Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Warn: jangan kaget.
Jangan lupa vote dan komennya ya. Kalau ngga mau komen, vote aja aku udah seneng kok.
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Oh, she's sweet but a psycho
A little bit psycho
Cantik, manis dan nyaris sempurna adalah hal yang diidam-idamkan oleh setiap perempuan bukan?
Tapi, berbeda dengan gadis ini, justru kecantikan, kemanisan atau segala hal yang ada padanya akan membawa malapetaka bagi siapapun yang bertemu dengannya.
At night she's screamin
Malam semakin terasa mencekam saat dirinya tertawa. Tangannya tak berhenti mengayunkan belati tajam pada perut yang sudah terkoyak serta dipenuhi merah pekat. Pemilik raga itu jiwanya sudah pergi dengan segala dosa yang telah dilakukannya.
"DASAR IBLIS!"
Seruan keras itu bersumber dari seorang perempuan yang saat ini terikat pada kursi berbahan kayu. Wajahnya pucat, tak menyangkal dirinya sangat ketakutan saat ini.
Bagaimana tidak?
Dia menyaksikan adegan sangat keji di depan mata. Bergerak kasar hingga menimbulkan decitan antara kursi kayu dengan lantai terpijak.
"Lepaskan aku brengsek."
Bibir terus melontarkan kata kasar teruntuk gadis pelaku penyiksaan. Tak sadar sebentar lagi adalah gilirannya.
Mata obsidian dari gadis pemegang belati berlumur darah melirik tajam pada perempuan terikat.
"Berisik." Desisnya tajam.
Tersentak, tubuhnya bergetar dengan sendirinya. Tidak kuasa bersitatap dengan mata obsidian yang saat ini menatapnya tajam, ia menundukkan kepala.
Dengan memberanikan diri ia bertanya. "Kenapa kau berubah, (Name)?"
"Huh, berubah katamu?"
"Iya. Kau sangat berubah, bukannya dulu kau...."
(Name) terkekeh.
(Name) yang dulunya gadis penyayang, ramah kepada semua orang, menebar senyuman manis yang memikat. Sekarang jadi berbeda. Dirinya merasa tak pantas, kelahirannya seperti tidak diinginkan. Cacian makian pun seperti makanan sehari-hari. Kekerasan sering ia dapatkan sedari kecil. Di sekolah ia di-bully habis-habisan tak ada yang mengasihani walau sejenak saja.
Ia bertekad membalas segala perlakuan buruk yang ia dapatkan selama ini.
Tangan kiri berlumuran darah itu menjambak surai lawan bicara.
"Kau lupa atau pura-pura lupa, Yuki!"
"Kau itu salah satu alasan terbesar kenapa aku jadi seperti sekarang."
Mata Yuki bergetar, meringis saat (Name) menguatkan jambakan pada rambutnya. Yuki tidak lupa dengan semua hal yang ia lakukan pada gadis di hadapan. Segala perlakuan buruk, dari membully secara langsung serta menghasut semua orang agar ikut andil. Bahkan itu ia lakukan sedari mereka duduk di bangku sekolah dasar hingga mereka duduk di sekolah menengah atas.
Puncaknya,
"M-maaf."
Kata maaf dengan mudahnya terlontar begitu saja. Tanpa memikirkan dampak yang diterima sang korban dari apa yang telah ia perbuat.
(Name) terkekeh namun terdengar mengerikan di telinga Yuki.
"Kau tadi minta dilepaskan bukan?" Tanya (Name) polos.
Melepas jambakan kalu berputar untuk melepaskan kaitan tali yang terikat kuat.
Mendadak mata Yuki berbinar. Merasa (Name) sudah memaafkan segala hal yang telah ia perbuat.
Namun perkiraannya salah. Sekon kemudian (Name) menancapkan belati pada bahu kanan Yuki dengan kasar. Membuat sang empu berteriak histeris merasakan nyeri disana.
STAB!
Lagi dan terus berulang kali (Name) melakukannya. Membuat darah segar terus mengalir dengan deras.
"Maaf kau bilang?" Netra obsidian itu menunjukkan luka yang begitu dalam.
"Kau tidak tahu rasanya menjadi aku, Yuki. Dicaci-maki, diperlakukan dengan kasar. Dipandang hina oleh semua orang. Masih banyak lagi."
"Dan bahkan kau dengan tega mendatangkan orang suruhan untuk memperkosa ku. Menyediakan kamera di setiap sudut agar dapat merekam..." cairan bening luruh begitu saja. Mengalir hingga ke dagu.
"Dan orang itu adalah dia." Tangan kiri menunjuk pada raga tak bernyawa di dekatnya.
"Itu membuatku tidak bisa melupakan hal itu. Hari di mana duniaku akan hancur berkeping-keping. Kau mana tahu rasanya menjadi aku Yuki. Yang dimana kau selalu disayang dan dibanggakan oleh anggota keluarga dan semua orang.
Aku tidak pernah merasakan hal itu. Tapi, kenapa kau begitu tega denganku?"
"Hari itu mungkin Tuhan masih ingin aku bertahan sebentar lagi, dengan mengirim seseorang untuk menyelamatkan aku dari rencana busukmu."
"Tapi, aku tegaskan sekali lagi. Aku tidak akan pernah melupakan hal itu!"
STAB!
STAB!
STAB!
(Name) menusuk dada Yuki berkali-kali, meluapkan amarah yang ia pendam selama ini.
SRAAT
Menyayat hingga perut bawah membuat terbuka lebar. Darah sudah keluar kemana-mana, membasahi tangan hingga wajah ayunya. Sedari tadi (Name) tidak diam saja atau sekedar memberi kesempatan Yuki untuk membalas segala perkataannya. Ia terus melayangkan tusukan belati pada raga Yuki hingga tak bernyawa saat ini.
STAB!
Terus ia lakukan hingga di mana ia merasa puas dan lega.
Tangan kekar menghentikan pergerakan di mana saat ia akan melayang belati pada bola mata Yuki.
Belati itu diraih lalu dilempar ke sembarang arah oleh pemuda bersurai orange.
"Hai, (Name) sadar." Karantala menangkup pipi yang saat ini ternoda dengan merah.
"Cukup oke?" Rensuke turut merasakan hal apa yang selama ini gadis jelita rasakan.
Sakit. Sangat sakit.
"Ren..." mata obsidian itu berkaca saat tersadar dan bersitatap dengan Rensuke.
Air mata mengalir deras menumpahkan segala lara yang dirasa. Bahu merosot lemah.
Rasakan hangat saat dekapan diberikan pada tubuhnya yang rapuh.
Selama ini ia selalu berjuang sendiri, disaat semua orang tak pernah menganggapnya ada.
Hingga di mana ia dipertemukan dengan Kunigami Rensuke, selaku pemuda yang menyelamatkannya dari Oliver Aiku yang saat itu hendak melakukan hal tercela padanya. Hari di mana dunianya yang akan runtuh begitu saja.
"Udah ya, (Name)?" Mengusap sayang pada bahu yang bergetar.
"Sekarang kamu ngga sendirian, ada aku bersamamu."
"Aku janji,"
"Aku janji ngga akan pernah ninggalin kamu sendirian."
End.
⌗emonn: di chapter sebelumnya padahal aku bilangnya gantian Karasu. Tapi, draft nya ilang T.T (btw genrenya 18+ 😁) Untung aku masih inget alurnya. Sekarang mau aku ketik dikit-dikit.