Keesokan harinya, Rolan bangun dengan perasaan sedikit cemas. Kenangan tentang kejadian-kejadian aneh kemarin masih segar di benaknya. Setelah bersiap-siap untuk sekolah, dia turun ke ruang tamu dan melihat televisi menyala, menampilkan berita pagi.
"Breaking News: Kecelakaan Maut di Jalan Raya. Tiga Orang Tewas Seketika."
Jantung Rolan berdegup kencang saat dia mendengar kata-kata itu. Dia mendekat ke televisi dan melihat gambar-gambar dari lokasi kecelakaan. Sebuah mobil rusak parah dan beberapa barang berserakan di jalan. Dia merasakan sakit di kepalanya lagi, dan gambaran-gambaran dari kejadian kemarin muncul di benaknya.
Berita tersebut menampilkan identitas korban dan beberapa barang pribadi mereka. Rolan mengenali barang-barang itu—tas yang dibawa oleh wanita paruh baya yang ia selamatkan, sepeda pengendara yang ia peringatkan, dan bola yang dimainkan oleh anak kecil yang ia tarik dari jalan. Dia merasa mual saat menyadari bahwa mereka adalah orang-orang yang ia temui dan selamatkan kemarin.
Rolan duduk terpaku, tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana mungkin mereka bisa meninggal setelah dia menyelamatkan mereka? Pikiran ini membuat kepalanya semakin pusing. Dia merasa sangat bersalah meskipun tahu bahwa dia telah melakukan yang terbaik.
Di sekolah, Rolan tidak bisa fokus. Dia merasa hampa, seolah-olah dunia di sekitarnya berputar tanpa dia. Saat pelajaran berlangsung, dia hanya duduk diam, pikirannya terjebak pada kejadian kemarin dan berita yang baru saja dia dengar.
Saat istirahat, Saragas dan Jorell mendekatinya. Mereka menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan Rolan.
"Lan, lo kenapa? Mukanya pucat banget," tanya Saragas dengan nada khawatir.
Rolan menatap mereka dengan mata kosong. Rolan menggeleng, masih merasa bersalah. "Gue gapapa kok, ga..rell."
Mereka bertiga terdiam, mencoba memahami situasi yang aneh dan tragis ini. Meskipun Saragas dan Jorell mencoba menghibur, Rolan tetap merasa ada yang salah. Kemampuannya untuk melihat kejadian sebelum terjadi seharusnya bisa menyelamatkan mereka. Tapi kenyataannya, mereka tetap meninggal.
Hari itu berlalu dengan lambat dan penuh dengan kebingungan. Rolan tahu dia harus mencari jawaban, tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana. Yang pasti, rasa sakit di kepalanya adalah tanda, dan dia harus belajar memahami dan mengendalikannya sebelum lebih banyak orang yang terluka atau bahkan kehilangan nyawa.
Mulai dari jam pertama di kelas, Rolan tampak tidak ingin diganggu oleh siapapun. Ia duduk dengan wajah murung, tenggelam dalam pikirannya sendiri. Saat istirahat pertama, dia tetap di tempatnya, tidak berbicara dengan siapa pun. Bahkan hingga istirahat kedua, Rolan masih menunjukkan sikap yang sama. Dia terlihat berbicara sendiri beberapa kali, membuat teman-temannya khawatir dan penasaran.
Omongan mengenai Rolan yang aneh sudah menyebar. Banyak yang membicarakannya, termasuk para kakak tingkat. Selen, yang lebih suka memperhatikan Rolan, berkata dengan nada sinis, "Udah gue bilang, itu bocah emang rada aneh."
Heli, yang mendengar percakapan itu, mencoba membela Rolan. "Gue gak percaya sih. Mungkin dia lagi ada masalah atau sesuatu yang bikin dia kepikiran dan kemana-mana sendirian kan?"
Suasana semakin sumpek, mengingat Akademik mereka akan mengadakan Acara Olahraga yang seharusnya menjadi acara paling ditunggu.
Pada siang hari, Heli memutuskan untuk mencari tahu lebih lanjut tentang keadaan Rolan. Dia menemui Jorell dan Saragas yang sedang duduk di kantin.
"Hey, lo berdua ada waktu sebentar?" tanya Heli, langsung menuju ke inti permasalahan. "Gue mau nanya soal Rolan. Kalian tahu gak kenapa dia aneh banget hari ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kematian [ SELESAI ]
HorrorRolan adalah seorang individu yang dilahirkan dengan kekuatan luar biasa yang melebihi batas manusia biasa. Sejak usia muda, dia menyadari bahwa dia memiliki kemampuan unik untuk berinteraksi dengan makhluk gaib dan melihat kejadian masa depan, teru...
![Mata Kematian [ SELESAI ]](https://img.wattpad.com/cover/369675669-64-k667317.jpg)