Salah Alamat

382 13 2
                                    

Sitha memandangi dirinya di depan cermin tegak di kamarnya. Ia mengenakan dress pendek berwarna krem dengan motif bunga-bunga yang mengekspos setengah pahanya. Rambut panjangnya sengaja Ia gerai lurus. Sling bag mini berwarna coklat senada menambah kesan girly membuat kepercayaan dirinya naik hari ini.

Sitha berjalan keluar menghampiri pesanan ojol-nya yang sudah tiba. Ia memastikan alamat yang Ia tuju pada supir sebelum mobil berjalan. Sitha memandang keluar jendela sambil tersenyum tipis. Dimas pasti terkejut, pikirnya.

Sekitar tiga puluh menit perjalanan, Sitha akhirnya sampai pada sebuah kawasan apartement yang menurutnya tidak biasa. Sitha terkesima dengan pemandangan yang Ia lihat saat ini. Dia tak tahu Dimas tinggal di komplek apartement elit. Sekali pasang umpan, Ia bisa dapat banyak keuntungan.

Sitha mengecek ponselnya untuk memastikan nomor unit sebelum Ia naik. Ia memasuki lift dan menekan tombol lantai 20. Memastikan dandanannya terakhir kali. Kalau gak bisa pakai cara halus, kita pakai cara yang pasti ampuh.

Sitha keluar lift dan berjalan menuju unit 2006. Ia memencet bell dengan percaya diri. Kalau gini, Dimas pasti gak bisa nolak kedatangan gue, pikirnya dalam hati.

Ceklek.

Pintu terbuka pelan. Sebuah kepala keluar mengintip. Sitha kaget ternyata sosok itu bukan orang yang Ia cari.

"Cari siapa ya?" tanya suara kepala tersebut.

"Nggg.... Sorry, kayanya gue salah alamat" ucap Sitha menggigit bibir sambil mengecek ponselnya. "Tapi unit 2006, penghuninya atas nama Dimas bukan?" tanya Sitha memastikan.

Tak ada jawaban. Namun, pintu akhirnya terbuka lebar. Seorang pria tinggi berdiri mengenakan celana pendek dan kaos oblong. Ia menatap Sitha dari bawah ke atas sebelum akhirnya menjawab, "Bener kok". Sitha menghela napas lega. Hampir saja Ia malu karena salah alamat.

"Tapi Dimasnya gak tinggal disini" ucap pria bernama Albert masih memperhatikan Sitha.

"Hah?" Sitha tak paham dengan maksud ucapan Albert.

"Gue Albert, sepupu Dimas" sapanya ramah sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Sitha dengan ragu menyambut jabatan tangan Albert sambil tersenyum canggung.

"Gue sama Dimas awalnya tinggal bareng disini, tapi udah hampir setahun terakhir dia gak tinggal disini lagi" sambung Albert menjelaskan.

"Trus, dia tinggal dimana?" tanya Sitha cepat.

Albert tak menjawab. Ia hanya diam sambil tersenyum. Jadi ini perempuan yang diceritain Dimas kemarin, pikirnya.

Flashback

"Nih" ucap Dimas sambil menyodorkan ponselnya pada Albert.

Albert meraih ponsel Dimas dan melihat riwayat pesan Sitha yang berusaha modus dengan berbagai alasan. Padahal sudah jelas Dimas mengabaikannya, tapi sepertinya Sitha tak gentar. Albert klik foto profil Sitha dan memperhatikannya dengan seksama.

"Coba gue liat IG-nya" pinta Albert pada Dimas sambil mengembalikan ponsel ke Dimas.

Dimas langsung mencari username Sitha yang Ia follow dan membuka profilnya. Albert melihat foto-foto difeed Sitha satu persatu. Ia tersenyum, "Ini selera gue banget, nih" celetuk Albert pada Dimas.

"Kalo bisa gue kasih, gue kasih dah ke lo" jawab Dimas mendengus.

"Tapi dia maunya lo" tukas Albert melirik Dimas sambil tersenyum miring. "Gue liat sih, dia bakal pake keahliannya godain lo, kali aja lo selera". Dimas diam tak menjawab.

"Gue jamin dia bakal kasih apapun yang lo minta" sambung Albert kemudian. "Kalo lo berani, gas aja. Kapan lagi bisa ngerasain dua sekaligus" Albert tertawa lepas.

"Gila lo. Gue sih gak munafik beberapa kali kepancing sama tingkahnya. Tapi Cindy masih gada duanya buat gue" kata Dimas mencoba menahan godaan.

"Kalo gitu, kenapa gak lo suruh Cindy aja turun tangan?"

"Maksud lo?" tanya Dimas bingung.

"Gue yakin ditangan Cindy tu cewek bakal selesai"

***

Dimas berjalan masuk ke gedung apartement milik Cindy. Ia membawa tentangan berisi makanan yang dibawakan oleh ibunya khusus untuk Cindy. Dimas berjalan memasuki lift untuk naik ke lantai 19. Setelahnya Ia mencari unit tujuan bernomor 1907. Gelap.

Dimas berjalan menghidupkan lampu. Kemana Cindy? Kenapa dia gak kasih kabar kalau mau keluar? Dimas mengecek ponselnya memastikan Ia melewatkan pesan dari Cindy. Nihil. Dimas melakukan panggilan pada nomor Cindy.

Drrrtttt....Drrrttt...

Dimas menoleh pada meja belajarnya. Ponsel Cindy bergetar disana. Lah, orangnya kemana? pikir Dimas penasaran. 

Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi terbuka yang reflek membuat Dimas menoleh. Ia ternganga dengan apa yang Ia lihat barusan. Cindy mengenakan lingerie.

 Cindy mengenakan lingerie

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 25, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

My Dirty Boyfriend 2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang