"Loh? Kok ada kak Eren?".
"Bukannya kamu yang ngajak Eren, Na?".
"Engga...". Serena menggelengkan kepalanya.
"Sebenernya gue ngikut Astra, tapi sekarang ga tau tuh bocah kemana".
"Aku ga paham kenapa kak Eren bisa dateng kesini".
"Maaf guys, gue mau klarifikasi". Ucap Fira tiba-tiba.
"Gue emang ngajak Astra oke? Tapi gue ga tau kalo ternyata Serena diajak sama Zaka, jadi gue ngajak Astra karena biar ada cowonya...".
Eren, Joshua, Zaka dan Serena mengangguk. Rupanya pertemuan yang kebetulan ini memang kebetulan.
"Hai teman". Tiba-tiba saja Astra muncul di samping Eren dengan memasang senyum manisnya.
"Dari mana aja lo?". Tanya Joshua dengan sinis.
"Pipis hehe...".
"Gue saranin lo pake pampers".
"Dih gue bukan bayi ya...
Btw kok kita ga masuk? Kan udah rame nih".
"Yaudah lah ayoo". Eren memimpin didepan, Serena dan Fira ada dibelakang. Tak ingin terlihat seperti penakut, Zaka ikut memimpin disebelah Eren.
"Jangan deket-deket, alergi gue sama lo". Eren menjauh dari Zaka sambil memasang ekspresi jijik.
"GA JELAS". Jawab Zaka penuh penekanan di setiap katanya.
"Pacar lo tuh, berantem". Bisik Fira sambil menyenggol-nyenggol Serena dengan sikutnya.
"Fira please..".
"Oke".
Lorong demi lorong mereka lewati, lampu yang redup dan berkedip-kedip menyinari perjalanan mereka. Seperti sebuah peringatan, angin dingin berhembus melewati tubuh mereka. Meninggalkan bulu kuduk mereka yang berdiri tegak, tiba-tiba semua sumber cahaya hilang. Lampu-lampu itu mati, bahkan cahaya rembulan mendadak menghilang. Semua orang menjadi panik terutama Astra.
"Gue berubah pikiran, siapapun anterin gue pulang". Astra menunggu jawaban, namun tidak ada seorangpun yang menjawabnya. Mereka terus berjalan. Astra patah hati, dia memeluk lengan Fira. Fira berdecak kesal namun nyatanya dia membiarkan Astra memeluk lengannya, keberanian mereka seketika menghilang saat berdiri didepan ruang kesenian. Zaka dan Eren saling menatap, jantung mereka berdebar ketakutan. Namun Zaka tidak ingin terlihat takut didepan Serena, dengan berani dia mendorong kusen pintu yang dingin itu. Joshua dan Astra tersenyum jahat, mereka punya bahan candaan baru untuk mengejek Eren.
"Eren takut ternyata...". Bisik Astra sambil terkekeh, Fira langsung melayangkan telapak tangannya untuk membungkam mulut Astra.
"Diem bisa ga". Astra mengangguk, dia menikmati betapa lembut dan harumnya tangan Fira. Astra tidak pernah melewatkan kesempatan apapun saat bersama Fira, apapun situasinya.
Mereka memasuki ruangan itu, tak disangka. Patung itu... Menghilang dari tempatnya.
"Loh? Mana patungnya?". Setelah Joshua menyelesaikan kalimatnya pintu terbanting dengan keras, membuat mereka semua terkejut.
"Buka pintunya!". Seru Eren tiba-tiba, mereka berlari kearah pintu. Pintu itu terkunci, Joshua membeku ditempat.
"Jos?! Buka pintunya!". Teriak Fira tidak sabar. Joshua berbalik dengan wajah pucat.
"Pintunya... Dikunci...". Ucap Joshua dengan pelan, seketika ekspresi mereka berubah...
Ruangan itu mulai bergoyang seperti gempa, plavon-plavon dan lampu-lampu berjatuhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Plot Twist
RomanceSerena, yang baru saja mengalami cinta pertamanya berlanjut hingga beberapa tahun lamanya. Hanya sekedar memandang dan mengagumi, cemburu yang tak pantas. Jatuh cinta kepada seseorang yang friendly, akankah Serena bertahan? Cerita ini hanyalah imaj...
