✨ Happy Reading ✨
Sudah larut malam, lelaki itu hanya bisa berguling-guling gelisah diatas tempat tidurnya. Baru kali ini dia sulit berinteraksi dengan seorang gadis, sangat membuatnya amat tak nyaman. Yang terngiang-ngiang dalam ingatannya hanya senyuman gadis itu di siang hari pada waktu dirinya tengah berolahraga di atas lapangan. Sebelumnya, dirinya melihat langkah ragu-ragu gadis itu datang sendirian ke sekolah dengan mengikuti salah satu guru yang ia tahu bernama Pak Adi menuju ke ruangan Wakasek di samping lapangan tempatnya dia berolahraga saat itu. Tak disangka gadis itu datang kembali ke sekolah namun tak sendiri melainkan dengan rekan-rekannya yang lain. Bukankah itu takdir? Pikirnya saat itu.
Kantuk pun masih belum menghinggapi lelaki itu, matanya masih saja terbuka dengan pikiran-pikiran rancu dalam kepalanya saat ini. Tidak biasanya dia seperti ini, apalagi hanya karena senyuman seorang gadis. 'Beraninya hal sederhana itu mengganggu kehidupan ku seperti ini' makinya dalam hati, ia menggeram tertahan dengan bantal yang ditumpuk diatas wajahnya. Pada akhirnya dia memutuskan untuk membuka ponselnya dan bermain game untuk mendatangkan rasa kantuknya. Seiring berjalannya waktu sayup-sayup matanya mulai memberat, tentunya karena ini sudah lebih dari tengah malam dia terjaga tanpa rasa kantuk. Ia pun mematikan ponselnya dan menaruhnya di samping kiri kasurnya dekat dengan tembok berwarna putih itu.
Lelaki itu menarik selimut berwarna putih dengan beberapa corak bunga kecil-kecil berwarna biru tosca itu dan meraih gulingnya guna menyamankan rasa kantuk yang mulai muncul. Tak lama dia pun tertidur dalam kesendirian dan di temani dengan keheningan malam. Senantiasa seperti itu, lelaki itu hanya mendekap dirinya sendiri tanpa tahu apa yang seharusnya dia perbuat. Luka dan trauma masa kecilnya masih menjadi dendam yang tak pernah surut dalam dirinya, dia membencinya seumur hidupnya. Sejauh ini dia terlihat tumbuh dengan baik namun nyatanya dia tumbuh bersama dengan egonya. Tak banyak orang tahu mengenai dirinya secara utuh, dia hanya memperlihatkan dirinya yang benar-benar baik dibaluti dengan keangkuhannya dan juga materi yang ia terima.
Hari libur seperti ini tentunya bukan hari yang luang untuk Reen sekedar menarik nafas ataupun leha-leha berdiam diri di rumah. Nyatanya banyak sekali kegiatan yang mesti ia selesaikan salah satunya merekap nilai anak-anak miliknya beserta merekap nilai milik Ibu Rani (Kakak dari Ibun Reen yang selalu di panggil Ibu oleh keluarga). Saat ini dirinya tengah tinggal dengan Ibu Rani, dikarenakan Ibun Reen tengah bekerja dan dia dititipkan kepada Ibu Rani selama dirinya berkuliah. Banyak hal sebenarnya yang membuatnya tak merasa nyaman selama dirinya tinggal di rumah ini, bukan karena apa, dirinya senantiasa merasa canggung dengan keluarga Ibu Rani. Selain itu pekerjaan yang semestinya bukan tanggung jawab Reen dilimpahkan juga kepadanya tanpa bertanya apakah Reen sedang sibuk ataupun tidak. Sulit sekali, namun harus bagaimana lagi.
Setelah mengerjakan pekerjaan rumah seperti halnya menyapu, mengepel lantai, mencuci baju, dan mencuci piring. Reen melanjutkan pekerjaan lainnya yaitu membantu Ibu Rani untuk merekap nilai dan lain sebaginya. Mungkin terbilang biasa, hal-hal seperti itu memang lumrah jika kita tinggal bersama saudara. Balas budi. Begitulah kiranya sebutan yang tepat untuk menggambarkan keadaan Reen saat ini, bukankah hebat topeng yang selama ini dia gunakan dihadapan orang lain bahkan teman-teman dekatnya. Semuanya tidak tahu rasa sakit yang ia rasakan. Sebetulnya untuk pekerjaan Reen tak pernah merengek jika lelah namun saat perkataan atau perbuatan yang tidak dapat diterima oleh hatinya selalu ia simpan sendiri.
"Reen jangan lupa rekapan nilai dan absen nanti kirimkan ke kurikulum" perintah Ibu Rani pada saat itu yang tengah memainkan ponselnya.
"Baik Buu" ucap Reen sembari membuka laptop hitam miliknya dan langsung saja mengerjakan apa yang tengah Ibu Rani perintahkan untuknya.
Usai sudah pekerjaannya Reen langsung saja menyerahkan berkas itu kepada kurikulum dengan menggunakan email yang sudah Reen hapal betul. Bagaimana tidak hapal yang jelas seluruh pekerjaan sekolah sebagian besar dikerjakan olehnya dan Ibu Rani hanya menikmati hasil pekerjaan darinya. Mengapa Reen tidak mengadu ke Ibun nya saja? Tentu saja Reen tidak mau ada perdebatan antara Ibun nya dengan kakaknya sendiri, apalagi itu menyangkut dirinya, buakankah itu tidak baik. Biarkan rasa sakit itu ia tanggung sendiri, lagi pun Reen sudah terlalu lelah dengan hidupnya saat ini. Bahkan tak ada yang membuatnya tergugah, bukankah hal aneh? Reen yang di luar seperti gadis tanpa masalah yang selalu merentangkan tangannya untuk mendekap siapun saat ada masalah, namun nyatanya dirinya yang membutuhkan dekapan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gewoon Begeleiden
RomanceIkhlas? Kata yang sering terucap oleh seseorang yang senantiasa mendapatkan kepahitan dalam hidup. Ikhlas seperti apa yang sebenarnya terjadi? Yang jelas itu adalah sebuah mantra kebohongan dan pengobatan untuk diri sendiri. Apa jadinya jika selama...
