Tema: Terdampar di pulau terpencil
Tokoh Utama: Steven
Suasana di kapal kecil ini terasa tenang, kapal dengan kapasitas tujuh orang ini sedang menuju ke sebuah pulau kecil yang sedang menjadi perbincangan akhir-akhir ini, karena penemuan beberapa tumbuhan dan hewan yang sudah nyaris punah. Pulau yang disebut sebagai habitat asli dari para hewan-hewan ini menjadi tujuan banyak peneliti, meski pulau ini belum di buka untuk umum, beberapa orang berhasil mendapatkan izin dari pemerintah untuk mendatangi pulau ini. Tujuh orang yang berada di kapal kecil ini merupakan orang-orang yang kebetulan beruntung untuk mendatangi pulau ini.
Steven, seorang detektif yang juga sedang mengerjakan penelitian tentang tumbuhan-tumbuhan langka yang bisa di ubah menjadi racun. Resti, seorang dokter jenius yang ingin meneliti lebih jauh hewan-hewan dan alam di pulau ini, Resti datang bersama temannya Rara, yang merupakan seorang detektif penggila misteri yang hanya mengikuti Resti karena paksaan. Eris, murid SMA yang beruntung karena dapat izin untuk melakukan penelitiannya di pulau ini. Tiara, seorang ilmuan yang juga datang dengan tujuan penelitian, lalu dua lainnya adalah Dadang, sang nahkoda, dan Paijo sang teknisi kapal.
Mereka sampai di pulau terpencil itu tepat di pukul 10.00 waktu setempat, mereka turun dari kapal, lalu langsung melakukan tujuan mereka, ketujuh orang itu berpencar, dengan janji pada sang nahkoda untuk kembali berkumpul pada pukul 13.00.
Steven melakukan penelitiannya dengan santai, ia bahkan sampai tidak sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih, saat ia akhirnya menyadarinya, ia langsung berlari kembali ke tempat kapal mereka tertambat, ia tidak mau ditinggalkan di pulau mengerikan ini sendirian. Namun, yang menyambutnya di kamal itu bukanlah para penumpang kapal lainnya, melainkan tubuh tak bernyawa sang nahkoda kapal yang tergantung di sisi kapal.
“Apa yang terjadi?”
Steven menoleh, di belakangnya dua orang wanita menatap tubuh sang nahkoda dengan tatapan horor.
“Dia bunuh diri?” suara sang teknisi kapal terdengar dari sisi kanan Steven, membuat Steven kembali berbalik.
Rara berlari melewati Steven, di susul oleh Resti, lalu setelahnya baru Steven berlari menyusul keduanya, mereka menarik tubuh Dadang, kemudian membaringkannya di kapal.
“Dia mati tercekik, tapi dia bukan mati tergantung.” Resti berucap setelah mengecek jasad sang kapten.
“Dia tercekik?” tanya Steven.
Resti hanya mengangguk, ia kembali mengecek tubuh Dadang, sementara itu, Rara dan Steven mulai mengecek kapal, mencari apa pun yang mungkin bisa dijadikan bukti.
“Orang ini sudah mati sejak satu sampai dua jam yang lalu, kakinya berkerut, artinya kakinya berada dalam air dalam waktu yang lama setelah kematiannya, kesimpulannya, seseorang membunuhnya satu atau dua jam setelah kita berpencar.” Jelas Resti.
Rara dan Steven menghentikan langkah mereka. “Di pulau ini hanya ada kita, artinya pembunuhnya adalah salah satu dari kita,” ucap keduanya kompak.
Resti mengendikan bahunya. “Itu tugas kalian untuk menyelidikinya, aku tidak ikut-ikutan.”
Steven melirik Rara. “Kau juga seorang detektif?”
Rara berkacang pinggang. “Iya, kenapa? Ada masalah?”
Steven menggeleng pelan. “Kau terlihat seperti anak smp,” ucapnya pelan.
Rara melotot tak santai. “Maksudmu aku pendek, begitu?”
Steven mengerutkan keningnya. “Hei, aku ini sedang memujimu.”
“Apa yang terjadi di sini?” dua orang lainnya akhirnya kembali.
