Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
◓◓◓
Jangan lupa vote dan komennya yaa. Tandai jika ada typo.
❛ ━━━━━━・❪ ♡ ❫ ・━━━━━━ ❜
Suasana apartemen begitu sepi. Hanya terdengar hembusan angin malam yang menerbangkan dedaunan. Malam ini cahaya bulan bersinar terang. Dengan gemerlap bintang yang berhamburan.
Kue ulang tahun berukuran kecil dengan dua lilin kecil di atasnya menyala. Seorang gadis bersurai hitam berpiyama memandang sendu kue di hadapannya.
"Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri" gumamnya pelan.
"Aku ngga berharap banyak... Semoga aku senantiasa kuat menjalani kehidupanku yang sendirian ini hingga bahagia menjemputku." Suaranya lirih bergetar, menarik napas lalu mengeluarkannya. Lalu ia meniup lilin kecil diatas kue itu.
Sejenak ia memandangi kue itu. Meraih pisau dan memotongnya sedikit. Menaruhnya ke piring kecil barulah ia menyuapkan sesendok kue itu ke dalam mulutnya.
Netranya berlinang bahunya bergetar. Mengabaikan kue dengan rasa favoritnya padahal baru ia makan sedikit. Menenggelamkan kepala pada lipatan tangan.
Rasa sesak menjalar. Ia memeluk dirinya sendiri seraya mengusap kedua pundaknya. Tidak terasa jika linang air mata mengalir hingga dagunya.
Ia terisak, "Semuanya pasti akan baik-baik saja kan?"
Sudah lama ia hidup sendirian tanpa adanya keluarga. Teman? Bisa dihitung jari. Itupun mereka hanya datang saat butuh saja.
Bunyi dobrakan pintu kamat membuatnya tersentak. Ia menoleh pada sang pelaku. Pemuda bersurai ungu datang dengan keringat bercucuran. Ia baru saja tiba di Jepang karena baru saja pulang dari Amerika karena acara keluarganya. Saat tiba di bandara, ia lari dengan tergesa-gesa mengabaikan panggilan dari Papanya.
"Reo..." Belum sempat melanjutkan ucapannya, pemuda itu mendekapnya.
"Sorry for late, (Name)." Ucap Reo.
Reo melepaskan pelukan, lalu memegang kedua pipi (Name) dan mengusap air mata yang masih menggenang di pipinya.
"Kenapa menangis, hm?"
Sang empu yang ditanya seperti itu tak kuasa menahan air matanya. Ia kembali menangis. Entah kenapa saat ini ia terlihat sangat rapuh.
Reo kembali mendekapnya, mengusap bahu (Name) yang bergetar. Ia dapat merasakan pundaknya yang basah.
"Semuanya akan baik-baik saja, (Name). Aku jamin itu."
Mereka berdua bukan sepasang kekasih, melainkan teman. Teman yang baru beberapa bulan saling mengenal namun tidak terlalu dalam.
Namun, dengan kekuasaan yang dipunya Reo. Ia bisa mencari tahu semuanya tentang gadis di pelukannya.
Sebenarnya Reo sudah sejak lama mengamati (Name) namun ia belum berani mendekati. Hingga saat ada seseorang yang ingin mencelakai (Name), ia pun bertindak. Lalu mereka menjadi dekat.
Reo mengusap pucuk kepala (Name) dengan gemas. Mata sembabnya terlihat lucu bagi Reo.