Tema: Terjebak di rumah kosong bersama pembunuh di tengah badai
Tokoh Utama: Key
Seorang perempuan mengela napasnya, dia sedang bersembunyi di balik semak-semak hijau. Sembari membidikkan sebuah pistol berisi vaksin kepada seorang makhluk dengan tinggi lebih dari dua meter, tubuh penuh otot, wajah berurat, serta kuku yang panjang; seorang mutan.
"Tenangkan dirimu, Key," ucap Riq yang berada di sebelah Key, setelah melihat tangan Key yang gemetar di pelatuk pistol.
Setelah mengumpulkan sepucuk keberanian di dalam dirinya, Key menarik pelatuk pistol tersebut. Suara tembakan yang besar terdengar. Alih-alih tumbang, mutan itu malah berbalik ke arah mereka, dengan wajah yang sangat marah. Kemudian berlari dengan sangat kencang dan ganas ke arah mereka.
Key tidak mengenai sasarannya.
"Oh, tidak, Key!" Riq dengan cepat mengeluarkan senjata apinya, menembakkannya ke arah mutan tersebut tepat di tubuhnya.
Dalam sekejap, langkah mutan tersebut terhenti. Seolah tubuhnya mendadak kaku, dan seluruh uratnya yang terlihat dari luar berkedut-kedut, mutan itu terbaring. Key dan Riq mendekatinya dengan mata yang berbinar penuh harapan.
Tubuh mutan tersebut terbaring kaku, kemudian seolah melemas dan kehilangan seluruh tenaganya. Key dan Riq semakin mendekatinya, hingga hanya tersisa jarak berapa langkah antara mereka dengan mutan itu.
"Apakah kita berhasil? Vaksinnya berhasil?" tanya Key.
"Entahlah, kita harus menunggu." Riq memperhatikan tubuh mutan itu yang seperti seorang monster yang sedang tidur.
Hingga tiba-tiba, mutan tersebut bangkit, meronta-ronta ke segala arah, seolah sedang menahan rasa sakit yang tidak tertahankan, matanya mengeluarkan tangis, dan jeritannya yang besar seolah-olah sedang mengeluarkan seluruh sisa suaranya yang ada. Burung-burung di hutan tersebut terbang melarikan diri.
Kemudian, mutan tersebut terbaring. Mati.
"Aku gagal lagi, "ucap Key.
Riq menepuk pundak Key yang tengah berlinang air mata. "Bukan kamu, kita, kita gagal lagi, Key."
"Kalian harus pulang ke markas, sekarang juga." Tiba-tiba suara terdengar dari sebuah telepon di dalam kantong mereka.
"Nina? ada apa?!" tanya Riq.
"Radarku menunjukkan kalau sekelompok mutan bergerak dengan cepat ke arah kalian. Lari, sekarang juga!"
"Riq, Key," ucap Nina, "Aldo telah menemukan kita."
Key dan Riq segera berlari menggunakan terowongan bawah tanah yang telah mereka siapkan. Menuju markas, yaitu sebuah rumah di tengah antah berantah yang menjadi pusat penelitian mereka. Sekaligus pusat yang mengawali ini semua.
Di perjalanan pulang, Key teringat Profesor Kokom. Pemilik pusat penelitian tersebut. Empat tahun yang lalu, Key, Riq, dan Nina diangkat untuk magang bersama Profesor Kokom, seorang dokter yang terkenal dengan keahliannya di dunia medis. Peneliti yang berhasil memanipulasi sel regeneratif di dalam diri seorang manusia. Pada masa itu, hampir 90% penyakit dapat sembuh sendiri tanpa bantuan obat ataupun perawatan dokter.
Hingga empat tahun yang lalu, obsesi Profesor Kokom dengan asistennya, Paijo untuk melakukan revolusi pada tubuh manusia memunculkan kehadiran para manusia yang termodifikasi secara ekstrim, yaitu mutan. Dengan tingkat sensitivitas indera, tenaga, serta agresivitas yang meningkat tiga kali lipat.
Manusia pertama yang terpapar dengan virus mutan adalah seorang pemuda bernama Aldo. Yang kini tengah memburu Key. Saat itu Aldo mengamuk karena kesakitan di laboratorium membuat ledakkan radiasi, yang menyebabkan hampir seluruh bagian benua asia, serta beberapa tempat di benua eropa, terpapar radiasi mutan.
