9. The Killer and the Sinner

176 10 195
                                        

Tema: Terjebak di rumah kosong bersama pembunuh di tengah badai
Tokoh Utama: Nina

Act I: Foreboding

BISA-BISANYA dia pengin merayakan ulang tahun di rumah kosong.

Aku tengah fokus menggambar idol favorit temanku yang hari ini merayakan 17 tahun dirinya menginjakkan kaki di dunia. Kupusatkan perhatianku sepenuhnya pada buku gambar supaya mendapatkan hasil yang maksimal, sampai aku tidak sengaja mendengar ajakannya yang sungguh ... sableng.

Jelas aku dan ketiga temanku lainnya tidak bisa berkata-kata. Normalnya, orang-orang merayakan ulang tahun mereka di tempat-tempat publik seperti restoran dan kafe, jika bukan di rumah sendiri. Bukannya di bangunan yang sudah ditinggalkan pemiliknya entah berapa puluh tahun lamanya.

"Riq," Salah satu temanku, Andrew, menepuk pundak pemuda yang berulang tahun itu. Air mukanya yang biasanya tenang, tampak khawatir, "sableng itu memang jalan ninja kita, tapi enggak sampai gitu juga, sih, sablengnya."

Tepat sekali.

"Heh!" sergah Riq sewot. "Hari ini, 'kan, ultahku, jadi terserahku, dong. Lagian kalian enggak ngasih apa-apa juga, jadi anggap aja itu cara kalian ngasih kado buat aku."

"Eits! Siapa bilang aku enggak ngasih kado? Nih." Aku langsung menyodorkan kertas berisi gambar yang baru saja kuselesaikan. Gambar idol dari grup K-Pop favorit Riq, BABYMONSTER. Lihat, wajahnya langsung mencerah begitu melihat wajah biasnya.

"Anjayyy! Makasih, loh, Niina. Gambarmu memang selalu mantap. Semoga samawa sama husbu-mu," ucap Riq tersenyum lebar.

Kuaminkan saja doanya yang tidak mungkin terwujud itu. "Nah, berarti aku boleh skip, ya. Aku ada urusan pulang nanti."

Riq yang sibuk memandangi gambarku langsung menoleh. "Loh, enggak boleh gitu, dong! Kita berlima, 'kan, sahabat. Berarti semua mesti kompak join, enggak boleh ada yang enggak. Betul apa bener, guys?"

"Hah? Kamu siapa emangnya? Sejak kapan kita sahabatan?" Eris menelengkan kepalanya dengan ekspresi polos yang dibuat-buat.

"Astaghfirullah. Silau sekali dosamu, Ris."

Kami lantas tertawa terbahak-bahak. Aku mengusap sudut mataku yang agak berair dan mengatur napasku yang habis karena ngakak. Eris memang tidak pernah gagal dengan timing-nya.

"Memangnya, ada apa di rumah kosong itu, sampai kamu segitu penginnya kita bareng-bareng ke sana?" tanya Tiara setelah sedari tadi diam.

Setelah menengok-nengok sekitar, Riq mengibaskan tangannya, mengisyaratkan kami untuk mendekat ke arahnya. "Aku sempat dengar dari rumpian tetanggaku kalau di salah satu ruangan di rumah kosong itu, ada tersembunyi harta peninggalan pemilik lama rumah itu, yang jumlahnya banyaaak banget-"

"Riq, kamu yakin enggak lagi kesurupan apa gitu? Masa gosip yang belom jelas kebenarannya kamu percaya gitu aja?" sela Andrew terheran-heran. Wah, kesablengan Riq kali ini sampai membuat Andrew yang biasanya kalem jadi lebih banyak bersuara.

"Ya makanya aku pengin buktiin langsung dengan telusurin ke sana!" kelit Riq memutar bola matanya. "Dan bakal lebih bagus kalau lebih banyak orang, biar lingkup pencariannya lebih luas."

Aku membuang napas. "Riq, beneran enggak bisa diganti yang lain aja? Jujur, firasatku jelek banget tentang rumah itu."

Aku tidak berbohong sama sekali. Dari sejak mendengar ajakan Riq, aku tidak dapat menghempas perasaan aneh yang terus merajalela dalam dadaku. Aku tidak dapat menjelaskannya, tapi sesuatu dalam hatiku seakan ingin berkata bahwa rumah itu akan mendatangkan malapetaka bagiku dan yang lain.

FLC MultiverseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang