gitu?". Tanya nya, sial. Apa yang harus Serena katakan? Lagi-lagi, tatapannya meluluhkan hatinya. Sudah dia duga, dia orang itu.


"Maaf, aku mau ngambil sendok disitu tapi kamu ngehalangi aku". Ia gugup, dia tidak menatap matanya tapi kearah jakunnya. Sial, Serena makin gugup.


"Oh, maaf... silahkan". Jawabnya dengan santai, pria itu melewati Serena. Jantungnya terasa ikut pergi bersama pria itu. Tidak, Serena hampir lupa dengan misinya. Ia mengambil sendok itu dan beberapa barang lainnya, seperti yang sudah dicatat di kertas oleh ibunya.


Serena berjalan menuju kasir, jantungnya berdebar lagi, kali ini lebih kencang. Apa yang pria itu lakukan disana? Dia jadi kasir? Serius? Serena pikir dia pelanggan juga. Dengan enggan dia berjalan ke depan, menaruh barang-barang yang ia bawa untuk dibayar. Speechless.


"Totalnya 52rb, ga nerima kartu kredit". Ucapnya sambil memasukkan barang-barangnya kedalam kantong plastik, apa maksudnya itu? Apakah dia mengira Serena menggunakan kartu kredit?. Lagipula dia tidak pakai kartu kredit.


Serena menyerahkan uangnya padanya, pas. Saat dia menyerahkan kantong plastik itu tangan mereka bersentuhan.

"Lembut"

-

Plot Twist Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang